Kamis, 20 Agustus 2020

Kucing

 

Kucing

 

Rata-rata orang senang dengan binatang kucing. Kucing merupakan hewan karnivora. Memiliki cakar dan gigi-gigi yang tajam. Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari bersama manusia, kucing lebih menjadi hewan omnivora. Mudah dipelihara karena memakan apa saja yang bisa dimakan oleh manusia.

Banyak orang memelihara kucing karena lebih jinak ketimbang hewan yang lain. Ada yang memeliharanya seperti layaknya anak manusia. Disayang-sayang, diberi nama dan diistimewakan. Baik itu untuk jenis kucing kampung maupun kucing yang sengaja “dibeli” dari keturunan kucing berbulu lebat seperti “angora”. Khusus kucing kampung orang memeliharanya demi kesenangan pribadi karena merupakan hewan manja dengan warna warni bulunya yang cantik. Selain itu juga kucing kampung dimanfaatkan untuk mengusir tikus dirumah. Bukan hanya mengusir, kucing juga suka makan tikus hidup. Kadang burung dan anak ayam peliharaan pun disikatnya. Untuk kucing berbulu lebat yang dibeli, penulis kurang tahu karena belum pernah punya. Nah kamu punya yang mana??

Khusus untuk tulisan ini kami hanya mengangkat perihal kucing kampung yang umum dipelihara oleh masyarakat. Sepengetahuan kami kucing kampung hanya ada dua jenis yaitu “jantan dan betina”.

Sama saja yak! Manusia juga. Laki-laki dan perempuan, that’s right!

Kucing dikampung memang benar-benar terdiri dari dua jenis saja. Pertama, ya seperti kucing-kucing umumnya yang kita lihat dikampung. Gesit, bertubuh kecil, berbulu tipis, dengan warna warni khasnya. Rata-rata warna bulu kucing belang dua, misalnya kombinasi hitam putih, hitam orange, orange putih, banyak lagi. Ada juga yang warna polos, seperti hitam, kuning, coklat atau putih full seluruh tubuh. Akan tetapi belum pernah ada kucing warna biru, hijau, ungu, dan merah.

Kadang satu kucing sampai memiliki tiga warna berbeda. Termasuk langka. Kucing ini disebut “kucing belang tiga”. Kucing kampung belang tiga hanya jenis yang betina saja. Belum pernah ada kucing jantan belang tiga. Katanya sih, jika seekor kucing betina melahirkan anaknya yang jantan belang tiga, maka sebelum dewasa akan akan dibunuh dan dimakan dengan sengaja oleh induk kucing jantan. Alasannya gak begitu jelas. Kayaknya kita perlu bertanya langsung pada si kucing jantan mengapa anak jantan yang belang tiga harus dibunuh?

Ada orang mengatakan kucing jantan membunuh anak kucing jantan “belang tiga” alasannya karena kelak kelak kucing jantan belang tiga ini bila sampai dewasa akan jadi Raja Kucing. Ia akan menjadi pemimpin semua kucing ditempat itu. Kucing adalah hewan hidup menyendiri. Paling gak suka ada yang memimpin. Makanya kita sering melihat antar kucing jantan dewasa gak pernah akur. Kalau ketemu sesama jantan selalu berantem. Terutama dalam hal rebutan kucing betina untuk dikawini. Nah, inikan kata orang bukan kata sikucing. Masih kurang jelas!!

Apapun alasannya itu ranah pribadi dunia kucing. Kita tak perlu ikut campur terlalu jauh!

Jenis kucing kampung yang kedua yaitu “kucing hutan”. Kucing hutan hidup secara liar dan tinggalnya didalam hutan. Ukuran tubuhnya seperti kucing kampung. Kucing hutan hanya memiliki warna kombinasi orange/kuning, hitam bercampur keputih-putihan. Mirip warna macan. Kucing jenis kedua ini jarang dipelihara. Jumlahnya pun sedikit dan galak. Kucing hutan dewasa bila dipelihara dalam kandang tidak akan pernah menjadi kucing jinak seperti kucing kampung.

Dulu tetangga kami pernah mendapatkan anak kucing hutan dihutan lalu dipelihara dirumah sampai dewasa.  Kucing tersebut menjadi jinak layaknya kucing kampung. Akan tetapi kucing ini tidak bisa makan nasi. Jadi harus diberi makan daging atau ikan hidup. Walaupun jinak, Insting liarnya masih ada. Diam-diam sering memakan anak ayam yang masih kecil. Akhirnya kucing itu dilepaskan kembali kealam liar.

*******

Berbicara soal kucing, penulis sendiri sejak kecil juga suka memelihara kucing kampung dirumah. Walaupun kucing adalah hewan manja yang paling bisa menjaga kebersihan tubuhnya namun ada kalanya memusingkan juga. Misalnya kucing kadang muntah, kencing atau buang kotoran disembarang tempat didalam rumah. Apalagi kucing jantan yang sudah memasuki masa-masa birahi (kawin), sering kencing sembarangan. Baik itu pada dinding, tiang rumah, kasur bahkan tumpukan lipatan baju. Suara berisiknya menjadikannya disebut kucing garong (kayak kamu).

Disanalah kesabaran empunya kucing benar benar diuji. Bagi orang-orang yang memelihara kucing dalam rumah pasti pernah mengalaminya.

Penulis sendiri dulu memelihara banyak kucing dalam rumah. Akan tetapi diawal tahun 2000-an sudah tidak lagi karena harus meninggalkan rumah untuk sekolah keluar daerah. Kucing-kucing itu lalu dipelihara oleh ibuku. Semua sudah mati dengan berbagai sebab. Kebanyakan karena sakit di musim wabah penyakit kucing. Kucing kampung kalau sakit tak ada obatnya. Selalu berakhir dengan kematian karena disini gak ada dokter hewan. Kucing kampung juga kalau sakit akan menjauh dari rumah. Tidak akan pulang-pulang. Kita sering kali menemukan ketika kucing itu sudah menjadi bangkai dan busuk. Tinggallah sang pemiliknya yang sedih meratapi kepergian si kucing kesayangan.

Ibuku sendiri sekitar tahun 2017 lalu memelihara kucing liar sebanyak tujuh ekor. Empat jantan dan tiga betina. Kucing-kucing ini tidak dipelihara didalam rumah. Hanya diberi makan nasi campur ikan didapur saja setiap pagi dan sore. Setelah kenyang mereka akan keluar dengan sendirinya. Diantara tujuh itu hanya ada satu ekor yang paling jinak dan kami sayangi karena sejak kecil ditinggal mati ibunya. Kucingnya berwarna hitam total, jantan, dan tanpa memiliki ekor. Tubuhnya paling gemuk karena makanannya diistimewakan. Walaupun begitu, kucing hitam ini tahu diri dan gak mau tidur dirumah kalau malam. Lebih banyak menghabiskan waktunya diluar rumah. Siang hari saja kadang kita melihatnya tidur didapur.

Diawal ramai wabah corona, kucing liar peliharaan ibuku mati tiga ekor tanpa sebab. Alangkah sedihnya. Semuanya kami temukan sudah menjadi bangkai dekat rumah setelah tiga hari menghilang. Dua jantan dan satu betina. Untunglah kucing kesayang ibuku yang berwarna hitam masih baik-baik saja hingga sekarang. Baru-baru ini kelihatannya ada lagi tambahan kucing liar baru yang sering masuk diam-diam ikut memakan sisa-sisa makanan di dapur. Bakal dipelihara ibuku tuh.

Kalau penulis lain lagi ceritanya. Diawal ramai wabah korona ini aku memelihara kucing liar yang lain agak jauh dari rumah. Kucing-kucing ini belum pernah memasuki rumah. Awalnya mereka adalah kucing-kucing yang hidupnya liar dipinggir sungai mengharapkan ada orang berbaik hati mau memberi makan ikan hidup. Sering bergerombol mengikuti atau menunggui kalau ada siapa pun yang sedang menjala ikan. Banyak juga tetangga yang baik hati mau berbagi. Akan tetapi terkadang kita melihat ada orang yang jengkel dengan prilaku kucing yang sering merampas ikan. Akibatnya kucing-kucing itu sering ditendang, dipukul, disiram bahkan diceburkan keair sungai. Kasian yah!

Dulu jumlah kucing-kucing liar itu cukup banyak. Terus berkembang biak.  Ada sekitar 20-an ekor terdiri dari jantan dan betina. Sekarang jumlahnya sudah lebih sedikit karena banyak yang mati tanpa diketahui sebabnya. Didorong oleh rasa kasian akhirnya aku pun memutuskan untuk memelihara kucing-kucing liar itu apa adanya. Memberinya makan nasi dicampur ikan. Walaupun hanya sekali sehari saja pada setiap sore. Total 13 ekor yang sering datang berkumpul kalau sudah sore. Ada tiga ekor betina dewasa. Sisanya masih kecil terdiri dari jantan dan betina.

Tujuh ekor saat awal diberi makan masih sangat kecil. Rata-rata baru bisa berjalan dan berlari. Awalnya sih kalau disentuh masih marah dan lari. Namun sekarang semua sudah jinak dan memasuki usia remaja. Masa-masa kucing lincah bermain. Ada empat yang secara khusus keberi nama. Beberapa dengan mengambil nama tokoh pada film “The Hobbit” . billy (warna putih kelabu), fili (warna hitam), kili (warna kelabu) dan willy (warna coklat). Kereeeeen, bukan? Kayak anak-anak aja!

Kalau sore hari, ada kepuasan tersendiri ketika melihat kucing-kucing ini makan dengan lahapnya. Mudah-mudahan tuhan selalu memberikan rejeki buat mereka lewat tanganku atau tangan siapa pun sehingga kucing- kucing ini tidak kesulitan makan seperti dulu. Aamiin, 100x.

Nah, baru-baru ini dua betina dewasa baru melahirkan ditempat tersembunyi. Salah satunya anaknya ada empat ekor. Dari empat ini, tiga ekor warna hitam polos dan salah satunya kelabu. Matanya baru terbuka. Belum bisa makan nasi karena masih menyusu pada induknya. Induk yang lainnya anaknya yang kelihatan cuma seekor warna kelabu. Bakal bertambah lagi nih keluarga si kucing.

Pesan penulis. Sayangilah semua makhluk ciptaan tuhan, termasuk kucing jenis apa pun. Jika tak bisa merawat atau pun memberinya makan, paling tidak kita tidak menyakitinya. 

 *****

Kelak pada bagian lain akan penulis ceritakan tentang seseorang dikampung ini yang konon dulu pernah memelihara banyak sekali kucing. Sampai-sampai salah satunya merupakan “Raja Kucing”.

 

 

Salam, TF 1

Rabu, 29 Juli 2020

katak dan udang


Setibanya dipinggir sungai, hewan-hewan lain segera mengerubuni anak katak. Atas sarana dari seekor semut (merah) anak katak (Supri)  lalu dibawa ke istana Raja Katak untuk diantarkan pada keluarganya.

*****
Di kerajaan katak…..
Raja katak yang bergelar Lord Bili marah dan sedih mendapati kondisi anaknya yang terluka. Terlebih lagi sang istri “Queen Laura”. Sang ratu sangat prihatin melihat keadaan putranya. Ia menangis sejadi-jadinya (lebayy). Apa yang membuat raja dan ratu sangat sedih? Bukankah katak biasanya memiliki banyak anak?
Tidak demikian, Lord Bili dan Queen Laura dalam cerita ini hanya memiliki satu anak semata wayang. Jadi, Supri merupakan anak kesayangan dan satu-satunya pangeran di kerajaan katak. Jika sampai meninggal berarti gak ada lagi putra mahkota yang akan menjadi pewaris kerajaan katak. Saat itu anak katak (Supri) hanya bisa terbaring lemas dengan perut luka menganga. Pihak ‘medis’ kerajaan katak hanya dapat memberikan perawatan apa adanya. Luka itu cuma dibalut dengan kulit pohon agar darahnya terhenti. Tak banyak yang bisa dilakukan. Rumah sakit gak ada. Karena memang belum zamannya.

*****
Di kerajaan Udang…..
Anak udang (Bayu) yang baru saja melukai anak katak tanpa sengaja segera menemui kedua orang tuanya untuk menceritakan kejadian pagi itu. Tentu saja sang ayah (Raja Udang) yang bergelar “Lord harfa” ingin marah besar. Akan tetapi, melihat anaknya yang masih kecil dan ketakutan, Lord Harfa berusaha memaklumi keadaan itu. Begitu juga dengan istrinya “Queen Sopia” , sang ratu tentu lebih bisa memahami kenakalan anak-anak. Tak perlu menyalahkan sang anak. Nasi sudah menjadi bubur. Apa pun yang terjadi, Raja dan Ratu sudah sepakat siap bertanggung jawab atas perbuatan sang anak kepada keluarga katak nantinya. Sedapat mungkin mereka akan melindungi anaknya dari hal-hal buruk.

*****
Siang itu juga raja katak segera mengirim utusan untuk menemui raja udang. Utusan kerajaan katak meminta raja udang agar bertanggung jawab dan membawa anaknya menemui raja katak di istana. Raja udang pun bersedia mengikuti utusan itu. Akan tetapi, ia gak mau membawa anaknya ikut serta. Sebagai bentuk tanggung jawabnya, maka berangkatlah raja udang bersama beberapa “tim medis kerajaan udang” ditemani pengawalnya menemui raja katak.
Sesampainya di kerajaan katak, Raja udang disambut langsung oleh Raja katak di aula besar istana. Sebuah pertemuan yang kurang mengenakkan. Raja katak terlihat sedih dan marah. Tentu saja raja udang berusah sebisa mungkin untuk bertanggung jawab atas peristiwa itu. Ia menunduk hormat untuk kepada raja katak yang tampaknya tidak bersahabat.

“Mana anakmu yang telah melukai anakku tadi? Kenapa tak kau ajak serta kemari?” Kata raja katak dengan suara keras.

“Oh, maafkan aku wahai sahabatku Lord Bili. Bukannya aku menolak membawanya kemari. Anakku itu memang sengaja tak ku bawa kemari. Saat ini ia sedang ketakutan. Ia masih terlalu kecil dan tidak sengaja melukai anakmu. Biarlah masalah ini aku yang bertanggung jawab. Kami telah membawa “tim medis” terbaik dari istana udang untuk membantu mengobati putramu itu. Bagaimana menurutmu?” kata raja udang.

“Baiklah, aku memakluminya. Aku bisa menerima tawaranmu itu. Cepatlah suruh “tim medismu” untuk menyembuhkan anakku! Kata raja katak.

“Tenanglah sahabatku. Kami sudah biasa mengobati luka. Kau jangan khawatir. Mudah-mudahan anakmu secepatnya bisa sembuh!” kata raja udang kemudian.

Setelah percakapan itu raja katak lalu mengajak rombongan raja udang untuk menemui anaknya disebuah ruangan. Di dalam ruangan tersebut, terbaring seekor anak katak yang sedang merintih-rintih kesakitan. Ia ditemani oleh ibunya dan beberapa “perawat”. Tubuh anak katak tampak terbalut dengan kulit pohon untuk menutup lukanya.

Setelah berdiskusi dengan “tim medis kerajaan katak” maka “tim medis kerajaan udang” pun mulai bekerja. Dengan hati-hati perban luka perut anak katak dibuka kembali oleh  salah satu “tim medis kerajaan udang” untuk melihat langsung keadaanya. Disaksikan oleh semua yang hadir, sebuah luka diperut menganga kembali. Akibat terbuka, luka itu mengucurkan darah.  Anak katak menjerit-jerit menangis kesakitan. Raja udang tentu sangat prihatin dengan kondisi anak katak. Ia benar-benar merasa bersalah. Terlebih-lebih lagi raja katak dan istrinya, mereka panik dan sangat khawatir pada keadaanya anaknya itu.

Dengan sigap tim medis terbaik dari kerajaan udang mulai bekerja. Luka menganga itu segera di obati dengan semacam lendir udang agar darahnya berhenti keluar. Perihnya bukan main. Anak katak hampir saja pingsan kesakitan. Berhasil. Darah memang benar-benar berhenti mengalir. Setelah itu tim medis kemudian membersihkan dan berusaha merekatkan bagian luka yang menganga. Bagaimana caranya? Apakah dengan cara di jahit seperti di rumah sakit? Lagi-lagi, urusan menjahit luka belum zamannya cuyy.

Dengan tingkat kesulitan tinggi, luka pada perut anak katak saat itu cuma direkatkan dengan getah pohon nangka. Cerdas dan berhasil! Luka menganga sebelumnya, kini telah tertutup dengan baik. Bagian itu kemudian dibalut kembali dengan kulit-kulit pohon. Selesailah tugas tim medis yang sangat melelahkan. Semua akhirnya bisa bernapas lega.

Menurut tim medis kerajaan udang, anak katak dilarang terlalu banyak bergerak supaya luka itu gak terbuka. Anak katak juga dilarang mandi di tempat kotor agar lukanya gak terinfeksi. Setelah dua minggu kemudian barulah “perban” boleh dibuka. Saat itulah nanti anak katak akan dinyatakan benar-benar sembuh dan boleh beraktivitas seperti biasanya.

Melihat kondisi anaknya yang sudah ditangangi dengan baik, Raja dan Ratu katak sangat berterima kasih kepada Raja udang. Mereka bisa memaafkan kesalahan anak udang. Sepertinya persahabatan antar dua kerajaan itu akan terjalin dengan baik kembali. Lebih-lebih raja udang, ia benar-benar merasa lega sudah berhasil menebus kesalahan anaknya.

Tengah hari setelah dijamu makan siang diistana raja katak, Raja udang beserta rombongan pulang keistananya dengan perasaan plong. Tanggung jawab sudah diselesaikan. Sebelum meninggalkan istana katak tak lupa mereka berpesan agar anak katak menuruti “pesan-pesan” sebelumnya. Tujuannya agar raja dan ratu katak tetap mengontrol keseharian anaknya. Supaya sang anak cepat sembuh tentunya.

Hari-hari selanjutnya semua berjalan seperti biasanya. Kondisi anak katak semakin membaik. Setelah tiga hari berlalu, anak katak sudah bisa berdiri kembali tanpa kesakitan. Mungkin lukanya sudah sembuh walaupun masih tertutup dengan perban. Ia bahkan sudah bisa bermain kembali dengan anak udang. Orang tuanya pun tampaknya gak terlalu khawatir.

Seminggu kemudian, anak katak yang sudah merasa lebih baik mengajak anak udang bermain-main dipinggir sungai. Awalnya mereka hanya bermain tanah lumpur saja. Namanya juga anak-anak. Sesuatu yang dilarang malah membuat penasaran.

“Eh, Bayu! Kita berenang dan main bola-bola air yuk!” Kata anak katak.
“Hah, apakah kau sudah benar-benar sembuh! Kata ayahku lukamu itu seminggu lagi baru sembuh. Untuk saat ini kau belum boleh berenang.” Kata anak udang.
“Gak apa-apa! Aku sudah merasa sembuh. Gak sakit lagi. Nih lihat!” kata anak katak sambil memperlihatkan perutnya.
“Mana kelihatan, kan masih ada balutannya. Lukamu itu bahaya kalau kena air.”
“Ah kamu, kalau menunggu seminggu lagi, kelamaan , tau! Aku buka perbannya sekarang aja ya. Biar kamu tau kalau aku sudah sembuh. Lagian gak leluasa berenang dengan tubuh terbalut perban begini.”

“Jangan, Supri! Nanti ayahmu marah!”

“Biar saja, mereka kan gak ada disini. Nanti selesai mandi aku balut lukanya kembali. Yang penting kita sama-sama merahasiakannya, hehehe….”

Akhirnya anak udang pun mengalah. Dengan agak ragu-ragu ia pun membantu anak katak membuka perban yang menutupi lukanya.  Benar-saja, luka pada tubuh katak sudah agak mengering. Setelah semua perban terlepas mereka berdua lalu menceburkan diri kesungai. Anak katak keasyikan bermain bola-bola air tanpa tahu akibat dari perbuatannya itu.

Kamis, 23 Juli 2020

Tinggal di dusun VIII


Tinggal di dusun  VIII
Sintak Roh


Anak pertama, kedua dan ketiga nenekku sudah berkeluarga dan tinggal dirumahnya sendiri. Jadi saat itu hanya ibuku dan kakak keempat laki-laki yang belum berkeluarga masih tinggal bersama orang tuanya. Keseharian keluarga nenekku bekerja sebagai petani dan pembuat gula merah. Akan tetapi keluarga nenekku tidak pernah tinggal di dusun. Sawah dan kebun hanya berada disebuah rawa dibelakang kampung. Cukup berjalan kaki saja melewati hutan sudah dapat dicapai dengan mudah.

Kakekku(nenek laki) termasuk tetua kampung yang cukup disegani. Bukan karena memiliki jabatan ataupun seorang dukun, melainkan kakekku terkenal karena galaknya. Tidak banyak bicara namun galak. Bukan hanya pada keluarga sendiri, kepada orang lain juga. Tak perduli orang tua atau remaja, kakekku paling tidak suka orang berkelahi. Apabila ada orang berkelahi kakekku hanya akan menegur sekali. Bila masih juga, tak segan-segan kakekku akan menghardik mereka kemudian memberikan dua buah parang atau “bujak”  agar saling bunuh sekalian.

Pernah suatu ketika kakak kedua dan kakak ketiga saudara ibuku bertengkar dirumah. Hanya hal sepele, saling ejek dan merembet sampai saling mengungkit-ungkit pemberian. Nenek sebenarnya sudah berusaha melerai namun anak-anak malah makin menjadi-jadi. Kakek yang mengetahui hal itu segera mengasah dua buah parang hingga tajam. Awalnya tidak ada yang tahu untuk apa parang itu diasah. Tanpa banyak bicara, dibawanya kedua anaknya ini kehalaman rumah. Masing-masing diberi sebilah parang tadi dan disuruh untuk saling tebas agar masalahnya cepat selesai. Seketika anak-anak langsung pucat pasi. Tak ada yang berani menebas saudaranya. Mereka gemetar ketakutan hingga parang jatuh ketanah. Nenekku yang menyaksikan peristiwa itu hanya bisa menangis menjerit-jerit ketakutan. Sejak hari itu anak-anak tidak ada yang berani bertengkar dirumah. Bila ada masalah biasanya akan diselesaikan ditempat lain

Walaupun galak, kata ibuku kakek adalah orang tua yang sangat baik dan penuh tanggungjawab. Kakekku tidak pernah menyakiti nenek seumur hidupnya. Beliau sangat menyayangi anak-anak kecil. Jarang sekali marah. Hanya kalau marah sangat menakutkan. Apapun keinginan anak-anak, misalnya minta belikan sesuatu kakek tidak perhitungan selama masih dapat membelikan walaupun uangnya pas-pasan. Kakekku juga tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk membantu pekerjaannya selama masih bisa dikerjakan sendiri.

******

Segala hal tentang nek Jum sudah cukup lama diketahui oleh keluarga nenekku. Apalagi nenekku merupakan teman sepermainan nek Jum waktu kecil. Tentu saja nenekku ikut sedih dan prihatin. Hanya saja selama ini nenekku terlalu sibuk untuk memanen padi disawah. Kecuali malam hari, apabila tidak capek nenekku akan berkunjung kerumah nek Jum untuk menjenguk dan menemaninya ngobrol.

Selesai panen kala itu nenekku lebih sering mengunjungi nek Jum. Melihat keseharian nek Jum yang semakin memprihatinkan , nenekku bertekat sebisa mungkin untuk menolongnya. Keluarga dirumah juga sudah setuju. Walaupun tahu penyakit “breii” tidak ada obatnya, nenekku belum putus asa.
Menurut nenekku, nek Jum tidak sepenuhnya gila. Kemungkinan besar masih bisa disembuhkan. Karena setiap nenekku berkunjung malam hari keadaan nek Jum baik-baik saja. Walaupun terlihat menderita bathin, Nek Jum bisa diajak bicara dan penurut. Entah mungkin dia segan terhadap nenekku yang merupakan teman kecilnya dulu. Tetangga sampai bilang kalau nek Jum itu gila hanya pada jam-jam tertentu saja. Siang hari terutama pada pagi hari. Kalau malam, kadang aneh kadang normal.

Mengetahui keadaan nek Jum yang kurang terurus, sejak hari itu juga nenekku membulatkan tekat untuk mengurus orang tua ini semampunya. Semua itu dilakukan hanya atas dasar rasa kasihan sebagai kerabat jauh dan teman akrab. Siapa lagi yang mau merawat nek Jum sedangkan keluarganya saja tidak begitu perduli lagi. Mereka sudah bosan, capek dan tidak tahu lagi berbuat apa. Setelah melihat nek Jum yang mau menurut pada nenekku, keluarganya malah meminta nenekku untuk membantu mereka mengurus sang ibu. Apalagi nek Jum hanya mau mandi jika ditemani oleh perempuan saja. Para tetangga, anak-anak  dan menantunya sudah lelah oleh tingkah nek Jum. Menurut mereka hanya nenekku orang yang paling tepat.

Kata nenekku, sebenarnya walaupun kelihatannya penurut, pada saat-saat tertentu bukan hal mudah mengajak nek Jum untuk makan maupun mandi. Terutama pada “jam-jam gilanya”. Perlu kesabaran tingkat tinggi. Bayangkan saja betapa sulitnya mengurus orang gila yang sudah tua tapi bertingkah seperti anak kecil. Mau tidak mau harus ikut gila juga sementara. Kita harus siap korban waktu dan dimaki-maki. Keinginannya harus diikuti. Kalau sudah tidak mau tak bisa dipaksa.

Disela-sela kesibukannya mengurus keluarga sendiri, tiap pagi nenekku harus pergi kerumah nek Jum untuk mengajaknya makan dan memandikannya. Untuk makan tidak sulit. Tinggal ambilkan terus disuapi pakai sendok seperti anak kecil. Kadang malah nenekku sendiri yang jadinya disuapi nek Jum secara bergantian. Harus dituruti sampai selesai. Kalau tidak, nek Jum akan merajuk dan tidak akan mau makan lagi sampai seharian. Begitu juga jika mau buang air besar atau kencing. Nek Jum harus ditemani, dilepaskan pakaiannya setelah selesai barulah pakaian itu dipasangkan kembali. Bila tidak, nek Jum akan kencing dan berak sembarangan kemudian membiarkan dirinya telanjang bulat.

Untuk mandi lumayan sulit. Karena bila mengajak nek Jum mandi harus siap basah kuyup. Selain itu juga nenekku harus mau diajak berenang atau bermain lumpur bersamanya dipinggir sungai. Pada saat pertama mengajak mandi memang lumayan sulit. Macam-macam saja alasannya, mulai kedinginan, takut sabun kena mata sampai takut buaya dan “hantu ranam”. Akan tetapi nenekku tidak kehabisan akal. Asal mau diajak kesungai pasti bisa diajak mandi.

Ketika itu nenekku mengajak nek Jum ke sungai. Setibanya dipian, nenekku ingin membasuh tangannya. Eh, belum sempat bicara apa-apa, nek Jum tiba-tiba saja mengguyur tubuh nenekku dengan air sungai seember. Tubuh nenekku yang masih berpakaian lengkap langsung basah kuyup. Setelah itu nek Jum mau mandi asal ditemani bersama dengan cara saling memandikan. Kalau diajak berenang juga harus dituruti. Kadang nek Jum mengajak bermain saling membedaki muka pakai lumpur. Jika semua keinginannya itu diikuti, nek Jum akan tertawa senang seolah lupa denga buaya. Ia akan mandi sampai puas dan mau disabuni.

Setelah selesai mandi dan naik kerumah nek Jum lalu dipakaikan baju, disisir rambutnya, didandani, barulah bisa diajak makan pagi. Tengah hari biasanya nek Jum akan tidur siang. Saat itulah nenekku bisa pulang kerumahnya. Setibanya dirumah, nenekku menjadi bahan tertawaan anak-anak dan kakek. Tidak ada hujan tidak ada badai, masih berpakaian lengkap tapi nenekku malah basah sekujur tubuh. Akan tetapi, nenekku menganggap semua itu cuma hal lucu dan malah menyenangkan. Apakah nenekku ketularan ikut menjadi gila? Atau aku yang menulis cerita ini juga sudah gila?

Oh, tidak…Rhoma!
Sampai hari meninggalnya pun nenekku adalah orang yang waras. Sumpah!  Apalagi diriku sebagai cucunya, sampai saat ini masih normal kok, hanya saja masih jomlo.

**********

Begitulah hari-hari selanjutnya berjalan. Nenekku selalu punya waktu untuk mengurus nek Jum setiap hari. Malam harinya nenekku akan kembali lagi untuk mengajaknya makan dan menemani sampai bisa tertidur. Kadang kala nenekku bermalam dirumahnya. Kata nenekku, selama dalam pengawasannya, kalau malam hari nek Jum benar-benar seperti orang normal. Diajak bicara apa saja nyambung. Kadang malah sok tahu menasehati orang lain agar sadar bahwa jika sudah tua berarti mendekati kematian. Harus banyak-banyak mempersiapkan bekal untuk akhirat, katanya. Hebat juga, kataku!

Ada kalanya nenekku mengajak nek Jum untuk untuk bermalam dirumahnya. Setelah siang dikembalikan lagi kerumahnya. Kadang juga bukan hanya bermalam, nek Jum juga menginap dirumah nenekku sampai dua tiga hari. Berbulan-bulan hal itu berlangsung. Dari hari kehari nek Jum semakin penurut dan menunjukkan perkembangan yang lebih baik. Orang-orang cukup senang dengan perkembangannya. Hanya saja nek Jum masih tidak mau diurus oleh orang lain selain nenekku. Untuk mandi juga masih harus ditemani seperti sebelumnya.

Selama menginap dirumah nenekku, pernah sekali nek Jum suatu pagi tidak mau mandi sama sekali dengan alasan takut buaya. Nenekku sudah berusaha membujuknya namun nek Jum terus menolak. Kakekku yang baru tiba dari tempat menyadap aren menjadi marah. Orang tua yang terkenal galak ini rupanya mulai hilang kesabaran. Dibentaknya nek Jum.

“Oii Jum! Kau takut kan bheya atau dusun. Mun kau ne mau manni kuantar kau ke dusun situ mini-mini ge. Kuikati kau dipondok kita, supaya ne depat mulang. Tuanya saneh sorangan kan makan hantu botak. Pilih hak manni atau diem dusun sorangan!”

(maaf untuk bagian 8 ini sengaja tidak diterjemahkan. )

Mendengar omelan kakekku, nek Jum langsung ketakutan. Semua orang juga tahu kalau kakek galak. Kakek takkan bicara dua kali. Ucapannya akan buktikan bila tidak menurut juga. Buru-buru nek Jum mengambil perlengkapan mandi dan turun kesungai untuk mandi sendiri. Nenekku langsung ikut menemaninya walaupun tidak ikut mandi juga. Ia hanya khawatir orang tua itu tenggelam disungai. Ternyata nek Jum bisa mandi sendiri dengan normal. Tidak manja-manja seperti sebelumnya. Sejak hari itulah nek Jum bisa mandi sendiri walaupun tanpa ditemani.

Pada suatu hari kebetulan seluruh anak-anak nenekku berkumpul dirumah. Keluarga nenek mengadakan selamatan kecil-kecilan yang hanya dihadiri oleh pihak keluarga saja. Nek Jum juga ada dirumah nenek saat itu. Ditengah-tengah acara makan-makan kue “apam” kakek membicarakan tentang nek Jum. Entah sadar atau tidak, atau menganggap nek Jum tidak paham apa yang dibicarakan, kakek nyeletuk sambil tertawa.

“Tageknya Jum ni mun hanek beik pa, etam carikan laki maha yo! hahaha..” kata kakek sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Anak-anak pun ikut tertawa tapi masih ditahan-tahan karena segan dengan kahadiran nek Jum diantara mereka. Tiba-tiba saja nek Jum yang tadinya cuma diam, menyahut.

“Oii kak, beneh ujemu ngia! Tapi ade lang urang laki mau kan urang tuha gile? Carikan hak lih mu. Mun kau haje kiranya apa rupanya? hahaha..” kata nek Jum dengan tertawa lepas.

Kata-kata nek Jum membuat kakek langsung kelabakan salah tingkah. Ia tak menyangka nek Jum rupanya mengerti apa yang dibicarakannya. Kakek tak bisa menjawab pertanyaan nek Jum. Seketika suasana menjadi hening sesaat. Anak-anak dan nenek berusaha menahan tawa takut dimarahi kakek. Tiba-tiba saja kakek malah tertawa terbahak-bahak. Pada akhirnya seisi rumah ikut tertawa beramai-ramai termasuk nek Jum sendiri. Tidak ada yang menganggap ucapan nek Jum itu serius. Lucu memang, orang gila mau dicarikan suami. Ada-ada saja, kata nenekku. Pada akhirnya ucapan nek Jum sering diulang anak-anak dihadapan kakek untuk menggodanya. Kakek tidak marah sama sekali. Beliau hanya tidak suka bila orang berkelahi. Kalau urusan lain kakek akan “ikut arus”. Malah dengan bangga kakek menimpali, memangnya kalian mau punya ibu kedua yang gila? Dasar!

**********
 
Pada suatu malam nek Jum bermalam dirumah nenekku. Lain dari biasanya. Malam itu nek Jum benar-benar seperti orang waras. Tidak akan ada yang menyangka jika orang tua ini menyimpan penyakit “gila”. Nek Jum bercerita masa-masa bersama suaminya dulu didusun pada nenekku. Ia bercerita dengan lancar tanpa ada yang ditutup-tutupi. Dari cerita indah sampai yang menakutkan saat-saat menunggui jenazah suaminya seorang diri. Tak lupa juga nek Jum menceritakan awal mulanya berumah tangga dengan almarhum suaminya. Nenekku hanya bisa mendengarkannya dengan penuh perhatian.

Menurut nek Jum, suaminya memiliki ilmu yang disebut orang “Sintak Roh”. Semacam ilmu pelet tetapi dikhususkan untuk pasangan yang sudah menikah.

*Sintak Roh merupakan sejenis ilmu pelet tingkat tinggi dan langka. Ada yang menyebut sintak roh sebagai ritual menikahkan roh kedua pasangan. Biasanya orang yang mempunyai ilmu ini akan menggelar pernikahan dua kali dalam hidupnya. Pertama, nikah seperti orang-orang pada umumnya(nikah jasmani). Kedua, nikah secara bathin (roh/ruh) yang hanya dilakukan berdua(suami-istri) dengan persetujuan kedua belah pihak secara rahasia tanpa diketahui orang lain.
Tentang bagaimana ritualnya penulis juga tidak mendapatkan penjelasan dari ibu. Akan tetapi, intinya selain menikah secara umum orang yang menggunakan ilmu ini akan menikah lagi berdua dengan mengikat sumpah perjanjian saling setia, sehidup semati. Bila salah satu meninggal lebih dulu, maka pasangannya takkan bisa mendapatkan pasangan yang lain. Ia akan ikut meninggal juga paling cepat tiga hari, dan paling lama setahun kemudian.

Dampaknya baiknya, orang yang melakukan ritual sintak roh menjadi saling setia pada pasangannya. Mereka tidak akan pernah selingkuh atau pun bercerai sampai ajal memisahkan. Dampak buruknya, bagi yang meninggal lebih dulu, jiwanya akan selalu membayangi pasangannya yang masih hidup. Sedangkan bagi pasangan yang masih hidup, tidak akan berumur lama sesuai perjanjian. Bila lewat tiga hari belum meninggal, maka akan mengalami breii dan gila. Pada akhirnya nanti akan meninggal juga dalam waktu kurang lebih setahun kemudian.*

Nek Jum dan suaminya dulu pernah melakukan ritual sintak roh setelah mereka menikah. Sebenarnya ilmu ini dapat diputus sebelum suaminya meninggal dunia. Seandainya dulu sebelum sang suami meninggal memutus/melepas ilmu ini nek Jum takkan mengalami breii dan gila. Akan tetapi, soal perjanjian sehidup semati sudah tak bisa dibatalkan lagi. Menurut nek Jum untuk memutus ilmu sintak roh hanya bisa dilakukan dengan mencari orang yang juga memiliki ilmu sintak roh. Artinya penyakit breii dan gila yang dialami nek Jum ada harapan untuk sembuh, walaupun hidupnya takkan lama lagi. Fungsi lain dari sintak roh adalah untuk mengembalikan pasangan suami istri yang renggang. Selama belum bercerai sampai talak tiga, pasangan itu masih bisa disatukan lagi. *koreksi jika salah*

Bagaimana pemirsa, kalian paham dengan penjelasan diatas? Kalau paham, alhamdulillah.

Nih kami ajari sedikit mantra yang diucapkan pada ritual sintak roh.
“karakat-karikit tumbuh dibatu. betangkap begigit urang bini brebut kan aku.”..hahaa

**********

Mendengar penjelasan dari nek Jum nenekku cukup kaget. Ia tak menyangka jika keluarga nek Jum pernah menggelar ritual sintak roh. Ilmu yang pada zaman itu saja sudah langka, apalagi dizaman now.
Akan tetapi, nenekku cukup gembira karena nek Jum memiliki kesempatan untuk sembuh walaupun usianya mungkin takkan lama. Ajal seseorang siapa yang tahu? Tak boleh putus asa. Tugas manusia hanya berikhtiar semampunya. Selanjutnya biar Tuhan yang menyempurnakan takdir. Langkah selanjutnya yang harus dilakukan nenekku adalah bersama nek Jum mencari orang lain yang mungkin masih memiliki ilmu sintak roh.

Keesokan harinya setelah berdiskusi dengan keluarganya, nenekku bersama nek Jum pergi menemui saudara-saudara dari almarhum suaminya. Dan bersyukur sekali, tanpa mendapat kesulitan bertemulah mereka dengan adik perempuan dari almarhum sang suami yang juga rupanya memiliki ilmu sintak roh. Setelah mendapat penjelasan dari nenekku, adik perempuan ini pun setuju untuk menolong nek Jum dengan menggelar ritual sintak roh kembali. Dalam ritual ini tidak boleh dihadiri oleh orang lain selain nek Jum dan adik iparnya ini.

Pada malam harinya, tepat tengah malam saat orang-orang tertidur ritual sintak roh pun akan digelar. Rumah besar keluarga nek Jum sebelumnya sudah dikosongkan. Anak ketiga nek Jum harus menginap sementara dirumah saudaranya. Tempat inilah yang dipilih untuk menghindari supaya tidak ketahuan orang lain karena ritual harus dilakukan berdua secara rahasia. Nek Jum didandani dengan memakai pakaian pengantin seperti orang yang sedang menikah. Ritual dilakukan dalam sebuah kelambu berdua bersama sang adik ipar tanpa dihadiri oleh siapapun sampai pagi.
Awalnya adik ipar nek Jum merapal mantera-mantera aneh. Nek Jum dibuat seolah tak sadarkan diri hingga tidak ingat apa-apa lagi alias tertidur. Adik ipar pun ikut tertidur. Nah, dalam mimpi inilah sang adik ipar entah bagaimana caranya mempertemukan roh nek Jum dengan roh suaminya. Selanjutnya adik ipar ini meminta roh suami nek Jum agar melepas/memutus ilmu sintak rohnya pada nek Jum. Setelah itu ia akan meninggalkan mereka berdua sampai pagi. Sampai nek Jum terbangun dari tidurnya.

Ritual sintak roh malam itu berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan. Pada pagi harinya, nek Jum terbangun dengan perasaan yang jauh lebih baik. Ia sendiri bahkan kaget karena sedang berpakaian pengantian. Setelah mendapatkan penjelasan dari nenekku barulah nek Jum sadar dengan ritual yang digelar malam itu. Bagaimana keadaan nek Jum saat itu? Apakah sudah sembuh?

Menurut nenekku, wajah nek Jum pagi itu cerah dan bersemangat sekali. Tidak kelihatan ada kesan murung seperti hari-hari yang lalu. Seluruh keluarga nek Jum yang hadir menyaksikan perubahan itu dengan gembira. Nek Jum langsung mencari cucu-cucunya. Katanya ia sudah lama tidak bertemu dengan mereka. Sebuah pertemuan yang sangat mengharukan. Anak-anak pun sepertinya tidak takut lagi dengan neneknya yang sudah sembuh itu.

Hari-hari selanjutnya keluarga nek Jum dapat hidup normal kembali. Nek Jum perlahan bisa mengurus dirinya sendiri seperti sedia kala. Walaupun hanya tinggal berdua bersama anak ketiga, nek Jum tidak lagi merasa kesepian. Ia sudah bisa menerima keaadaannya. Jika pun rindu dengan anak-anak yang masih kecil, nek Jum tinggal berkunjung kerumah anak pertamanya bahkan bermalam dirumah mereka. Anak-anak nek Jum sendiri kini dapat beraktivitas dengan normal tanpa rasa khawatir pada ibunya. Begitu pula dengan keluarga nenekku dan tetangga, mereka semua ikut gembira dan bisa bernapas lega dengan kesembuhan nek Jum.

Seminggu setelah peristiwa “ritual sintak roh”, nek Jum sering mengunjungi rumah nenekku. Apabila mengetahui nenekku sedang berada di sawah, nek Jum langsung menyusulnya. Saat itu sedang musim tanam padi. Tanpa diminta bantuannya nek Jum dengan suka rela membantu keluarga nenekku menamam bibit padi disawah yang berlumpur. Perubahan-perubahan sikap prilaku nek Jum itu tentu saja menjadi hal menggembirakan. Bukan saja sebagai teman akrab, nenekku sampai menganggap nek Jum seperti saudara sendiri. Tepatnya kakak-beradik. Karena nek Jum lebih tua, maka nenek memanggilnya sebagai kakak.

Kakek. Bagaimana dengan kakek? Karena sudah tidak gila, maukah kakek menjadi suami baru bagi nek Jum?............hahahaha..

Bukan. Bukan seperti itu. Ucapan-ucapan dulu hanya sebagai candaan saja. Semua orang sudah melupakannya. Nek Jum sangat menghormati orang tua yang galak ini. Ia memanggil kakek dengan sebutan kakak karena lebih tua. Bahkan kakek lebih tua daripada almarhum suami nek Jum.

Untuk mengisi hari-hari nek Jum yang mungkin tinggal sedikit itu kakekku bersama anak-anaknya sengaja membuka lahan baru ditanah keluarga kami untuk dijadikan tempat menanam jagung. Setelah lahan bersih, kemudian diserahkan khusus bagi nenekku dan nek Jum untuk menanami jagung dan sayuran.

Nek Jum ternyata orang tua yang sangat rajin. Tiap hari, pagi-pagi sekali nek Jum sudah tiba dirumah nenek untuk sama-sama pergi ke kebun. Bahkan pernah saat nenek dan kakekku masih tidur. Nek Jum tanpa diminta membantu memasakkan makanan pagi buat keluarga nenekku. Bukan main semangatnya. Berkat perawatan yang baik dari nenek bersama nek Jum, tanaman jagung dan sayur-sayuran tumbuh subur. Diperkirakan sekitar empat bulan lagi akan panen jagung.
Pada malam hari biasanya nek Jum akan kembali mengunjungi rumah keluarga nenekku untuk belajar mengaji dari kakekku. Kadang nek Jum menginap sampai pagi. Tidak ada yang meminta. Menurut nek Jum, ia hanya menunaikan wasiat dari suaminya dulu sebelum meninggal dunia. Selain itu juga nek Jum diajari oleh kakek dan nenekku cara sembahyang yang benar. Sampai akhirnya ia bisa shalat sendiri dirumahnya.

Hari-hari yang indah itu tidak berlangsung lama. Jika dihitung sejak meninggalnya sang suami, kurang lebih setahun. Seolah membenarkan teori “sintak roh”, sekitar seminggu setelah panen jagung nek Jum sakit parah. Ia terkena muntaber. Penyakit yang dulu menyebabkan suaminya meninggal. Saat itu penyakit muntaber memang sedang mewabah. Banyak juga orang lain yang mengalami. Hanya berlangsung dua hari tanpa perawatan berarti, nek Jum pun kembali kehadirat Tuhannya dengan disaksikan oleh tetangga dan seluruh keluarganya termasuk keluarga nenekku. Jumat pagi, nek Jum meninggal dunia tanpa sempat menyelesaikan pengajian-nya. Isak tangis kesedihan memenuhi rumah besar keluarga nek Jum. Hari itu juga setelah selesai shalat Jumat, jenazah nek Jum dimakamkan pada pekuburan tengah kampung tepat disamping makam suaminya.

SELAMAT JALAN NEK JUM. KIRANYA DIRIMU SUDAH BISA BERJUMPA DENGAN SANG SUAMI TERCINTA. SEMOGA YANG MAHA KUASA MEMBERIKAN TEMPAT YANG LAYAK UNTUKMU. Aamiin.

************

Setelah kepergian nek Jum, seluruh keluarganya berduka. Lebih-lebih nenekku yang hampir tiap hari menghabiskan waktunya bersama nek Jum di kebun. Nenek benar-benar merasa kehilangan. Kakekkku dan anak-anak lah yang kemudian memberikan semangat hingga ia dapat menerima kenyataan itu. Nasehat dari kakek untuk nenek bahwa mati adalah takdir. Kita tak bisa menolaknya. Cepat atau lambat. Kau, aku atau siapapun yang masih hidup saat ini pada akhirnya akan mengalami. Hanya menunggu waktu. Pilihan kita hanya menerima Takdir itu. Maka isilah hari-hari yang tersisa dengan hal baik sebagai bekal dikemudian hari untuk menempuh perjalanan selanjutnya

Tataplah buah kelapa dipuncak pohonnya. Ada yang sudah tua, ada juga yang masih kecil. Kita tidak pernah tahu buah kelapa mana yang jatuh duluan. Akan tetapi, secara logika, kelapa tua ibarat kapal bocor, tinggal menunggu oleng dan karam lalu tenggelam duluan. Di usia yang sudah tua tidak perlu lagi sibuk dengan urusan dunia. Sudah saatnya belajar Ikhlas, rela menerima keadaan dan mempersiapkan diri

Kakek meninggal sekitar tahun tujuh puluhan. Aku sendiri belum pernah melihat rupanya karena belum lahir kedunia ini. Saat kakek meninggal, ibuku baru memiliki anak pertama dan anak kedua. Menurut ibuku, kakek hanyalah seorang lelaki bertubuh kecil dan kekar. Seperti dikatakan sebelumnya, penyayang tapi galak. Sedangkan nenek, meninggal pada tahun 2002 saat aku masih berada dibangku SMA kelas dua.

S E L E S A I


*After scene kredit.
- Bertahun-tahun setelah meninggalnya nek Jum, dusun tempat tinggalnya tidak ada yang menempati lagi.
- Anak pertama yang pernah menggantikan pekerjaaan almarhum ayahnya juga sudah tidak bekerja sebagai pembuat gula merah.
- Anak pertama beralih pekerjaan sebagai nelayan di rawa-rawa.
- Walaupun demikian, pada saat-saat tertentu, anak pertama pergi kedusun untuk membersihkan rumput-rumput yang menutupi kebun buah.
- Lama kelamaan gubuk keluarga nek Jum yang berada di dusun roboh karena kayu-kayu penyangganya sudah rapuh.
- Gubuk itu akhirnya runtuh kesungai bersama “tanah tabor” (longsor) oleh aliran air sungai.
- Tempat tersebut sekarang berubah menjadi sebuah “talok” (teluk/lubuk) yang luas.
- Aku bersama kakakku pernah pergi memancing ketempat ini menggunakan perahu ketinting.
- Jika pakai ketinting, dengan kecepatan standar, waktu yang diperlukan sekitar setengah jam untuk mencapainya.
- Banyak ikan-ikan yang menghuni talok tersebut, terutama ikan “ mpikusan, lais, lapok, salap, lancang, bahkan patin”.
- Masihkah bekas gubuk keluarga nek Jum menjadi daerah yang angker?
- Sampai bertemu lagi pada cerita yang lain.


Salam, TF 1