Sabtu, 07 November 2020

Raja Kucing

 

Semua orang sudah tentu mengenal binatang kucing. Hewan berkaki empat, berbulu indah, menggemaskan dan jinak. Banyak orang yang menyukai lalu memeliharanya dirumah. Konon pada zaman dahulu, kucing sama halnya dengan binatang lain yang hidup liar dihutan. Manusia lalu memeliharanya dirumah. Terbiasa hidup bersama menjadikan kucing jinak dan bergantung pada manusia. Keturunan kucing inilah yang ada disekitar kita hingga saat ini.

Apa untungnya memelihara kucing?

Sebagian orang memelihara kucing dengan tujuan untuk mengusir/membasmi  tikus dirumahnya. Karena kucing memakan tikus. Ini mungkin hanya berlaku untuk jenis kucing kampung saja. Aku sendiri memelihara sekitar 12 ekor kucing kampung. Diantara kucing-kucing itu, tak ada satupun yang gemar memakan tikus. Saat suara-suara tikus muncul malam hari, mereka cuek dan sibuk dengan urusannya sendiri. Ada pula yang malah lelap dalam tidurnya. Mungkin karena sudah terbiasa memakan nasi dan ikan yang sudah dimasak. Lalu bagaimana dengan jenis kucing “ras”? Tentu tidak jauh berbeda. Kucing ras malah harus dibelikan makanan khusus. Bukan nasi atau tikus.

 

Jadi, orang zaman sekarang memelihara kucing bukan karena memanfaatkannya untuk mengusir tikus. Tampang kucing yang memelas membuat orang kasihan. Warna bulunya imut dan menggemaskan, serta prilakunya yang lucu adalah alasan utamanya. Melihat tingkah laku kucing yang lucu dapat menimbulkan “rasa senang dan kepuasan” bagi pemeliharanya.  Rasa gembira tak bisa dinilai dengan harga berapapun. Orang bahkan rela mengeluarkan biaya demi kesenangan itu. Maka disinilah letak keuntungan memelihara kucing. Bukankah setiap orang butuh hiburan dan hobby untuk melengkapi hidup?

********’

Zaman dahulu dikampung kami hiduplah sepasang suami istri. Mereka tinggal pada sebuah gubuk di kebunnya yang tidak begitu jauh dari kampung. Kehidupan sehari-harinya hanya sebagai petani sebagaimana orang lain. Pasangan ini tidak dikaruniai keturunan hingga memasuki masa tua. Mereka hidup bahagia dengan caranya sendiri, walaupun sering merasakan kesepian. Meskipun tinggal di kebun, mereka masih memiliki kerabat yang berada diperkampungan. Hampir semua warga mengenal pasangan suami istri ini. Orang-orang kampung biasanya memanggil dengan sebutan kakek-nenek.

 

Seiring berjalannya waktu, suatu ketika sang istri mengalami sakit hingga meninggal dunia. Pada zaman itu belum ada kuburan umum. Apabila ada orang meninggal, biasanya akan dikuburkan pada tanah milik keluarganya sendiri. Oleh karena itu tidak heran kalau kita melihat ada kuburan di depan, disamping, atau dibelakang rumah seseorang. Begitu pula dengan sang istri yang sudah meninggal dunia. Sesuai amanat dari sang istri ia pun dikuburkan tidak jauh dari gubuk.

 

Setelah kepergian istrinya, kakek merasa sangat kesepian hingga sering mengalami sakit. Merasa kasihan, para kerabat mengajaknya untuk tinggal diperkampungan. Akan tetapi kakek tidak mau. Ia tetap bersikeras tinggal di gubuknya yang ada dikebun walaupun sendirian. Akibatnya Kakek seperti orang kehilangan semangat. Hampir tiap hari ia mengunjungi makam istrinya yang tidak jauh dari gubuk. Walau pun demikian, kakek tetap menyibukkan diri dalam pekerjaan untuk melanjutkan hidup. Cukup lama  keadaan itu berlangsung.

 

Pada suatu pagi di hari keempat puluh sejak kematian istrinya, kakek secara khusus berziarah kemakam untuk mendoakan dan membersihkan dari rumput-rumput liar. Ketika sedang khusuk berdoa ia dikejutkan oleh kedatangan seekor anak kucing jantan berwarna putih. Kucing tersebut terlihat sangat kurus. Hingga membuat kakek prihatin dibuatnya. Perkiraan kakek, kucing itu asalnya dari kampung karena jaraknya tidak begitu jauh. Sebelumnya gubuk kakek memang sering kedatangan kucing peliharaan orang kampung yang kesasar. Biasanya tidak lama. Kucing itu akan kembali pada pemiliknya. Akan tetapi, anak kucing yang mendatangi kakek dikuburan hari itu berbeda. Lebih jinak. Ia terus mengegesek-gesekkan badan pada kaki kakek seakan minta diberi makan. Ketika kakek kembali kegubuk, kucing kecil ini mengikutinya sambil terus mengeong.

 

Merasa kasihan,maka setibanya digubuk kakek memberi makanan seadanya berupa nasi dicampur dengan ikan. Kucing kecil yang kelaparan ini makan dengan lahapnya. Setelah memberi makan kucing kakek lalu meninggalkannya bekerja disawah. Kucing yang masih makan dibiarkannya digubuk begitu saja. Kakek mengira jika sudah kenyang kucing itu akan pulang kekampung untuk kembali pada pemiliknya.

 

Pada sore harinya kakek yang pulang dari sawah terheran-heran melihat kucing yang diberi makan tadi pagi masih berada digubuk. Kucing kecil itu seakan menunggu kakek didepan pintu. Terpikir didalam hati untuk mengembalikan pada pemiliknya. Maka selesai makan dan mandi sore harinya kakek yang berkunjung ke kampung membawa serta kucing itu. Setibanya dikampung, kakek mencari pemilik kucing itu. Akan tetapi, tak seorang pun mengaku sebagai pemiliknya. Sebelum pulang kakek melepaskan kucing kecil tersebut begitu saja dikampung. Ia tak berniat sama sekali untuk memeliharanya. Setelah itu kakek lalu meninggalkanya kembali kegubuk.

 

Keesokan paginya ketika kakek membuka pintu gubuk ia dikejutkan oleh kucing kecil yang kemarin dilepaskannya dikampung. Ia keheranan bagaimana mungkin kucing itu bisa kembali kegubuknya. Apa mungkin ada seseorang yang sengaja mengantarkannya? Merasa kasihan, kakek pun memantapkan niat untuk memeliharanya mulai saat itu. Kucing itu lalu diberi makan apa adanya seperti kemarin.

 

Sejak memelihara anak kucing itu kakek seakan mendapat semangat baru. Ia memiliki kesibukan baru selain pekerjaan rutinnya dikebun maupun disawah.  Tiap hari kakek harus mencari ikan untuk memberi makan kucingnya.  Beberapa bulan kemudian anak kucing yang dulunya kurus kini tumbuh menjadi seekor kucing jantan warna putih yang bersih dan gemuk. Kucing putih ini begitu penurut dan seakan mengerti ucapan kakek. Sesuai warna bulunya kucing jantan ini lalu diberi nama “si Putih”. Kemana saja kakek pergi ia mengikutinya. Tingkahnya yang lucu dan menggemaskan menjadikan kakek sangat menyayanginya bagai anak sendiri. Mendapat teman baru perlahan rasa kesepian kakek selama ini mulai terobati.

 

Untuk melengkapi kucingnya, maka suatu hari kakek sengaja berkunjung kekampung untuk mencarikan pasangan bagi si putih. Tidak sulit, beberapa tetangga justru menawarkan kucing betina milik mereka pada kakek. Tinggal memilih saja. Setelah mempertimbangkan warnanya maka kakek memutuskan memilih seekor kucing betina warna hitam putih yang memiliki umur perkiraan hampir sama dengan si putih. Dibawalah kucing itu ke gubuknya dikebun untuk dipelihara dan diberi nama “warni”. Kucing itu seakan mendapat sambutan hangat dari siputih yang memang sudah waktunya memiliki pasangan. Sepasang kucing itu sama jinaknya sehingga melengkapi kebahagiaan kakek.

 

Setelah lebih dari setahun lamanya dipelihara, kucing kakek pun melahirkan untuk pertama kalinya. Ada total empat ekor anakan baru dari pasangan si putih dan warni. Tiga ekor betina warna putih dan satu ekor warna orange jantan. Kucing kakek terus berkembang biak hingga mencapai puluhan ekor. Kucing-kucing itu dipelihara dengan baik penuh kasih sayang. Saking sayangnya, kakek sampai rela mengurangi makan pribadinya demi kucingnya dapat makan dengan kenyang.

 

Kurang lebih lima tahun lamanya memelihara kucing, total kucing kakek mencapai 40 ekor dengan berbagai warna berbeda. Karena kasihan kakek lalu membuatkan sebuah gubuk baru untuk kucing berteduh dan tidur. Pada malam hari biasanya kucing-kucing itu hanya berkeliaran pada hutan disekitar gubuk. Kucing kakek hanya berkeliaran disekitar tempat itu saja. Tak satu ekor pun sampai kesasar dikampung karena kakek memberi mereka makan dengan cukup. Betapa bahagianya hati kakek memiliki banyak peliharaan yang jinak. Setiap hari berangkat ketempat kerja beberapa kucing dewasa selalu menemaninya. Kakek seperti melupakan semua kesedihan yang pernah dialaminya.

 

Waktu terus berjalan seperti biasa. Pada suatu hari kucing betina pertama kakek yang diberi nama “warni” melahirkan 2 ekor anak. Ada keanehan dalam kelahiran kala itu. Diantara dua ekor anakan ada seekor yang merupakan kucing jantan belang tiga dan memiliki tanduk. Melihat keanehan itu kakek menaruh perhatian khusus pada kucing tersebut. Kucing itu lalu diberi nama “Rungau”. Saat usianya sudah memasuki bisa bermain Rungau ditinggal mati oleh ibunya yang sudah tua. Yang aneh lagi, sejak kematian ibunya kucing-kucing jantan dewasa yang lain seakan selalu memusuhi Rungau. Beberapa kali bahkan ada yang mencoba membunuhnya. Akibatnya kucing belang tiga itu hanya bisa bermain dengan anak kucing betina. Maka demi keamanan, kakek selalu membawa anak kucing itu kemanapun pergi, termasuk ketika berkunjung kekampung.

 

Suatu hari kakek berkunjung kerumah kerabatnya dikampung. Orang-orang menjadi heran dengan kucing belang tiga yang dibawa kakek. Selama ini belum pernah ada seekor kucing jantan belang tiga. Hanya kucing betina yang memiliki bulu tiga warna. Apalagi kucing kakek memiliki dua buah tanduk kecil dikepalanya. Mirip tanduk kambing yang tidak bercabang. Sungguh aneh. Beberapa orang memperkirakan kucing tersebut merupakan raja kucing.

 

Berita mengenai kakek memiliki kucing aneh tersebar kemana-mana. Akibatnya gubuk kakek setiap hari ramai dikunjungi orang. Dari warga setempat sampai warga kampung luar yang penasaran datang demi melihat keanehan kucing kakek. Orang-orang yang datang lebih terkagum-kagum lagi setelah mengetahui bahwa kakek ternyata banyak sekali memelihara kucing yang lain. Kucing-kucing kakek semua jinak, bersih dan terawat dengan baik. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak dikampung pun tiap hari datang kegubuk kakek hanya untuk bermain-main dengan anak kucing kakek yang imut dan lucu.

 

Kunjungan orang-orang kampung itu ternyata membawa berkah pada kakek. Selain gubuk kakek menjadi ramai, orang-orang kampung yang datang sepertinya paham dengan kondisi kakek. Diusianya yang sudah tua, kakek memang tidak sekuat dulu lagi bekerja mencari makan untuk dirinya dan kucing. Apalagi ketika itu kucing kakek sudah mencapai lebih dari 60 ekor. Mereka suka rela membawa berbagai makanan untuk kakek. Tak lupa orang-orang datang dengan membawa ikan khusus untuk kucing. Kakek merasa tertolong sekali dengan bantuan-bantuan itu. Ada juga orang yang datang lalu meminta seekor anak kucing untuk dipelihara dirumah. Kakek selalu mengizinkan jika yang diminta hanya anakan saja. Untuk yang sudah dewasa kakek tidak mengizinkannya. Bukan karena pelit, karena percuma  saja. Kucing-kucing dewasa itu biar dibawa ketempat jauh pun konon selalu pulang kegubuk kakek.

 

********’

Perkiraan orang mengenai kucing belang tiga kakek merupakan raja kucing ternyata benar adanya. dari hari kehari kucing tersebut tumbuh menjadi seekor kucing jantan belang tiga dengan tubuh paling gemuk dan lebih besar dibanding kucing jantan yang lain. Ia juga menjadi kucing paling jinak daripada kucing lain ditempat itu. Kucing yang bernama Rungau bisa dipegang oleh siapapun.

 

Ketika sudah memasuki dewasa, wibawa Rungau sebagai raja kucing benar-benar nampak. Semua kucing jantan digubuk kakek seperti menaruh hormat padanya. Tidak ada seekorpun yang berani berkelahi dengannya. Ketika ia sedang makan, tak ada seekor kucing lain yang berani mencampurinya. Mereka hanya berani makan jika raja kucing itu selesai. Kelebihan lain dari kucing tersebut menurut kakek adalah paling penurut dan bisa diperintah. Dan hanya kakek saja yang dapat menyuruhnya. Kejadian semacam ini hanya terjadi saat orang lain tidak ada ditempat itu.Selama ada orang lain kucing tersebut bersikap sama layaknya dengan kucing pada umumnya.

Pernah beberapa kali kakek menyuruh Rungau untuk memburu tikus dikebunnya pada suatu malam. Ketika diperintah, Rungau langsung mengeong dengan keras. Suaranya bahkan mirip anjing. Mendengar suara itu, seluruh kucing jantan kakek langsung berkumpul mengikuti rajanya menuju kekebun kakek. Semalam suntuk mereka berburu dikebun itu. Pada keesokan paginya kucing itu kembali kegubuk dengan membawa tikus yang sudah mati dimulutnya. Setibanya didepan kakek, tikus-tikus mati tersebut diletakkan begitu saja.

 

Selain itu, menurut kakek raja kucing itu kadang mengajak kucing-kucing lain berburu tanpa diminta. Kucing ini mampu berburu burung malam hari disawah. Kakek sering terheran-heran ketika bagun pagi kucing-kucing itu kembali kegubuk dengan membawa burung lalu diletakkan didepan pintu gubuk. Bahkan kadang binatang tupai pun mereka bawa untuk kakek. Biasanya binatang-binatang hasil buruan kucing itu dimasak oleh kakek. Sebagian untuk dimakan, yang lainnya dibagi-bagi untuk makanan kucing lain.

 

Bukan hanya kakek yang menyayangi kucing-kucing tersebut. Semua orang yang pernah berkunjung pun merasakan demikian. Mereka merasa terpanggil untuk ikut memberi makan kucing-kucing itu. Kakek tentu senang sekali. Walaupun jumlah kucingnya semakin bertambah banyak kakek sama sekali tidak kesulitan memberikan makanan.

 

Kebahagiaan itu cukup berlangsung lama hingga suatu ketika muncul wabah penyakit kucing. Kucing-kucing warga yang berada dikampung semuanya sakit dan mati. Penyakit kucing memang tidak ada obatnya. Kucing kakek yang berada dikebun pun terkena dampaknya. Satu persatu kucing kakek mati  karena sakit. Hingga wabah itu berlalu kucing kakek yang tersisa hanya 40 ekor saja termasuk si raja Kucing. Mungkin akibat terlalu sayang dengan kucing, kakek sendiri mengalami sakit setelah banyak kucingnya yang mati.

 

Dari hari-kehari sakit kakek semakin parah hingga dibawa oleh kerabatnya kerumah yang ada dikampung. Kucing-kucing peliharaan kakek rupanya tidak mau ditinggal tuannya. Mereka bersama rajanya berduyun-duyun mengikuti kerumah kerabat kakek. Akibatnya kakek merasa tidak enak dengan prilaku kucing di rumah kerabatnya itu. Walau pun sudah jinak, kucing tetaplah binatang yang memiliki insting liar. Dikampung, kucing kakek sering berburu ayam-ayam peliharaan warga. Mereka tidak mau kembali kegubuk walaupun kakek sudah menyuruhnya.

 

Merasa khawatir kucingnya dibunuh orang, kakek pun akhirnya meminta keluarganya untuk memindahkan dirinya kembali ke gubuknya walapun dalam keadaan sakit. Sebelum meninggalkan kampung, kakek berwasiat jika kelak meninggal dunia ia meminta agar dikuburkan di samping makam istrinya dekat gubuk. Setelah kakek dipindahkan, tanpa diminta kucing-kucing itupun mau mengikutinya.

 

Kurang lebih seminggu setelah kembali kegubuknya, kakek pun meninggal dunia akibat sakit yang dideritanya. Konon kakek meninggal dalam tidurnya. Kerabatnya sendiri yang mengetahui ketika berkunjung pada suatu pagi. Pagi itu menurut kerabat kakek ia menyaksikan kucing-kucing kakek tidak ada seekorpun yang berada ditanah. Semua berada didalam gubuk kakek. Mereka berbaris mengelilingi jasad kakek yang telah terbujur kaku. Tampaknya kucing-kucing tersebut mengerti jika tuannya telah meninggal dunia.

 

Berita kematian kakek menyebar hari itu juga. Para kerabat, orang-orang kampung bahkan orang-orang yang pernah berkunjung kegubuk datang melayat dan membantu pemakaman. Sesuai amanatnya maka dibuatlah sebuah lubang kubur disamping makam istri kakek didekat kebun itu.

 

Awalnya tidak ada perilaku aneh dari kucing-kucing ditempat itu. Akan tetapi, saat jenazah kakek diangkat menuju kubur kucing-kucing kakek mengikutinya. Raja kucing terus menerus mengeong sepanjang jalan. Ketika jenazah kakek dimasukkan kedalam lubang kubur, raja kucing tiba-tiba saja melompat masuk. Beberapa saat kemudian beberapa kucing dewasa ikut-ikutan masuk kedalam kubur lalu meringkuk disamping kepala kakek mengikuti rajanya. Sebuah pemandangan yang aneh dan menyedihkan. Siapa yang menyangka jika kucing juga rupanya sangat menyayangi tuannya. Mereka seakan tidak mau ditinggal tuannya.

 

Langit yang mulanya cerah berubah menjadi mendung dan gerimis. Kucing pada umumnya sangat takut dengan air. Akan tetapi kucing kakek tidak satupun meninggalkan tempat itu. Orang –orang segera turun kedalam kubur untuk membantu mengeluarkan kucing-kucing kakek supaya tidak ikut tertimbun tanah. Satu persatu kucing dewasa dapat dikeluarkan dan dijauhkan dari tempat itu. Namun tidak dengan “Rungau si Raja Kucing”. Walaupun sudah dikeluarkan berkali-kali ia tetap memaksa masuk kembali kedalam lubang. Terakhir, salah satu dari kerabat yang mengeluarkan raja kucing malah terluka akibat dicakar berkali-kali.

 

Ketika itu hujan sudah mulai turun. Orang –orang yang ingin mempercepat penguburan akhirnya membuat keputusan bersama. Walaupun merasa tidak tega, mereka sepakat membiarkan raja kucing tetap berada didalam kubur bersama kakek. Sang raja kucing sendiri meringkuk disamping kakek saat orang-orang menimbun tanah. Ia tidak bergeming sama sekali saat tumpukan tanah menimpanya hingga menutupi seluruh bagian lubang kubur. Tidak ada yang tahu pasti nasib kucing itu selanjutnya. Orang-orang hanya bisa bersedih atas kejadian langka itu. Menjadi cerita dari mulut-kemulut bahwa pada suatu masa ada seekor kucing yang setia mengikuti tuannya hingga keliang kubur.

 

********’

 

Sepeninggal kakek, kucing yang masih tersisa 39 ekor dibawa oleh orang-orang kampung dan kerabatnya untuk dipelihara. Akan tetapi, pada sore harinya kucing-kucing tersebut kembali kegubuk kakek dikebun. Berulang-ulang kejadian itu berlangsung. Sampai akhirnya kucing-kucing tersebut dibiarkan saja tetap berada digubuk kakek. Walaupun begitu, setiap harinya kerabat kakek dan warga desa selalu datang kegubuk untuk memberi makan kucing-kucing itu.

 

Bertahun-tahun kemudian terjadi lagi wabah penyakit kucing. Hampir semuanya kucing peninggalan kakek ditemukan orang dalam keadaan mati. Sisanya menghilang entah kemana. Yang paling aneh adalah kucing-kucing tersebut ditemukan terbujur kaku diatas makam kakek.  Untuk menghormati kakek, kucing-kucing mati itu lalu dikuburkan disamping makam tersebut. Sejak saat itu pula tempat ini diberi nama “Kuburan Koceng”.

 

Dimanakah kuburan koceng berada?

 

Waktu kecil dulu aku pernah ikut nenek kesawah dan diberi tahu tempat kuburan koceng. Letaknya tidak begitu jauh dari kampung kami. Kurang lebih setengah jam berjalan kaki kita akan sampai ditempat itu. Hanya ada jalan setapak untuk kesana.  Jalan ini merupakan jalan umum bagi warga jika menuju kekebun atau sawah. Disana terdapat beberapa pohon mangga, durian dan lansat. Pada bagian tengah kebun buah buah itu terdapat satu pohon kelapa yang sudah lama roboh dengan sendirinya. Menurut nenek disanalah letak kuburan koceng.

 

Tempat tersebut sama saja keadaannya dengan tempat lain. Hanya berupa hutan. Walaupun diamati dengan teliti, tidak ada batu nisan maupun gundukan tanah kuburan. Batu nisan tersebut sudah lapuk menyatu dengan tanah karena sangat lamanya.

 

********

 

Cerita diatas bisa saja hanya sebuah dongeng belaka. Tidak banyak orang zaman sekarang yang pernah mendengarnya. Jujur saja penulis sendiri meragukan letak kuburan koceng itu. Apakah kuburan koceng memang benar-benar ada?

Kata ibuku, kucing merupakan salah satu binatang kesayangan Nabi. Oleh karenanya sangat disarankan agar kita memperlakukan bintang itu dengan baik. Berbagilah sedikit makanan dengan kucing walaupun dirimu tidak memeliharanya. Terutama pada kucing-kucing liar tanpa tuan. Bisa saja didalam rezeki kita terdapat hak kucing yang dikirim tuhan melalui tangan kita untuk mereka. Jika hal itu tak bisa kau lakukan, paling tidak jangan pernah menyakiti kucing.

 

 

Selamat sore

Salam, TF 1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar