Senin, 20 Juli 2020

Tinggal di dusun VII


Tinggal di dusun VII


Nenekku memiliki lima anak. Anak tertua seorang perempuan disusul anak kedua, ketiga, keempat semuanya laki-laki. Sedangkan ibuku sendiri menempati posisi sebagai anak terakhir. Usia ibuku sekarang tidak begitu jelas, namun menurut perkiraannya diatas enam puluh tahun. Kakekku meninggal sekitar tahun tujuh puluhan. Begitu juga nenek sudah meninggal pada tahun 2002 lalu. Saat ini yang tersisa hanya ibuku dan kakak laki-lakinya yang ketiga.

Pada saat suami nek Jum meninggal, ibuku masih kecil. Kira-kira umurnya sekitar enam tahun. Belum mengerti apa-apa dan belum sekolah. Pada zaman itu sudah ada sekolah darurat yang disebut Sekolah Rakyat (SR) setingkat SD zaman sekarang. SR hanya memiliki tiga kelas yaitu kelas satu sampai kelas tiga saja. Gurunya pun cuma satu. Usia masuk sekolah harus delapan tahun. Makanya ibuku belum bisa ikut belajar disekolah.

**********

Nek Jum. Ya, orang tua yang menjadi tokoh utama kita dalam cerita ini. Setelah kepergian sang suami, bagaimana keadannya?

Beberapa hari setelah acara mecakan keempat puluh nek Jum kembali pada kebiasaannya seperti sebelum dibawa dari dusun. Apalagi setelah anak pertama pindah kerumahnya bersama keluarganya. Nek Jum sering melamun seorang diri. Nek Jum rupanya merasa kesepian. Beberapa kejadian aneh seperti sering tidur diluar rumah membuat keluarga serta tetangga mulai prihatin. Apalagi nek Jum pernah mengaku kalau dirinya masih merindukan suaminya yang telah meninggal. Orang-orang jadi semakin yakin bahwa nek Jum masih mengalami “breii”. Padahal penyakit ini tidak ada obatnya. Anak pertama dan anak ketiga sepertinya hanya bisa pasrah pada keadaan ibunya.

Siang itu dirumah besar, nek Jum hanya ditemani oleh menantu dan cucu-cucunya. Sebenarnya, mengetahui kondisi sang ibu yang kurang baik, menantu bersama cucu-cucunya tiap hari menghabiskan waktunya dirumah itu. Mereka hanya ingin menghibur sang nenek. Akan tetapi hari itu lain daripada hari-hari yang lain. Nek Jum yang biasanya senang dengan kedatangan anak-anak tampak murung. Menurut anak ketiga, sejak pagi ibunya itu bersikap aneh dan tidak mau makan padahal tidak sakit. Setelah anak ketiga berangkat ketempat kerjanya, tinggallah menantu serta cucu-cucunya saja yang akan menemani nek Jum.

Demi menyenangkan ibunya, sang menantu siang itu sengaja memasak ayam. Ia berharap nek Jum akan punya selera makan apabila dibuatkan makanan enak. Setelah masakan ayam matang, ia lalu mencoba menawarkannya pada nek Jum. Namun orang tua ini menolak. Walaupun sudah dibujuk berkali-kali nek Jum tetap juga menolak ajakan makan itu. Ia memilih kembali ketempat tidurnya, kemudian bermalas-malasan tanpa bicara apa-apa

Mengetahui masakan ayam telah matang, cucu-cucu nek Jum yang masih kecil berebut ingin cepat-cepat makan. Padahal masih panas. Maklum, makanan enak enak dizaman itu memang jarang ada. Namanya juga anak-anak, kebiasaan berebut makanan adalah wajar karena khawatir tidak kebagian. Terutama bagi anak kedua dan ketiga yang masih kecil. Sang ibu(menantu) mencoba menengahi anak-anaknya. Makananan lalu disajikan dan dibagi secara rata. Akan tetapi, ketika sedang makan anak-anak ini tetap saja ribut menganggap pembagian daging yang kurang adil. Anak ketiga merebut daging ayam yang ada di piring adiknya. Terjadilah saling tarik-menarik daging ayam. Ribut-ribut itu akhirnya berujung saling pukul. Walaupun ibunya sudah melerai tetap saja anak-anak yang berebut ini sama-sama menangis.

Suara ribut-ribut didapur rupanya membuat nek Jum marah. Tiba-tiba saja nek Jum bangkit dari tempat tidurnya dan langsung menuju kedapur. Diangkatnya masakan daging ayam yang masih berada di panci lalu dibuangnya pada jendela. Seketika itu juga anak-anak berhenti ribut. Mereka ketakutan dengan sikap neneknya. Selama ini belum pernah nek Jum marah pada cucu-cucunya. Ia begitu menyayangi mereka. Bahkan sering memberikan uang jajan. Akan tetapi, hari itu lain dari biasanya. Setelah membuang masakan ayam, nek Jum lalu berkacak pinggang dihadapan cucu dan menantunya sambil mengomel dan memaki-maki anak-anak yang masih kecil. Ia juga mengusir mereka semua agar pulang kerumah sendiri hari itu juga. Merasa puas sesudah mengomel, nek Jum kembali tidur-tiduran seperti tanpa rasa bersalah.

Sebagai ibu dari anak-anaknya, sang menantu tentu saja merasa tersinggung dengan sikap ibunya. ia tak menyangka jika nek jum mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati. Apalagi dihadapan anak-anaknya yang masih kecil. Segera saja anak-anak yang masih ingin makan dihentikan. Cepat-cepat ia membereskan piring-piring kotor. Sang menantu lalu mengajak anak-anaknya pindah kerumah mereka saat itu juga tanpa permisi.

Sore harinya ketika anak ketiga nek Jum pulang, ia mendapati ibunya masih bermalas-malasan ditempat tidur. Ia mengaku masih belum makan. Bahkan nek Jum mengatakan kalau menantunya sengaja pergi dari rumahnya karena malas membuatkannya makanan. Anak ketiga setelah mendapat keterangan dari ibunya, walaupun ingin marah tentu saja tidak langsung percaya begitu saja. Ia paham keadaan ibunya saat itu. Maka ia pun langsung kerumah kakaknya untuk mengetahui cerita sebenarnya.

Setibanya dirumah saudaranya, kakak iparnya pun menjelaskan semua kejadian hari itu. Untunglah anak ketiga ini tidak jadi marah. Melihat keponakan-keponakannya yang masih kecil, tentu saja ia tidak tega. Tidak ada untungnya juga marah-marah pada anak-anak yang belum paham apa-apa. Ia hanya meminta agar mereka semua mengerti keadaan sang ibu dan masih mau mengunjunginya. Kakak ipar serta kakak pertamanya sangat memaklumi ibunya. Mereka berjanji masih akan mengunjungi ibunya.

Lain halnya dengan anak-anak yang masih polos. Sejak kejadian hari itu cucu-cucu nek Jum menjadi takut pada neneknya. Menurut anak yang lebih tua, nek Jum ketika marah matanya kelihatan merah seperti “hantu urang”. Mereka tidak mau lagi bertemu dengan neneknya walau pun dipaksa.

Hari-hari selanjutnya nek Jum di hanya tinggal bersama anak ketiganya saja. Sesekali saat malam jika tidak sibuk, anak pertama datang berkunjung. Kalau siang hari, ketika anak ketiga bekerja sang menantu lah yang menjaganya. Kadang membuat masakan atau mencucikan pakaiannya. Tentu saja dia datang hanya bersama anak yang paling kecil. Karena anak yang paling kecil ini tidak bisa ditinggal bersama saudaranya dirumah.

Suatu pagi, saat anak pertama pergi bekerja, sang menantu datang kerumah nek Jum. Ketika itu nek Jum sedang asyik melamun diluar rumah. Ia tidak perduli dengan kedatangan menantunya. Walaupun sudah disapa, nek Jum diam saja seperti patung. Sang menantu paham situasi. Hampir tiap hari sikap nek Jum seperti itu sejak kembali dari dusun. Ia tetap membuat masakan untuk nek Jum pagi itu.

Setelah masakan matang, sang menantu kemudian menawarkan nek Jum untuk makan. Tanpa menjawab orang tua ini hanya menggeleng. Mengetahui mertuanya yang tidak berselera makan, sang menantu lalu memberi makan anaknya yang masih kecil. Saat sedang asyik-asyiknya makan didapur, tiba-tiba saja nek Jum yang awalnya masih berada diluar masuk kedapur. Ia berdiri dihadapan menantunya yang sedang menyuapi anaknya. Tanpa bicara apa-apa nek Jum lalu merebut piring makan si kecil dan minta disuapi juga oleh menantunya. Perbuatan aneh nek Jum ini tentu saja membuat heran menantunya. Apalagi sikecil yang sedang makan malah menangis sejadi-jadinya. Nek Jum pun menjadi sangat marah.

“Ni hak ye kubenci kan kanak, pulihan nangis maha. Nuapa lang kanak alus nga bewa sini, be benciku hak kan tangisan kanak. Osok prasaku. Bewa mulang situ.” Uje nek Jum kan mata mlaneng.
(ini yang kubenci dari anak kecil, bisanya cuma menangis saja. kenapa anak yang masih kecil dibawa kemari, aku paling benci dengan tangisan anak kecil. perasaanku pusing. bawa pulang sana!) kata nek Jum dengan mata melotot.

Mendengar omelan nek Jum, sang menantu pun segera buru-buru membawa anaknya pergi. Walau pun tahu mertuanya kurang waras, tetap saja ia merasa tersinggung oleh ucapan orang tua itu. Mulai hari itu ia juga tak pernah lagi membawa anak-anaknya, bahkan si kecil pun ditinggal jika berkunjung kerumah mertuanya. Nek Jum paling benci dengan tangisan anak kecil. Anak siapa pun, termasuk anak tetangga. Jika ada anak tetangga yang menangis disebelah rumah malam hari. Nek Jum akan mengamuk sambil berteriak-teriak menggedor dinding rumahnya. Akibatnya semua anak-anak kecil menjadi takut dengan nek Jum.

Anak-anak nek Jum sebenarnya sudah berusaha untuk mengobati ibunya ke dukun. Akan tetapi, dukun mana yang bisa menyembuhkan penyakit tidak waras? Semua itu tentu saja sia-sia. Nek Jum juga pernah akan dibawa kembali ke dusun. Anak-anaknya berharap dengan berada di dusun pikiran sang ibu bisa normal kembali. Awalnya nek Jum mengikuti kemauan anak-anaknya. Namun saat perahu mulai didayung, nek Jum tiba-tiba mengamuk ingin kembali. Ia bersikeras ingin pulang kerumahnya. Kata nek Jum ia tidak mau tinggal didusun karena disana ada “hantu botak”. Anak-anak tetap memaksa mendayung perahu. Tanpa pikir panjang nek Jum lalu melompat keair. Untung saja orang tua ini bisa berenang. Anak-anak segera menyelamatkannya dan membatalkan rencana untuk membawanya ke dusun hari itu. Pada akhirnya mereka pasrah menerima keadaan ibunya tanpa tahu berbuat apa-apa lagi.

Pada malam harinya tepat tengah malam anak ketiga yang serumah dengan ibunya terbangun. Saat itu dia masih berada didalam kelambu tembus pandang. Anehnya terdengar suara orang bercakap-cakap. Awalnya ia mengira ibunya sedang berbicara dengan tetangga. Tapi mustahil ada orang lain yang berkunjung tengah malam. Perlahan ia pun duduk masih pada posisi berada didalam kelambu. Dari balik kelambu ia dapat melihat jelas ibunya yang sedang membelakang bercakap-cakap dengan seseorang. Akan tetapi yang terdengar hanya suara ibunya saja. Sedangkankan lawan bicaranya tidak terdengar sama sekali. Sesekali nek Jum menyebut kata “dosa, mati, sintak roh”. Entah apa makna kata-kata tersebut ia tak mengerti. Dengan siapakah ibunya berbicara?

Karena penasaran, anak ketiga ini pun perlahan mengintip denganmenyingkap sedikit celah kelambu untuk melihat lawan bicara ibunya. Astaga! Hampir saja ia pingsan. Di remang-remang cahaya pelita yang berada ditengah rumah, nek Jum sedang berbicara dengan seorang lelaki tua. Ya. Lelaki tua itu adalah ayahnya yang sudah meninggal berbulan-bulan lalu. Mukanya kelihatan pucat dan masih memakai “bungkus” (kain kafan).
Dengan ketakutan segera anak ketiga ini menutup kembali celah kelambunya dan pura-pura tidur. Lama sekali sampai akhirnya terdengar nek Jum menyudahi obrolan itu. “Sang tamu” sepertinya menghilang entah kemana. Lalu nek Jum masuk kedalam kelambu dan melanjutkan tidurnya.

Pada pagi harinya anak ketiga mencoba menanyakan pada ibunya peristiwa malam itu. Akan tetapi, sia-sia saja, seperti biasa, nek Jum sama sekali tidak menjawab seperti orang bisu.

**********
Perubahan-perubahan yang terjadi pada nek Jum membawa masalah bagi anak ketiganya. Apalagi sejak sang menantu yang jarang berkunjung untuk merawatnya. Sang menantu tentu saja takut. Ia lebih memilih merawat keluarga saja daripada dimarahi nek Jum. Sekarang tanggung jawab hampir sepenuhnya berada pada anak ketiga yang serumah. Nek Jum hanya mau makan jika disuapi. Bila tidak, biar seharian, nek Jum tidak akan mau makan sama sekali. Persis seperti anak kecil.

Begitulah hari-hari berjalan. Sampai akhirnya anak-anak dan menantunya menjadi terbiasa dan bosan dengan kelakuan ibunya itu. Mereka tidak lagi merasa khawatir keadaan sang ibu. Anak ketiga yang serumah tetap bekerja seperti biasanya. Akibatnya nek Jum menjadi kurang terurus, dan sering kelaparan. Walaupun begitu anak ketiga ini tetap memasakkan makanan pagi harinya. Setelah itu ia pergi bekerja dan pulang kalau sudah malam.

Kadang kala sang menantu lah yang datang mengurus nek Jum. Walau pun sering menjadi pelampiasan amarah nek Jum ia tidak jera-jera juga karena kasihan. Ada kalanya bila sang menantu tidak datang, sibuk mengurus keluarganya sendiri, hanya tetangga yang kasihan lah mengurus keseharian nek Jum. Bila anak ketiga ada dirumah, tentu semuanya bisa diurus olehnya.
Pernah pada suatu pagi, nek Jum sedang duduk melamun dipinggir sungai. Anak ketiga sudah berangkat ketempat kerjanya sejak subuh. Saat itu banyak anak kecil sedang mandi dipinggir sungai. Ada yang asyik berenang. Ada juga sedang kejar-kejaran dan bermain lumpur. Banyak juga ibu-ibu yang sedang mencuci pakaian di “pian” (rakit). Suasana saat itu ramai oleh teriakan-teriakan anak kecil yang sedang bermain dengan gembira.

Tiba-tiba saja nek Jum yang sedang melamun bangkit dari duduknya. Dibukanya seluruh pakaian yang melekat pada tubuhnya. Dengan telanjang bulat, nek Jum turun kesungai dan menceburkan diri diantara anak-anak yang sedang mandi. Nek Jum rupanya ingin mandi dan ikut bermain bersama anak-anak. Tingkah aneh nek Jum ini membuat anak-anak yang sedang asyik bermain langsung berhamburan menyudahi mandinya dengan ketakutan. Nek Jum menjadi kesal karena tak ada yang mau diajak bermain. Dilemparinya anak-anak dengan lumpur. Tentu saja hal ini membuat anak-anak semakin  berlarian menjauh. Ada juga yang sampai menangis karena ketakutan.

Tetangga yang sedang mencuci pakaian mencoba membujuk nek Jum agar mau berpakaian kembali. Nek Jum mau menurut, akan tetapi setelah berpakaian ia kembali mandi dipinggir sungai sambil berenang. Kadang kala ia bermain lumpur sambil tertawa senang seorang diri. Lama sekali nek Jum mandi sampai tetangga merasa bosan menungguinya. Orang-orang khawatir jika ditinggal sendiri nek Jum malah akan tenggelam. Kembali nek Jum dibujuk supaya menyudahi mandinya, namun nek Jum tidak perduli. Ia tetap asyik bermain-main air sambil berenang dipinggir sungai.

Entah sengaja atau tidak, tiba-tiba seorang perempuan saat itu nyeletuk.
“Nek Jum lah hak manni ngia, ne kita takut kan bheya? Kesahnya ade side nelek bheya timul berang situ! Mun bheyanya nyumerang kasini pupus kita rongkopnya, makannya bulet-bulet.”
(nek Jum, sudahilah mandinya, tidakkah nek Jum takut sama buaya? ceritanya kemarin ada yang melihat buaya muncul diseberang sana! kalau sampai buayanya menyeberang kemari nek Jum bisa digigit, lalu dimakan bulat-bulat.)

Mendengar kata “buaya”, nek Jum rupanya ketakutan. orang tua ini menangis sambil bangkit menyudahi mandinya. Seluruh pakaiannya kembali dilepaskannya. Seperti anak kecil yang ngambek, nek Jum langsung naik menuju kerumahnya dengan telanjang bulat. Para tetangga terpaksa harus membereskan dan mencucikan pakaian nek Jum yang bercecer dan kotor oleh lumpur.

Sejak hari itu nek Jum tidak mau lagi mandi disungai kecuali ditemani. Harus perempuan, nek Jum tidak mau ditemani oleh laki-laki, termasuk anaknya sendiri. Dan, siapa pun yang menemaninya harus ikut juga mandi bersamanya. Benar-benar merepotkan!

Next.

Maaf, jika kurang memuaskan.
Nantikan part 8 sebagai penutup dari cerita ini.


Salam, TF 1

Senin, 13 Juli 2020

Tinggal di dusun VI



Tinggal di dusun VI

Pagi itu matahari bersinar dengan terangnya. Walaupun ada segumpalan awan hitam didaerah hulu, namun cuaca saat itu bisa dikatakan sangat cerah. Air sungai memang sedang naik sekitar satu depa sejak tadi malam. Arusnya lumayan deras dan menyulitkan jika dilewati dengan perahu dayung. Akan tetapi, semua itu merupakan hal yang biasa bagi anak-anak nek Jum. Mereka sudah sering mendayung perahu di arus yang deras. Tak ada pilihan lain jika menyusuri sungai karena mereka memang belum memiliki perahu bermesin

Setelah selesai membuat gula merah, siang itu nek Jum bersama kedua anaknya bersiap-siap untuk pulang ke kampung. Barang-barang yang akan dibawa pun sudah diangkut pagi tadi oleh anak-anak ke perahu. Sebuah perahu berukuran cukup besar siap membawa nek Jum beserta kedua anaknya meninggalkan dusun.

Dan memang, bukan hal mudah bagi nek Jum untuk meninggalkan tempat itu. Meskipun sudah mengalami kejadian-kejadian menakutkan, ada begitu banyak kenangan indah yang pernah dilewati bersama almarhum suaminya di sini. Ia merasa seolah-olah hari ini akan menjadi hari terakhir baginya berada didusun.  Mungkin ia takkan pernah kembali.  Membayangkan itu semua, air mata pun meleleh di pipi tuanya yang sudah keriput.

Anak-anak sangat paham dengan perasaan ibunya saat itu. Mereka lalu menasehati dan menguatkan semangatnya. Bahkan anak-anak berjanji jika suatu saat sang ibu ingin ke dusun lagi, mereka juga siap membawa dan menemaninya. Trenyuh hati  nek Jum kala itu. Beruntung baginya memiliki anak-anak yang begitu berbakti kepada orang tua. Nek Jum berusaha menguatkan diri dihadapan kedua putranya. Sambil tersenyum ia menganggukan kepala. Akan tetapi jauh dilubuk hatinya, nek Jum bertekat tidak akan pernah kembali lagi ke dusun. Sudah cukup baginya selama ini merepotkan orang lain. Sudah cukup kiranya baginya merepotkan anak-anaknya.

Perlahan nek Jum bersama kedua anaknya melangkahkan kaki menuju kesungai. Di pinggir sungai nek Jum berhenti sebentar. Sementara kedua anaknya terus melangkah lalu menunggu di perahu yang sedang tertambat. Nek Jum kemudian memalingkan badan. Ia menatap kearah gubuk dengan pandangan sayu. Kiranya nek Jum merasa perlu mengucapkan salam perpisahan pada tempat itu. Sang anak yang berada diperahu hanya bisa memperhatikan ibunya dengan tatapan menerka-nerka. Beberapa saat kemudian terdengar suara sang ibu bergumam seorang diri.

“Kak, hari ni terakhir aku ade sini. Jika benehan ye ku telek hari-hari ngia kau, ku minta kau jengan lagi namui aku. Jengan lagi gengu kluargeku. Etam lah be rede’an, segala salahmu lah kumaafkan. Segela wasiatmu lah kusampaikan ke krawan ngkanak. Permintaan maafmu juge lah kusampaikan keurang lain. Alam etam lah beda. Kau nade beurusan lagi kan dunia. Aku lah ikhlas. Mulai mini mulang hak ke alammu!”

Setelah mengucapkan kata-kata itu nek Jum menunduk sebentar sambil menarik napas berkali-kali. Selang beberapa waktu ia mengangkat kepala dan bergumam lagi. Akan tetapi kali ini ucapannya lebih nyaring, tegas dan sedikit mengancam. Anak-anak yang mendengar sampai merinding.

“Jika memang selama ni ye ku telek iblis, lain lakiku, ingati caranganku ni. Jengan lagi nyerupai lakiku. Jengan genggu aku kan kluargeku. Dunia akherat aku ne rede. Kami nade urusan kan kita. Jengan macam-macam. Selama aku maseh hidup, jengan harap depat ngodei kluargeku.”
Sesudah mengucapkan kata-kata itu nek Jum kembali menuduk sambil bergumam tidak jelas. Mungkin ia sedang membacakan doa-doa atau mantera yang tak dipahami oleh kedua anaknya. Beberapa saat kemudian nek Jum berpaling dan melangkah menuju ke perahu. Ia tak lagi menoleh kebelakang. Langsung duduk diperahu begitu saja dan meminta kedua anaknya mulai mendayung perahu mudik ke kampung halaman.

*Gaess, maaf ya. Khusus pada part  ini, ucapan nek Jum dalam bahasa kutai takkan kami terjemahkan ke bahasa Indonesia. Bagi yang mengerti, alhamdulillah. Bagi yang tidak paham silakan berusaha mencari artinya. Atau …..tanyakan ke admin lain di kolom komentar nanti, heheheee*

**********

Perahu kayu mulai bergerak perlahan menyusuri sungai belayan. Anak-anak nek Jum mendayungnya dengan penuh semangat. Ada kalanya nek Jum sendiri ikut mendayung perahu membantu kedua anaknya. Untuk mengisi waktu sebelum sampai dikampung, mereka mengobrol sepanjang perjalanan. Nek Jum meminta kedua anaknya agar tidak menceritakan semua kejadian yang pernah mereka alami selama berada di dusun kepada orang lain. Tidak semua orang mempercayai cerita aneh semacam itu. Ia tak mau orang lain menganggap keluarganya pembohong. Kedua anaknya pun setuju dengan keinginan ibunya. Akan tetapi, kelak dikemudian hari malah nek Jum sendiri yang bercerita kepada orang lain.

Kurang lebih tiga jam lamanya mendayung perahu tanpa henti sampailah mereka di desa Tuana Tuha. Saat itu waktu menunjukkan sekira jam dua sore. Kedatangan nek Jum disambut  gembira oleh menantu dan cucu-cucunya. Cukup lama mereka tak berjumpa dengan sang nenek. Keadaan nek Jum ketika itu pun baik-baik saja. Ia bahkan tampak lebih sehat dan bersemangat dari sebelumnya. Para tetangga dan kerabat berdatangan kerumah untuk bertamu merasa ikut gembira melihat perubahan nenek tua itu.

Pada hari itu anak pertama nek Jum mengajak kembali istri dan anak-anaknya untuk pindah sementara di rumah sang ibu. Ia ingin ibunya merasa lebih terhibur dengan berkumpulnya seluruh keluarga mereka. Hari-hari pun dilewati oleh nek Jum dengan gembira. Rasa kesepiannya terobati. ia hampir benar-benar melupakan semua kejadian buruk yang menghantui pikirannya selama ini. Anak-anak nek Jum dapat bekerja kembali tanpa rasa khawatir. Kehidupan dikeluarga mereka akhirnya bisa berjalan normal seperti biasa.

Suatu hari, tepatnya dihari keempat puluh sejak meninggalnya suami nek Jum diadakan kembali acara “mecakan”. Khusus hari itu acara diadakan lebih meriah dari biasanya karena anak ketiga sengaja menyembelih dua ekor kambing untuk santapan para undangan. Bagi orang-orang kampung, makanan berupa daging adalah yang paling istimewa. Jarang ada kecuali pada hari raya kurban. Diperkirakan malam nanti akan lebih banyak orang-orang yang hadir. Kerabat dan tetangga berkumpul dirumah keluarga nek Jum. Mereka semua datang membantu memasak dan menyiapkan segala sesuatunya untuk malam nanti. Rumah keluarga nek Jum menjadi lebih ramai daripada biasanya.

Siang harinya nek Jum mengajak seluruh keluarganya untuk berziarah kemakam suaminya. Mereka semua berdoa secara khusus untuk almarhum. Ada rasa haru menyelimuti semua yang hadir ditempat itu. Sesekali nek Jum menyeka air matanya. Tak bisa ditahan, air mata keluar dengan sendirinya. Terbayang kembali masa-masa indah bersama suminya dulu. Terbungkus menjadi satu dalam kenangan yang takkan terlupakan sampai kapan pun. Cukup lama mereka berada di makam. Selesai berdoa mereka pun pulang kerumah. Kembali pada kesibukan bersama kerabat dan tetangga menyiapkan acara mecakan malam nanti.

Sejak sore menjelang maghrib sudah banyak orang berkumpul dirumah nek Jum. Selesai shalat isya dilanjutkan dengan pembacaan doa bagi almarhum. Setelah itu menyantap makanan  istimewa dari daging kambing. Makanan langka bagi orang kampung saat itu. Undangan yang hadir lebih banyak dari biasanya. Walaupun demikian, makanan yang disajikan masih banyak lebihnya. Sisa-sisa itu nantinya akan dibagi-bagi oleh kaum ibu didapur untuk dibawa pulang. Acara mecakan malam itu berjalan dengan lancar berkat bantuan semua pihak yang datang.

Setelah acara selesai para undangan pulang kerumah masing-masing. Tinggal beberapa tetangga perempuan dan keluarganya yang masih tersisa untuk membantu membereskan peralatan dapur. Di sela-sela kesibukan menata letak alat dapur nek Jum malah bercerita kepada semua orang yang masih ada saat itu. Ia menceritakan pengalaman selama berada didusun bersama kedua anaknya. Cerita yang aneh, tidak masuk akal dan menakutkan. Rata-rata percaya karena ditambah kesaksian dari kedua anaknya.

Sejak saat itulah cerita ini menyebar kemana-kemana. Hampir sekampung menjadi tahu. Berbagai tanggapan kembali muncul. Ada yang percaya lalu menjadi takut. Akan tetapi lebih banyak orang yang menganggap cerita ini hanya karangan dan khayalan saja. Karena semua orang juga tahu dan memaklumi kondisi nek Jum saat itu.

**********

Sejak nek Jum dibawa pulang kekampung aktivitas di dusun tetap berjalan seperti biasa. Anak pertama tiap hari pulang-pergi dari kampung ke dusun untuk menyadap aren dan membuat gula merah. Beberapa kali kejadian aneh pernah dialaminya. Anak tertua nek Jum bukan hanya pemberani, tetapi kurang mempercayai hal-hal mistis. Hanya ada dua pengalaman yang pernah diceritakannya pada orang lain. Menurutnya, barang-barang di gubuk yang berada di dusun sering berhamburan dengan sendirinya saat ia tiba. Awalnya dia mengira perbuatan binatang atau mungkin orang lain. Akan tetapi pintu gubuk masih terkunci dengan baik. Barang-barang itu disusunnya kembali. Ketika sore barang-barang itu terhambur lagi.

Anak pertama nek Jum memang jarang berada didalam gubuk. Ia banyak menghabiskan waktu digubuk “nglue’an” saja. Pernah juga baju-baju almarhum ayahnya yang ada digubuk malah berada di ngule’an. Seharusnya baju-baju itu terlipat rapi digubuk. Aneh memang. Apalagi kejadiannya siang hari. Akan tetapi, anak pertama ini tidak menganggap perbuatan hantu karena selama bekerja disini ia belum pernah mendengar maupun melihat ada penampakan aneh ditempat itu.

Konon kata orang gubuk di dusun yang ditinggalkan oleh penghuninya akan dihuni oleh makhluk tak kasat mata sejenis hantu. Apalagi jika penghuninya telah meninggal. Tempat tersebut akan di huni oleh “pengari”. Lebih lengkapnya tentang pengari, silakan baca di 

Ada lagi pengalaman dialami orang lain yang pernah sampai ketempat ini. Cerita berikut kami dapat dari orang lain

Suatu ketika seorang warga pergi menjala ikan malam hari melewati tempat ini. Zaman dulu banyak orang yang menjala ikan malam hari untuk mencari udang. Orang-orang ini sudah pasti bukan penakut. Makanya mereka sampai berani pergi ketempat yang jauh dari perkampungan.
Awalnya ia menjala ikan jauh dari gubuk nek Jum. Dikejauhan ia melihat ada cahaya obor menyala turun dari atas (daratan) kesungai. Perkiraannya seseorang sedang bermalam digubuk. Maka didayunglah perahu ketempat itu. Saat ia mendekat, nyala obor tersebut seperti berlari kembali naik keatas dan menuju kegubuk. Masih penasaran, orang ini lalu menambatkan perahunya ke pian(rakit). Ia lalu naik berjalan kegubuk dengan menggunakan senter.

Saat itu bulan muda. Ketika memasuki malam bulan sabit akan muncul, akan tetapi tengah malam bulan akan tenggelam kembali. Ikan dan udang  sulit didapat bila ada cahaya bulan. Hewan-hewan air ini hanya akan banyak didapat apabila keadaan gelap total. Maka ia pun bermaksud mampir dulu digubuk nek Jum untuk mengobrol mengisi waktu sampai bulan tenggelam. Saat itu dia mengira nek Jum dan anak-anaknya masih bermalam ditempat itu.

Perlahan ia melangkahkan kaki sampai ketangga gubuk. Dari luar terlihat ada kilatan cahaya pelita didalam gubuk yang berarti masih ada penghuninya. Berkali-kali ia memanggil nek Jum dan anak-anaknya dengan harapan supaya dibukakan pintu. Akan tetapi tidak ada sahutan sama sekali. Merasa tidak dihiraukan, orang ini pun berbalik untuk kembali turun keperahunya. Baru beberapa langkah meninggalkan gubuk, tiba-tiba saja terdengar suara perempuan terbatuk-batuk. Pasti nek Jum yang sedang terbatuk, pikirnya. Akan tetapi saat membalikkan badan dan menoleh kegubuk, cahaya pelita yang tadi dilihatnya tidak ada lagi. Gubuk itu gelap gulita.

Orang ini mulai merasa takut. Buru-buru dia melangkah ke perahu. Saat ia akan membuka tali perahu yang tertambat pada “pian” (rakit),  tiba-tiba saja terdengar suara lemparan tanah berhamburan disekitarnya. Ada beberapa yang sampai mengenai tubuhnya. Tanpa pikir panjang lagi ia langsung mendayung perahu untuk pergi sejauh-jauhnya dari tempat itu. Anehnya ketika menoleh kesamping,  ternyata posisi perahu tidak menjauh sama sekali. Ia masih berada ditempat itu-itu juga.

Didayungnya lagi perahu semakin kuat namun tetap tidak berpindah. Akhirnya tahulah ia bahwa tali perahunya rupanya masih terikat. Lemparan tanah kecil-kecil semakin banyak. Karena sangat takutnya orang ini lalu mengambil parang dan memotong tali perahunya. Selamatlah dirinya dapat meninggalkan tempat itu walau dengan dengan tubuh gemetar ketakutan. Sejak saat itu pula dia tidak pernah lagi menjala ikan di dekat gubuk keluarga nek Jum.

Bukan hanya orang ini, siapa saja yang pernah melewati gubuk nek Jum yang berada didusun malam hari pasti akan dilempari oleh penunggunya dengan tanah kecil. Anehnya tanah kecil-kecil itu hanya berupa suara benda berhamburan. Jika diterangi dengan cahaya tidak ada bendanya. Jika disorot dengan senter pun tidak kelihatan wujud makhluk yang melemparkannya. Sejak saat itu gubuk keluarga nek Jum yang berada didusun menjadi tempat paling angker dan harus dijauhi oleh para penjala ikan malam hari.

**********

Sehari setelah acara mecakan keempat puluh, anak pertama nek Jum pindah kembali kerumahnya. Semua itu dilakukan atas izin nek Jum juga. Kondisinya sudah normal. Jika pun rindu dengan cucu-cucunya mudah saja, tinggal mengunjungi karena letak rumah anak pertama tak begitu jauh. Atau minta dikunjungi. Anak pertama menjanjikan siap sedia membawa keluarganya menginap kembali dirumah besar itu jika diperlukan. Mulai hari itulah nek Jum akan tinggal dirumah hanya ditemani oleh anak ketiga saja.

Hari-hari berjalan normal seperti biasanya. Anak-anak nek Jum kembali sibuk dengan pekerjaannya. Pada siang harinya, menantu serta cucu-cucu nek Jum kadang mengunjungi dan bermain dirumah sang nenek. Nek Jum tentu senang sekali. Akan tetapi kalau menjelang malam, mereka pulang kerumahnya. Dari sinilah rasa kesepian kembali menghantui nek Jum. Tidak ada yang menyadarinya, bahkan nek Jum sendiri.

Suatu malam, anak ketiga yang tinggal bersama merasa heran pada ibunya. Nek Jum mengigau dalam tidurnya. Ia menyebut-nyebut  kata “dusun” berkali-kali sambil tertawa. Buru-buru sang ibu dibangunkan. Kata nek Jum ia hanya bermimpi masih berada di dusun bersama suaminya sambil bercanda. Yah, mungkin memori bahagia saat dulu masih bersama suaminya terbuka dalam bentuk mimpi. Hal yang wajar, menurut anak pertama. Ia tidak khawatir sama sekali. Mereka pun tidur kembali sampai pagi.

Pada pagi harinya anak ketiga yang bangun merasa heran dengan keadaan rumahnya. Sepi sekali. Nek Jum yang biasanya memasak makanan pagi-pagi tidak terdengar suaranya didapur. Setelah dicari pada sekeliling rumah pun tidak ada. Hampir saja anak ketiga mencari kekuburan. Ia khawatir kejadian beberapa minggu yang lalu terulang lagi. Ketika keluar rumah, alangkah kagetnya ia melihat ibunya sedang tiduran di luar rumah. Ibunya tidur dilantai tanpa alas dan bantal. Sang ibu pun segera dibangunkan. Nek Jum sendiri mengaku tidak tahu awal mulanya bisa berada di luar rumah saat itu.
Bukan sekali dua kali peristiwa ini terjadi. Walau pu tidak setiap malam, nek Jum sering ditemukan tidur diluar rumah. Bahkan pernah juga diluaran rumah tetangga. Setiap ditanya nek Jum hanya menjawab tidak tahu. Anak-anak mulai khawatir. Sang ibu bisa saja berbohong. Mungkin saja nek Jum menutup-nutupi masalahnya. Apa yang terjadi pada nek Jum

Pernah ada tetangga yang menanyakan, apakah nek Jum masih merindukan suaminya? Ya, nek Jum menjawab dengan terus terang. Tapi, katanya tidak separah diawal. Walaupun mulut mengikhlaskan, semua orang tahu nek Jum sebenarnya sangat merindukan suaminya itu. Penyakit breii yang dulu sepertinya kambuh kembali, atau memang  belum hilang. Nek Jum hanya menutup-nutupi agar orang lain tidak khawatir padanya. Bukan dugaan saja, bukti nyata dapat dilihat dari sikap kesehariannya yang sering melamun. Hanya bedanya nek Jum tidak pernah lagi ketiduran dikuburan.

Dikemudian hari, orang-orang mengatakan nek Jum menjadi tidak waras akibat breii. Saat itulah nenekku masuk dan mengambil peran dalam kehidupan keluarga nek Jum.


Next.

Maaf ya jika bagian ini berputar-putar dan gak greget.
Mau gimana lagi, kemampuan kami menulis cuma segitu.
Terima kasih masih mau membacanya dalam hati.


Salam, TF 1

Jumat, 10 Juli 2020

Tinggal di dusun V


“Kraazz…gedebuuuk….buuukk!”

Suara benda jatuh menimpa atap gubuk yang terbuat dari daun ilalang. Setelah itu, meluncur dan jatuh ketanah. Sementara suara burung hantu yang aneh terus saja memecah kesunyian malam yang gelap dan dingin.

Kedua anak nek Jum bukan main kagetnya. Sang adik memperkirakan atap gubuk kejatuhan buah nangka disamping gubuk. Akan tetapi menurut kakaknya, pohon nangka yang berada disamping gubuk itu tidak ada buahnya. Sang kakak lebih tahu karena tiap hari kedusun. Lalu suara apakah itu?

Kedua anak nek Jum lalu diam memperhatikan akan ada apa lagi selanjutnya. Nek Jum sendiri sepertinya masih lelap dalam tidur. Ia seakan tidak terpengaruh kejadian saat itu.

“Krasss….kraasss….kraasss….”

Terdengar suara langkah kaki beberapa orang menginjak dedaunan kering dari arah belakang gubuk semakin mendekat. Langkah kaki itu tidak berhenti melainkan bergerak mengelilingi gubuk.

Kakak beradik ini semakin menajamkan pendengarannya.  Mulailah sayup-sayup terdengar suara tangisan perempuan mengikuti suara langkah kaki yang terus saja berputar-putar tanpa henti. Ada perbedaan pendengaran di sini. Menurut sang adik selain mendengar langkah kaki dan suara tangisan perempuan,  dia juga mendengar ada suara orang berzikir. Suara berzikir tersebut kadang menjauh, kadang mendekat seolah-olah berada disamping telinganya. Beda dengan sang kakak yang mengaku hanya mendengar suara langkah kaki berkeliling saja. Walaupun begitu, kedua kakak beradik ini mulai ketakutan. Bulu kuduk keduanya meremang berkali-kali.

Tiba-tiba saja nek Jum yang sedang lelap dalam tidurnya terbangun. Kejadian itu berlangsung begitu cepatnya hingga anak-anak hanya bisa menatap aneh tingkah ibunya karena masih kebingungan. Tanpa bicara apa-apa nek Jum langsung menyalakan obor.  Diambilnya  parang yang terselip didinding lalu membuka pintu sambil berteriak-teriak seperti orang gila.

“Oii…hantu claka, bengsat! Kita ngia ye munuh lakiku. Parak hak sini ku marang. Awas haje yoh mun ne mau jeuh, ku timpasi kita kala gelanya. Tunggu hak saneh!”

(woii…hantu bangsat! kalianlah yang telah membunuh suamiku. kalau dekat kesini akan ku tebas dengan parang. awas saja kalau tak menjauh. akan kutebas kalian semua. tunggu saja!)

Setelah mengatakan kata-kata makian itu nek Jum lalu turun dari gubuk sambil mengacungkan parang. Kedua anak nek Jum yang sudah sadar dengan kedaan segera menyusul untuk menghentikan sang ibu. Terlambat, karena nek Jum sekarang sudah berada ditanah. Ia lalu berhenti dibawah pohon nangka sambil menebaskan parang kesana kemari. Setelah itu ia mengarahkan parang ke batang pohon nangka. Persis seperti orang sedang menebang pohon masih sambil memaki-maki.

Anak pertama dan kedua kemudian berusaha menenangkan ibunya. Tubuh nek Jum langsung dipegangi dan didekap sekuat mungkin oleh anak pertama. Sementara obor dan parangnya berhasil direbut oleh anak ketiga. Tak ingin ada yang terluka, parang itu lalu dilemparkannya ke padang rumput, sedangkan obor ditancapkan ke tanah sebagai penerangan.

Nek Jum berusaha terus berontak sekuat mungkin. Ia masih terus berteriak keras sambil berusaha untuk melepaskan diri. Akan tetapi tubuh tua itu tentu saja tidak bisa mengalahkan kuatnya tenaga anak pertama. Nek Jum akhirnya benar-benar dapat ditaklukan setelah sang adik membantu kakaknya itu. Sang ibu berhasil di dudukkan ketanah. Beberapa saat kemudian tubuh orang tua itu melemas dan pingsan.

Kedua anak nek Jum segera membawa masuk kedalam gubuk. Kemudian mereka membaringkannya dilantai beralaskan tikar. Kakak beradik ini kebingungan dan sedih melihat keadaan ibunya. Mereka tidak tahu lagi harus minta tolong pada siapa. Tak seorang pun ada ditempat itu. Belum sempat kedua anak itu berpikir jernih nek Jum tiba-tiba saja tersadar dari pingsannya dan bangkit kembali. Akan tetapi, sebelum nek Jum berdiri, kedua anaknya dengan sigap mendekapnya sekuat mungkin. Sang ibu berusaha sebisa mungkin dibaringkan kembali sambil tangannnya terus dipegangi.

Nek Jum mencoba terus berontak lagi untuk melepaskan diri. Ia menjerit sekeras-kerasnya minta dibiarkan. Matanya melotot seperti orang kesurupan. Napasnya menggeram bagai kerbau mengamuk. Akan tetapi semakin ia berontak, semakin kuat pula kedua anaknya berusaha menahan dan memegangi. Mereka sama sekali tak ingin melepaskan ibunya.

Menurut cerita anak pertama, kekuatan ibunya kala itu tidak seperti biasanya. Dalam kedaan normal ibunya yang sudah tua tidak mungkin punya tenaga sekuat itu. Seandainya tanpa bantuan adiknya, ibunya pasti sudah terlepas dan pergi entah kemana.  Tangannya sendiri sampai terluka akibat cakaran kuku-kuku ibunya.

Di saat –saat genting dan membingungkan itu anak ketiga yang sangat ketakutan membacakan beberapa ayat-ayat pendek. Menurutnya, bacaan-bacaan itu keluar dari mulutnya tanpa ia sadari. Mungkin karena saking takutnya, jadinya bacaan itu diucapkannya terbolak-balik. Hanya surah alfatihah yang dapat dibacakan dengan sempurna.

Mendengar sang adik yang membaca surah alfatihah, sang kakak pun ikut-ikutan membacanya. Jadilah kini mereka berdua bersama-sama membaca surah alfatihah. Semakin keras sang ibu menjerit, semakin nyaring pula mereka membacakan doa. Hanya surah itu yang mereka hapal dengan baik dan dibacakan berulang-ulang.

Cukup lama hal itu berlangsung sampai akhirnya nek Jum menyerah juga. Tubuhnya melemas, tidak lagi berontak dan menjerit seperti tadi. Nek Jum terbaring lunglai dilantai sambil menangis sesenggukan. Melihat ibunya yang sudah agak tenang kedua anaknya pun melepaskan. Mereka sedikit bernapas lega namun sangat kelelahan. Begitu juga nek Jum. Keadaannya sangat menyedihkan. Rambutnya kusut dan pakaiannya robek dibeberapa bagian. Ia kelihatan sangat kehausan.

Melihat keadaan ibunya, anak ketiga pun segera memberikan air minum. Hampir tiga gelas dihabiskan oleh ibunya kala itu. Setelah meminum air,  nek Jum benar-benar tenang kembali. Napasnya sudah teratur seperti biasanya. Hanya saja untuk berbicara ia masih terbata-bata.

‘**********

Subuh itu, waktu diperkirakan  menunjukkan pukul empat pagi. Kondisi nek Jum sudah normal seperti biasanya. Suara burung hantu yang aneh masih saja terdengar, hanya saja jauh berada diseberang sungai. Nek Jum bersama kedua anaknya tidak memperdulikan suara itu. Setelah mengganti pakaiannya yang robek nek Jum mulai bercerita pada anaknya tentang kejadian beberapa waktu yang lalu.


Di mulai dari suara benda jatuh diatas atap. Nek Jum kala itu sudah terbangun. Ia sama terkejutnya dengan kedua anaknya. Hanya saja tidak ada yang tahu kalau nek Jum membuka mata karena keadaan yang agak gelap. Ia dalam keadaan sadar. Lalu terdengar suara langkah kaki berkeliling gubuk sambil berzikir, tertawa dan menangis. Sama seperti suara-suara saat ia menunggui jenazah suaminya dulu. Bukannya ketakutan, ia malah menjadi sangat berani dan marah karena merasa terganggu. Diambilnya parang untuk membunuh makhluk-makhluk itu.

Saat nek Jum membuka pintu, tepat didepan tangga ia melihat berdiri empat orang bertubuh pendek memakai baju putih-putih sedang menggotong tubuh suaminya. Keempat orang inilah yang berzikir. Suaminya sendiri kelihatannya masih hidup dan telanjang bulat seperti yang pernah dilihatnya siang tadi. Nah, suara tawa dan tangisan yang mereka dengar berasal dari suaminya ini.

Nek Jum tahu bahwa makhluk yang berada didepannya bukanlah manusia. Rasa takutnya hilang berganti menjadi amarah yang tak tertahankan. Maka turunlah ia ketanah untuk menebas mereka semua dengan parang. Keempat makhluk bertubuh pendek itu lalu lari berhamburan kehutan. Termasuk suaminya. Akan tetapi, kata nek Jum suaminya yang telanjang lari memanjat pohon nangka. Karena masih marah, maka nek Jum bermaksud menebang pohon nangka sampai roboh supaya ia dapat menebas hantu yang sudah menyamar menjadi suaminya. Setelah itu ia tidak mengingat apa pun sampai kedua anaknya memberikan air minum. Demikianlah nek Jum mengakhiri ceritanya.

Kedua anak nek Jum mendengarkan cerita itu dengan perasaan tegang dan takut. Tidak ada pilihan lain bagi mereka selain harus mempercayai semua ucapan ibunya.

Fajar perlahan menyingsing dari arah timur. Saat itu suara burung hantu sudah lenyap oleh kokok ayam bersahut-sahutan menyambut mentari yang sebentar lagi akan terbit. Kedua anak nek Jum berencana akan membawanya pulang siang hari nanti. Kali ini, apa pun alasannya, nek Jum harus dibawa kekampung.


Next.


Selamat bobok, TF 1