Selasa, 07 Juli 2020

Penguburan


Prosesi menguburkan jenazah di desa

Agama islam masuk ke desa Tuana Tuha diperkirakan sekitar abad ke – 18. Sampai saat ini 99,999% penduduknya adalah muslim. Kalau pun ada nonmuslim, mereka adalah pendatang yang berasal dari tempat lain untuk bekerja atau menetap di sini. Jauh sebelum masuknya ajaran islam, nenek moyang kami dulu menganut agama kepercayaan dan Hindu. Ada  juga yang tidak beragama sama sekali. Beberapa ajaran agama Hindu masih menjadi tradisi bagi warga turun-temurun hingga sekarang. Kami belum menemukan sumber bagaimana proses pemakaman orang meninggal pada zaman dahulu. Yang akan kita bahas nantinya adalah proses pemakaman sejak masuknya ajaran islam hingga saat ini.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengarahkan pada sentimen agama. Sama sekali tidak. Di negara kita, setiap orang bebas memilih agama berdasarkan keyakinannya.

“kau yang bukan saudaraku dalam iman adalah saudaraku dalam kemanusiaan”, kata Imam Ali.

Begitu juga dengan uraian berikut, bebas dibaca oleh siapa saja. Hitung-hitung buat nambah wawasan. Supaya teman-teman tahu bagaimana prosesi pemakaman dikampung kami.


Jika ada orang meninggal di kampung kami ada tradisi yang masih berjalan dengan baik hingga sekarang. Kalau zaman dulu, berita kematian akan menyebar dari mulut kemulut hingga orang sekampung akan tahu. Bedanya dengan zaman sekarang, biasanya berita kematian warga diumumkan lewat masjid menggunakan pengeras suara (toa).

Apabila ada orang meninggal, warga yang mengetahui berbondong-bondong datang melayat, ikut berduka, menghibur, berdoa dan memberikan bantuan kepada keluarga si fulan. Dari bantuan bahan makanan, uang dan tenaga. Tidak ada panitia khusus, warga membantu sukarela. Kelompok kerja terbentuk dengan sendirinya. Dari kerabat, tetangga sampai orang lain pun akan meluangkan waktunya secara khusus hari itu demi membantu sesuai kemampuannya masing-masing.

Ada kelompok yang bertugas mengambil kayu bakar dan memasak makanan guna makan bersama hari itu. Proses memasak makanan ini dilakukan ditanah menggunakan tenda. Kaum ibu menyiapkan berbagai keperluan dapur. Laki-laki, perempuan, sampai anak-anak bekerja secara gotong royong.   Sedikit banyak bantuan-bantuan itu dapat meringankan beban bagi keluarga yang sedang dilanda musibah kematian.

Tradisi dalam kepengurusan jenazah pun dilakukan secara islam. Maka untuk mengurus jenazah, dari mulai memandikan, mengkafani, menyolatkan sampai menguburkan ada orang-orang yang sudah dipercaya secara khusus. Kami menyebutnya “Prewa”. Prewa adalah orang-orang yang mengerti dalam urusan agama dan cara mengurus mayat. Mereka rata-rata orang tua yang terdiri dari laki-laki dan perempuan.

Tugas prewa biasanya dibantu oleh pihak keluarga terdekat orang yang meninggal, misalnya anak atau istrinya. Apabila orang yang meninggal adalah laki-laki, maka yang memandikannya adalah prewa laki-laki. Untuk jenazah perempuan akan ditangani oleh prewa perempuan. Boleh juga yang memandikan jenazah pihak keluarga saja. Jika kurang mengerti, maka para prewa akan memberikan petunjuk. Setelah dimandikan, jenazah kemudian dibungkus kain putih (kafan) untuk selanjutnya disholatkan oleh prewa bersama warga yang lain di rumah itu juga. Bisa juga jenazah disholatkan pada masjid atau langgar jika jaraknya dekat. Selesai disholatkan, jenazah siap untuk dibawa kepemakaman.

Tak jarang sebelum benar-benar dibawa ke kubur jenazah harus menunggu beberapa waktu, tergantung keputusan pihak keluarganya. Kadang harus menunggu kedatangan sanak family pihak keluarga yang berada ditempat lain atau kebetulan berumah ditempat jauh.  Proses penguburan juga bisa tertunda jika sedang hujan deras atau lubang kubur belum selesai digali. Apabila semuanya beres, jenazah dimasukkan kedalam “engongan” (keranda) lalu di tandu menuju tanah pemakaman.

Di desa kami terdapat tiga lokasi khusus pemakaman. Yaitu pada bagian hulu, tengah, dan hilir kampung. Ketika orang meninggal, ada warga yang bekerja di pemakaman membuat lubang kubur. Mereka adalah para tetangga dan orang lain yang juga tidak ditunjuk secara khusus. Siapa saja boleh ikut membantu menggali tanah. Biasanya orang-orang yang menggali kubur adalah orang tua dan kaum remaja. Letak lubang ini digali berdasarkan keinginan pihak keluarga almarhum. Tanah digali memakai cangkul dan sekop dengan ukuran kurang lebih 2 x 1 meter. Kedalamannya sekitar 2 meter atau setinggi orang dewasa untuk menghindari di bongkar oleh binatang hutan, misalnya babi. Hal ini dilakukan karena tanah pemakaman di desa kami (hulu dan hilir) posisinya berada di hutan.

Khusus untuk lubang kubur anak-anak dibuat lebih kecil dan dangkal tergantung ukuran tubuhnya.  Untuk orang dewasa dan orang tua ada yang dibuat berdasarkan ukuran panjang tubuh almarhum yang sudah meninggal namun tetap dengan kedalaman kurang lebih 2 meter.

Setelah proses penggalian selesai, selanjutnya akan diberitahukan pada orang-orang yang sedang berada dirumah almarhum jika lubang kubur telah siap.

Atas izin dari pihak keluarga, jenazah dalam keranda lalu di bawa menuju kuburan dengan berjalan kaki. Keranda di angkat oleh empat sampai enam orang dewasa. Ada hal unik yang dilakukan saat keranda ditandu keluar rumah. Pihak keluarga biasanya akan membagikan kue “serabai” dan “tumpi”pada anak-anak yang ada ditempat itu. Orang dewasa pun boleh juga mengambilnya. Penulis kurang tahu tujuannya untuk apa. Selanjutnya berduyun-duyunlah orang-orang mengantarkan jenazah si fulan menuju tempat  peristirahatan terakhirnya.

Setibanya diatas lubang kubur, jenazah lalu dimasukkan kedalam tanah oleh keluarga terdekatnya sendiri. Biasanya oleh anak, saudara, kerabat, atau orang lain yang dipercaya. Seorang prewa lalu mengumandangkan adzan diatas kubur. Posisi jenzah dibaringkan miring menghadap kearah kiblat. Kain kafan dibuka ikatannya. Ditutup dengan papan yang disebut “dinding ari”. Perlahan lubang kubur diisi dengan tanah sampai dinding ari tertutup. Setelah itu orang-orang yang berada didalam kubur keluar, lubang lalu ditumpuk dengan tanah lagi hingga benar-benar penuh dan padat.

Selanjutnya diatas gundukan tanah ditancapkan sebuah nisan bertuliskan nama almarhum dan tanggal meninggalnya. Nisan dibuat dari papan atau balok kayu ulin. Untuk nisan laki-laki bentuknya bulat panjang sedangkan perempuan bentuknya pipih. Setelah itu gundukan tanah disiram dengan air yang disebut orang “ngucur”. Air untuk ngucur merupakan campuran dari air biasa, bunga dan daun pandan.

Selesai ngucur, mulailah proses mendoakan almarhum yang dipimpin oleh tokoh agama(prewa) tadi. Diawali dari berzikir bersama, pembacaan nasehat kematian dan pembacaan doa yang diaminkan oleh semua orang yang hadir. Selesailah proses pemakaman dan orang-orang akan pulang. Perlu diketahui bahwa semua prosesi kematian diatas dilakukan secara gotong-royong. Tidak ada yang diberi upah atas bantuannya.

Apakah ada orang melakukan penguburan pada malam hari? Jawabnya ada, walapun jarang sekali. Kami sudah berkali-kali menghadirinya. Proses penguburan malam hari dilakukan pada jenazah yang butuh perlakuan khusus dan darurat. Misalnya jika ada orang meninggal karena terjatuh keair atau kecelakaan. Pada saat ditemukan dalam keadaan rusak membutuhkan penguburan secepatnya supaya tidak busuk diudara terbuka.

Sebelum benar-benar menuju rumah masing-masing, orang-orang yang telah hadir dan membantu prose pemakaman selalu diundang pihak keluarga kerumah duka untuk mencicipi makan. Semua itu dilakukan sebagai bentuk rasa terima kasih kepada semua pihak. Sejak siang itu pula dimulailah acara “mecakan” selama tiga malam berturut-turut, lalu dilakukan lagi pada malam ke 7, 14,25,40,70 dan 100. Masih ada lagi acara mecakan yang dilaksanakan setiap tahun pada tanggal kematian almarhum. Mecakan setiap tahun ini disebut “ mhaul” (haulan). Haulan boleh dilaksanakan boleh juga tidak tergantung kemauan dan ekonomi pihak keluarga. Seringkali acara haulan dilakukan pada malam hari raya idul fitri atau hari raya idul adha. Makanan yang dihidangkan berupa soto, sop, nasi ayam atau kue.


Acara mecakan sudah pernah kami jelaskan pada tulisan sebelumnya. Secara umum, mecakan berarti mengundang kerabat, tetangga, atau siapa saja untuk berdoa dirumah almarhum setelah shalat Isya. Mecakan bisa juga diadakan siang hari. Setelah selesai pembacaan doa, orang-orang yang hadir diberi makan oleh tuan rumah.

Semua biaya pengadaan makanan selama mecakan ditanggung oleh tuan rumah ditambah sumbangan dari warga. Kalau zaman sekarang, pihak keluarga yang meninggal mendapat bantuan dana dari sumbangan wajib warga melalui panitia khusus yang sudah cukup lama dibentuk. Sumbangan ini disebut “rukun kematian”. Petugasnya adalah ketua RT masing-masing.

Ketika ada orang meninggal, semua ketua RT akan memungut uang rukun kematian dari warganya. Jika yang meninggal orang dewasa, per KK dipungut biaya tiga ribu rupiah. Untuk anak-anak, dua ribu rupiah. Setelah semua terkumpul, lalu diserahkan pada keluarga si fulan. Selain menyumbang melalui panitia, kita juga boleh menyumbang lagi langsung kerumah almarhum. Bisa berupa beras, minyak, gula dll. Bantuan-bantuan ini diharapkan dapat sedikit meringankan beban pihak keluarga yang sedang mengalami musibah kematian.

Ada hal unik dan terkesan lucu dalam acara mecakan ini. Berlaku bagi anak-anak masih kecil pada masa kami dulu. Sebuah momen yang ditunggu-tunggu. Bagi anak seusia kami yang belum terlalu mengerti berduka, mecakan berarti makan-makan enak secara gratis. Makanan yang dihidangkan untuk undangan berupa soto, sop, ayam dan nasi atau bisa juga kue. Jenis makanan itu juga tergantung keinginan pihak keluarga yang meninggal. Untuk jenis kue biasanya berupa kue “bingkak, bubur susu, dan mesung”.

Waktu masih bocah dulu aku sendiri kurang menyukai kue. Teman-teman yang lain juga sama. Bagi kami, hidangan berupa kue tidak mengeyangkan dan tidak istimewa. Jadi, bila ada orang yang mengadakan acara mecakan, kami akan memantau secara langsung atau mencari tahu makanan apa yang akan dimasak nantinya. Bila yang dimasak sejenis nasi sop, soto, atau nasi ayam kami pasti datang dengan penuh semangat. Akan tetapi, apabila pihak tuan rumah hanya memasak kue, kami jarang datang bahkan tidak hadir sama sekali.

Yah, begitulah masa kecil kami. Sop, soto, nasi ayam merupakan makanan istimewa dan langka. Sangat jarang sekali orang tua memasaknya dirumah karena rata-rata warga desa memang hidup dalam kemiskinan. Beda jauh dengan zaman sekarang. Semua serba ada. Bahkan kalau mau makan enak kita bisa membelinya diwarung saat ini juga.

Mengingat-ingat itu semua jadi ketawa-ketawa sendiri. Boleh dibilang “gak ada akhlak”.


Demikanlah proses pemakaman di desa kami. Kalau ada kekurangan dalam tulisan ini silakan di koreksi. Untuk cerita “tinggal di dusun part IV” saat ini masih berbentuk konsep. Mudah-mudah bisa diposting besok malam.

Terima kasih telah membaca dalam hati.


Salam, TF 1

Senin, 06 Juli 2020

Tinggal di dusun


Tinggal di dusun III

Bulan sabit semakin condong kearah barat. Perlahan suara-suara aneh menjauh sampai akhirnya benar-benar hilang ditelan malam . Suasana pun kembali seperti malam-malam sebelumnya. Nek Jum cukup merasa lega dengan keadaan itu.

Dari arah seberang sungai, terdengar  suara burung pungguk bersahut-sahutan mengusik keheningan. Bukan hal yang menakutkan bagi nek Jum. Sejak dulu burung pungguk memang menghuni tempat tersebut. Kata orang zaman dulu, saat bulan bersinar burung pungguk akan mengeluarkan suara nyanyiannya sebagai bentuk kerinduannya pada bulan (kekasihnya).

‘**********

Setelah selesai menghidupkan api, nek Jum segera naik ke gubuk dan membawa masuk suaminya. Ia tak ingin berlama-lama berada diluar karena udara malam sangat dingin menyentuh kulit. Pintu gubuk ditutupnya kembali rapat-rapat.  Sejak siang hingga subuh itu nek Jum seakan lupa untuk makan dan tidur. Rasa lapar, ngantuk dan capek tak dirasakannya lagi.

Sang suami kembali duduk bersandar pada dinding. Nek Jum segera menyelimuti tubuh sang suami dengan kain lusuh agar tidak kedinginan. Setelah itu ia pun ikut duduk bersandar pada dinding disamping suaminya. Diluar dugaan, keadaan suaminya sepertinya sedang sehat-sehat saja. Seolah tidak ada penyakit yang dideritanya. Ia dapat berkata-kata dengan lancar. Banyak hal yang mereka bicarakan subuh itu.

Sang suami bercerita tentang hal-hal yang dialaminya selama meninggal dan berada dialam lain beberapa jam yang lalu. Nek Jum lebih banyak mendengarkan saja. Sesekali ia berkomentar. Semua uraian ceritanya tentu takkan dituliskan di sini. Supaya tidak menjadi salah penafsiran dan fitnah. Karena penulis tidak berani menjamin kebenarannya. Cukup diketahui saja.

Pada obrolan lain sang suami juga berbicara tentang pembagian tanah warisan bagi anak-anak. Ia khawatir nanti setelah orang tua tidak ada, anak-anak berkelahi rebutan tanah keluarga. Sampai akhirnya diujung percakapan sang suami berkata:

“Dek, supaya kau tahu bahwa aku nade hidup tagek hari-hari biesa. Waktuku deket maha. Hanya untuk ngawani kau supaya ne takut. Parak siang kala mulang pulang aku ni slalu. Ntik kau sedih. Nade sapa manusia seumur kan dunia. Lawas lambatnya namanya manusia pasti mati ge. Pesanku kala jika ada salah sampaikan minta maafku ke ngkanak kan urang-urang ye ku kenal. Aku juge benyak-benyak minta maaf ke kau bile selama etam besama benyak salah kan nyakiti hatimu. Kau kala blejer ngaji ke urang ye tahu. Kuburkan aku kuburan tangah kampung. Ngia maha pesanku, ntik sampai kau pipat.”

(dek, agar kau tahu bahwa aku tidak untuk hidup seperti hari-hari yang lalu. waktuku sedikit. hanya untuk menemanimu supaya tidak ketakutan. mendekati siang nanti aku akan kembali(meninggal lagi) selama-lamanya. Janganlah kau bersedih. Tak ada manusia yang seumur dunia. Cepat lambatnya pasti akan mati juga. pesanku nanti, jika ada salahku sampaikan permintaan maaf pada anak-anak dan juga orang-orang yang ku kenal. Aku juga minta maaf padamu jika selama kita bersama banyak melakukan kesalahan dan menyakiti hatimu. belajarlah mengaji pada orang yang bisa. kuburkan aku pada pemakaman yang ada ditengah kampung. Itu saja pesanku, jangan sampai lupa).

Bukan main kagetnya nek Jum mendengar ucapan suaminya. Sungguh ia tak menyangka jika sang suami rupanya hidup sebentar saja demi menemaninya. Demi menyampaikan semua pesan-pesan penting tadi. Harapan untuk hidup bersama pun musnah. Airmata nek Jum tumpah membasahi kain yang ia pakai. Ditutupnya kedua matanya dengan tangan sambil masih sesenggukan. Ia mencoba mencerna semua kejadian itu. Berharap cuma mimpi, lalu bangun dan tak pernah terjadi. Akan tetapi, begitulah adanya. Suka atau tidak suka nek Jum harus menerimanya. Walaupun tak menginginkannya, manusia takkan mampu menolak takdir.

Tak ada perkataan apa-apa yang muncul dari mulut nek Jum. Tenggorokannya bagai tercekat. Ia menangis bagai anak kecil. Disandarkannya kepalanya pada bahu suaminya sambil terus sesenggukan. Sang suami yang merasa kasihan, membelai rambut istrinya yang juga telah memutih dengan lembut. Ia sendiri tak mampu berbicara apa apa lagi untuk menenangkan istrinya.
Beberapa saat kemudian nek Jum tidak ingat apa-apa lagi. Entah ketiduran atau pingsan ia tak mengetahuinya.

‘**********

Matahari pagi bersinar dari ufuk timur. Cahayanya yang kuning keemasan menembus celah-celah dedaunan. Hangat mengusir dinginnya kabut pagi. Sumua penghuni hutan riuh memulai kehidupan hari itu. Nek Jum terjaga dari keadannya setelah suara ayam dikandang membangunkannya. Ia lalu mengingat-ngingat kejadian beberapa saat yang lalu.

Setelah benar-benar sadar, nek Jum meraba tubuh suaminya yang sedang berada disampingnya. Tubuh itu benar-benar dingin. Kini ia tahu sang suami telah berpulang kepada Sang Pencipta untuk selama-lamanya.  Jasad suaminya lalu dibaringkan kembali pada tempat semula dan ditutup kain batik.

Entah apa sebabnya, pagi itu hati nek Jum sidikit lebih lega. Seakan diberi kekuatan sehingga ia dapat menguasai diri. Tidak terlalu bersedih seperti tadi malam. Mungkin ia sekarang telah dapat menerima kenyataan. Dibukanya pintu gubuk lebar-lebar sambil mengamati kearah sungai. Tak ada seorangpun di sana.  Yang harus dilakukannya sekarang hanya duduk disamping suaminya dan menunggu. Ia berharap secepatnya ada anak atau siapa saja datang berkunjung ke gubuk mereka.

‘*********


Kurang lebih dua jam lamanya menunggu,  yang diharapkan pun tiba. Anak tertua nek Jum berkunjung ke gubuk orang tuanya pagi itu. Sang anak begitu sok dan sedih mengetahui bapaknya telah meninggal. Ia merasa menyesal mengapa kemarin tidak pergi ke dusun. Betapa kasian sang ibu harus menunggui jasad bapaknya semalam suntuk seorang diri.

Saat itu juga jasad nek Am** pun dibawa oleh nek Jum bersama anaknya mudik ke kampung.  Kurang lebih 2 jam lamanya mendayung perahu, sampailah mereka di rumah. Anak, cucu, kerabat dan tetangga pun berkumpul ketempat nek Jum setelah mengetahui kematian suaminya.  Seluruh keluarga yang berkumpul sama berduka.  Akan tetapi, pada akhirnya mereka semua harus mengikhlaskan kepergian orang tua itu.

Dengan bantuan para tetangga jenazah nek Am** di kuburkan pada hari itu juga sesuai amanat dari almarhum. Tempat penguburannya di “kuburan muslimin” desa Tuana Tuha yang berlokasi di tengah kampung.

Adapun keadaan nek Jum setelah penguburan suaminya biasa-biasa saja. Kalau pun bersedih, ia masih bisa menyimpannya dalam hati. Lain halnya dengan anak maupun cucu-cucunya. Semua tampak bersedih sekali. Tak ada yang mengira jika orang tua mereka pergi secepat itu.

Sebagaimana tradisi di kampung kami, jika ada orang meninggal maka pihak keluarga akan mengadakan acara tiga malam berturut, malam ketujuh, malam keempat  belas, malam ke dua puluh lima, malam keempat puluh, malam ke tujuh puluh dan ke seratus. Malam-malam yang disebutkan itu disebut “mecakan”.

Mecakan merupakan kegiatan shalat berjamaah dirumah keluarga yang meninggal, kemudian setelah shalat Isya dilanjutkan dengan pembacaan doa untuk almarhum. Pada acara mecakan ini, selain dihadiri oleh semua kerabat pihak keluarga juga mengundang para tetangga dan orang lain untuk berdoa bersama. Setelah itu dilanjutkan makan bersama. Makanan yang dihidangkan bisa berupa nasi, kadang juga kue. Semua pembiayaan makanan tersebut merupakan tanggung jawab keluarga yang meninggal ditambah sumbangan dari tetangga. Mecakan bisa juga diadakan pada siang hari selepas shalat zuhur tanpa perlu shalat berjamaah.

**********’

Selama diadakan mecakan, nek Jum bercerita pada anak dan kerabatnya tentang pengalamannya saat menunggui jasad suaminya semalaman di dusun. Orang-orang yang mendengar ceritanya bergidik ngeri. Tak bisa dibayangkan bagaimana rasanya jika berada diposisi itu. Cerita pun menyebar dari mulut kemulut. Berbagai tanggapan muncul. Dari yang percaya, setengah percaya, sampai tidak percaya sama sekali. Kalau di bandingkan, memang lebih banyak yang percaya cerita itu karena sebagai orang tua nek Jum selama ini belum pernah membohongi orang lain.

Akan tetapi, walaupun sudah menceritakan pengalamannya nek Jum tidak bercerita secara lengkap pada orang lain. Terutama pada bagian “ suami hidup dan mati kembali”. Bagian ini sengaja disimpannya dalam hati. Di kemudian hari cerita lengkapnya hanya disampaikan pada anak-anaknya dan nenekku saja.

Nenekku memang ada hubungan keluarga jauh dengan nek Jum dari pihak bapaknya. Rumah nenek dan nek Jum agak berjauhan. Nenek berada di sebelah hilir, sedangkan nek Jum berada ditengah kampung berjarak sekira satu RT dari kuburan muslimin. Dulunya, nenekku dan nek Jum merupakan kawan akrab. Teman sepermainan sejak kecil. Nek Jum lebih tua sekitar 2 tahun. Mereka sama-sama buta huruf karena memang tidak sekolah. Ketika masing-masing  sudah berkeluarga, hubungan itu agak renggang. Jarang bertemu karena nek Jum tinggal di dusun.

Sejak kematian nek Am** suami nek Jum hubungan itu mulai terjalin lagi. Tiap hari selama diadakan acara mecakan nenekku bersama tetangga yang lain berada dirumah nek Jum untuk membantu menyiapkan santapan bagi orang-orang yang akan hadir. Ketika orang-orang pulang setelah acara mecakan, nenekku menjadi tempat curhat bagi nek Jum.



Up…Up…Up…
Mohon maaf jika kurang memuaskan.
Apakah perlu bersambung lagi, gak nih gaess??


Salam, TF 1

Minggu, 05 Juli 2020

Tinggal di dusun II


Tinggal di dusun II


Jika kita menyusuri Sungai Belayan ke arah hilir maka akan berujung di Muara Belayan Desa Liang, kecamatan Kota Bangun. Di sanalah perbatasan antara sungai belayan dan sungai mahakam. Dulu, sungai belayan merupakan satu-satunya jalur yang bisa di lewati oleh warga Tuana Tuha apabila ingin pergi ke Kota Bangun atau Samarinda. Sarana transfortasinya menggunakan Perahu Ketinting dan Kapal Motor. Saat itu belum ada jalan darat sebagai penghubung antar kecamatan.

Jaraknya antara Tuana Tuha-Kota Bangun melalui sungai sekitar 100 km. Sebelum sampai ke Kota Bangun kita akan melewati Desa Pendamaran, Desa Teluk Muda, Desa Sebelimbingan, Desa Muhuran dan Desa Liang.

Bagi orang yang melewati sungai belayan, baik dengan perahu atau kapal akan dapat menyaksikan gubuk-gubuk warga yang berdiri di pinggir sungai jauh dari perkampungan. Jarak antar gubuk tersebut biasanya saling berjauhan. Sampai saat ini pun masih ada saja warga tinggal di dusun sepanjang sungai belayan. Akan tetapi,  jumlahnya tak sebanyak dulu. Lebih sering kita melihat gubuk yang sudah rapuh tak terawat karena di tinggal penghuninya.

Untuk kelanjutan cerita “suami – istri yang tinggal di dusun” kemarin malam, penulis di sini akan memposisikan diri sebagai orang keempat (diriku sendiri). Tentu tetap berdasarkan sumbernya, ibuku. Untuk apa?..... ya, biar beda aja dari penulis yang lain.  Kiranya tak masalah siapapun yang bercerita selama pembaca bisa paham jalan ceritanya.

Perlu di ketahui,  suami istri yang dimaksud pada tulisan sebelumnya akan kami perjelas. Sang suami bernama Am**, dan Istrinya bernama Jum**. Sebagai orang yang lebih muda, alangkah baiknya kita memanggil dengan sebutan “anek/nek” (nenek). Sudah menjadi kebiasaan bagi warga desa untuk orang yang sudah tua (sepuh) laki-laki atau perempuan di panggil sebagai “anek/nek” (nenek) diawal namanya sebagai bentuk penghormatan walaupun tak ada hubungan kerabat.

Oke gaess, cukuplah basa-basi kali ini. Saatnya kita memasuki lanjutan ceritanya.
Siapkan dirimu, fokuslah dengan menajamkan pikiran, penglihatan dan pendengaran. Bukankah dapat mendengar atau melihat makhluk ghaib merupakan impian semua orang?

‘**********

Suara orang-orang yang berzikir “laa illa haa illallah” itu terdengar berputar beberapa kali mengelilingi gubuk. Anehnya, suara ini diselingi dengan tawa cekikikan sambil sesekali menepuk dinding gubuk. Ada kalanya terdengar suara minta dibukakan pintu. Bukan main takutnya nek Jum. Tubuhnya sampai gemetar. Saking takutnya, ia malah menjadi berani dan nekat. Parang panjang yang sudah ada ditangan ia siapkan untuk menebas makhluk apa saja bila sampai memasuki gubuknya.

Dengan rasa penasaran, Nek Jum lalu mencoba mengintip dari celah dinding gubuk. Sungguh aneh. Tidak ada penampakan manusia bergerak selain hanya beberapa kelebat kain putih terbang saja. Hampir sejam lamanya peristiwa itu berlangsung. Hingga akhirnya suara orang-orang berzikir itu berhenti persis di depan tangga gubuk. Suasana mendadak hening sekali tanpa ada suara serangga malam apa pun.

Di tengah keheningan yang mencekam, terdengar langkah seseorang menaiki tangga gubuk lalu mengetuk pintu dengan pelan sekali. Nek Jum berusaha menenangkan diri. Ia mencoba menganggap bahwa kejadian saat itu hanya ilusi dipikrannya yang sedang kacau saja. Akan tetapi semakin diperhatikan, suara ketukan itu benar-benar nyata adanya. Bahkan semakin keras terdengar. Makhluk apakah yang sedang mengetuk pintu? Yang pasti bukan manusia.

Nek Jum kebingungan antara mau membuka pintu atau dibiarkan saja. Jika dibiarkan, gangguan itu takkan berakhir. Cepat atau lambat nantinya mereka yang berada diluar akan masuk juga. Maka pilihan terakhir nek Jum adalah nekat menghadapinya. Apa pun yang terjadi ia sudah siap melawan semampunya.

Dengan parang panjang  tergenggam ditangan, nek Jum bangkit dari duduknya untuk membuka pintu. Belum sempat ia melangkah, tiba-tiba satu-satunya pelita yang sedang menyala disamping jasad suaminya terpadam seperti ditiup orang. Ditengah kegelapan Nek Jum buru-buru mengambil korek disamping pelita untuk menyalakannya kembali.

Sebelum nek Jum benar-benar menyalakan pelita alangkah kagetnya ia karena tiba-tiba juga terdengar sayup suara orang terbatuk-batuk dihadapannya. Bersamaan dengan suara batuk itu pula suara ketukan dipintu menghilang seketika. Kini ketakutan nek Jum sudah mencapai puncaknya. Ia khawatir jangan-jangan jasad suaminya sekarang di rasuki hantu. Dalam keadaan gelap nek Jum mencoba berbicara dengan suara batuk dihadapannya.

“Kak, kau ni hidup lagi benehan  atau hanek nakuti aku maha. Ne mungkin kiranya urang mati hidup pulang. Mun kau ni hantu, nade jelan lain, ku timpas kau kan parang ni” uje nek Jum.
(kak, kau hidup lagi atau cuma menakuti aku saja. Tak mungkin orang mati hidup kembali. Kalau kau ini hantu, tak ada jalan lain, aku akan menebasmu dengan parang ini) kata nek Jum.

Suasana sepi beberapa saat. Di tengah kegelapan, nek Jum masih menunggu jawaban sebelum benar-benar mengayunkan parangnya. Lalu kemudian, pelan sekali terdengar suara balasan orang berbicara.

“Dek, aku ni benehan lakimu. Lain hantu. Aku belik pulang karna sihan, kau sorangan. Kau jengan takut. Hidupi hak plita ye pajeh ngia. Jengan hak takut. “
(dek, aku benar-benar suamimu. Bukan hantu. Aku hidup lagi karena kasihan, kau kan sendirian. Jangan takut. Nyalakan pelita. Janganlah takut).

Mendengar suara jawaban itu Nek jum sedikit lega. Parang ditangan kini sudah ditaruhnya ketempat semula. Dengan perasaan masih ketakutan, nek Jum segera menyalakan korek untuk menghidupkan pelita di hadapannya. Keadaan didalam gubuk menjadi terang temaram. Ia kemudian duduk kembali disamping jasad suaminya yang masih tertutup kain batik. Saat itu terdengar olehnya suara napas orang kelelahan. Mungkinkah suaminya hidup kembali?

Perlahan dengan perasaan ragu-ragu Nek Jum lalu membuka “ruhup” (kain penutup mayat) suaminya itu. Benar saja, mata suaminya sekarang sedang terbuka. Suara napasnya pun normal seperti biasanya. Seperti orang baru bangun tidur. Hanya saja tampak lemas sekali. Tak ada kesan kalau nek Am** (suaminya) sebenarnya bangkit dari kematiannya. Suatu kejadian yang tidak masuk akal, sulit dipercaya dan di luar nalar. Akan tetapi, demikianlah keyataannya. Percaya atau tidak sang suami hidup kembali atas izin tuhan.

Untuk lebih meyakinkan lagi, nek Jum meraba tangan suaminya. Tangan itu ternyata hangat seperti suhu tubuh orang hidup. Tahulah ia sekarang bahwa sang suami telah hidup kembali sebagai manusia. Tak henti-hentinya ia mengucap syukur. Rasa senang dan haru bercampur jadi satu. Nek Jum hanya bisa sesenggukan dengan kenyataan yang sedang dialaminya. Diangkatnya kepala suaminya itu lalu ditaruh pada pangkuannya. Diusapnya pelan-pelan rambut suaminya yang sudah memutih sambil menangis. Sang suami pun ikut terharu dalam suasana itu. Ia pun ikut menangis.

Cukup lama suami istri itu hanyut dalam susana yang haru. Jam diperkirakan sekitar pukul tiga subuh. Cahaya bulan sabit sedang tepat berada diatas kepala. Suara-suara aneh dan burung hantu kembali terdengar agak jauh dari gubuk. Nek Jum seolah pura-pura tidak memperdulikan lagi gangguan-gangguan itu. Ia sudah cukup lega dengan adanya sang suami yang menemani.

Beberapa saat kemudian, suaminya minta di dudukkan dan bersandar pada dinding.  Dengan bantuan Nek Jum tubuh suaminya yang masih lemas itu dapat duduk dengan tegak. Ia merasa sangat kehausan. Nek Jum buru-buru mengambilkan segelas air. Sayangnya air digelas hanya mampu dihabiskan setengahnya saja. Sempat juga Nek Jum menawarkan untuk makan, namun suaminya hanya menggeleng. Ia malah meminta Nek Jum segera menghidupkan api kembali.

“Dek, hidupi ge api di hige pondok etam. Ne kau lagi genggui suara-suara aneh. Makanya aku belik. Sihan kan kau. Aku tadi tahu kau benyak takuti suara macam-macam. Genguan macam mia bejeuh bile nelek cahaya api.” Uje lakinya.
(dek, nyalakan kembali api disamping gubuk. supaya tidak ada lagi suara-suara aneh. makanya aku kembali. kasihan dengan dirimu. aku tahu kau tadi diganggu berbagai macam suara. gangguan seperti itu akan menjauh bila ada cahaya api). Kata suaminya.

“ Kak, bukannya aku ne mau. Tapi aku copa takut keluar pondok.” Uje nek Jum.
(kak, bukannya tak mau. tapi aku terlalu takut keluar dari gubuk ini). Kata nek Jum.

“Mun mia, kala hak ku nengani kau. Mun jelan kan turun maha aku ne depat. Kala ku ngawasi kau tumat luaran. Bentu aku bekesor kluar. Ntik kau takut. “Uje lakinya.
(kalau begitu , nanti aku temani. untuk berjalan dan turun aku tak bisa. nanti aku akan mengawasimu dari luaran(teras gubuk). bantu aku “ngesot” keluar. Jangan takut). Balas suaminya.

Nek Jum hanya mengangguk kearah suaminya. Pintu lalu dibuka. Obor besar ia nyalakan sebagai penerangan. Dengan susah payah, nek Jum membantu suaminya untuk berjalan “ngesot” keluar dan duduk diteras gubuk. Di temani suaminya nek Jum sama sekali tidak lagi merasa takut. Secepatnya ia menghidupkan api di tanah. Api berkobar membakar timbunan kayu kering. Suasana disekitar gubuk berubah menjadi terang benderang. Asap api mengepul keudara membuat nyamuk-nyamuk terusir ketempat lain.

Bulan sabit semakin condong kearah barat. Perlahan suara-suara aneh makin menjauh sampai akhirnya benar-benar hilang ditelan malam . Suasana pun kembali seperti malam-malam sebelumnya. Nek Jum cukup merasa lega dengan keadaan itu.

Dari arah seberang sungai, terdengar  suara burung pungguk bersahut-sahutan mengusik keheningan. Bukan hal yang menakutkan bagi nek Jum. Sejak dulu burung pungguk memang menghuni tempat tersebut. Kata orang zaman dulu, saat bulan bersinar burung pungguk akan mengeluarkan suara nyanyiannya sebagai bentuk kerinduannya pada bulan (kekasihnya).

Next.


Salam, TF 1

Kamis, 02 Juli 2020

Ayus dan Ongo: Griyuk II


Ayus dan Ongo: Griyuk II

Kita kembali mendongeng melanjutkan cerita beberapa hari lalu yang belum selesai. Malam jumat terlalu menyeramkan bagi penulis jika harus membuat tulisan hororr. Efeknya kayak tempo hari sampai susah tidur sendirian.

**********

Alkisah persahabatan Ayus, Ongo dan Griyuk sebenarnya memang sudah terjalin lama. Hal yang paling membuat Ayus dan Ongo jengkel yaitu bahwa Griyuk terlalu pelit berbagi namun suka meminta pada orang lain. Seperti pepatah orang zaman dulu “Ulur tangga urang, sintak tangga nyawa”. Bukan hanya Griyuk, manusia zaman now banyak juga yang kayak gitu, kan?

Siang itu Ayus gak menduga jika Griyuk ternyata selain pelit, juga serakah. Akan tetapi, semuanya telah terjadi. Untuk yang akan datang, mereka akan lebih teliti lagi supaya gak dirugikan Griyuk.
Kembali sore itu Ayus dan Ongo menyiapkan segala sesuatunya untuk membuat jukut salai lagi. Proses pembuatan yang rumit, dan perlu kesabaran untuk menunggu sampai ikannya matang.
Sama seperti pembuatan jukut salai kemarin, Ayus dan Ongo harus menunggui dan mengontrol bara api dibawah para-para sampai tengah malam. Ketika jukut salai setengah matang barulah bisa ditinggal untuk tidur.

**********

Keesokan harinya matahari kembali bersinar dengan cerah. Angin timur berhembus perlahan. Musim kemarau tahun itu kelihatannya akan berlangsung lama. Gak ada tanda-tanda akan turunnya hujan. Meski “mendung pun tak berarti hujan”  kata lagu.
Namanya juga musim kemarau.

Hari itu Ayus kembali meninggalkan gubuk untuk “nenau” karena merasa ikan yang didapat kemarin terlalu sedikit. Ongo lah yang diberi tugas untuk menunggu dan mengontrol bara api pada para-para hingga ikannya matang. Sebelum pergi Ayus berpesan kepada Ongo supaya kejadian kemarin jangan terulang lagi.

“Ngo, kalau nanti Griyuk datang kemari dan meminta jukut salai, jangan kau beri!” kata Ayus.

“Memangnya kenapa, Yus? Nanti kita disebutnya pelit.” Kata Ongo.

“Ya, sudah, boleh saja kau beri. Tapi jangan sampai dia mengambil sendiri. Cukup beri beberapa ekor saja. Kau paham?” kata Ayus setelah berpikir beberapa saat.

“Iya, aku paham, Yus! Kalau dibiarkan mengambil bisa habis kayak kemarin, hehehe”

“Baguslah kalau kau sudah mengerti! Tugasmu, kontrol baik-baik api pada para-para itu.  Jangan bermain kelereng hari ini.”

“Iya, kau tenang saja. Akan kujaga dengan baik. Sebelum kau pulang ikannya pasti sudah matang.” Jawab Ongo kemudian.

Ayus segera berangkat menuju ke rawa-rawa tempat ia kemarin menangkap ikan. Hari masih pagi ketika Ayus tiba ditempat itu. Dengan mudahnya ia menangkap ikan-ikan yang sudah hampir kekeringan dan hanya bersembunyi di bawah lumpur. Akan tetapi tangkapan kali ini jauh berbeda karena kebanyakan hanya ikan yang kecil-kecil berupa “sepat siam”. Ikan gabus yang besar-besar sepertinya habis karena sudah diambilnya selama dua hari berturut-turut. Untuk mendapatkan ikan yang lebih besar, Ayus terpaksa mencari ketempat lain yang lebih jauh lagi. Walau pun dapat ikan yang besar-besar, perjalananya memakan waktu lebih lama. Hingga Ayus baru bisa pulang ketika hari sudah sore.


**********

Sepeningal Ayus, Ongo yang sudah diberi tugas menjaga para-para melakukan perintah kakaknya dengan baik. Pesan-pesan dari Ayus pun masih terngiang dalam ingatannya. Soal Griyuk, ia pun tak ingin “diakali” dua kali. Makanya untuk sekarang, Ongo sengaja gak bermain kelereng. Biar lebih waspada jika Griyuk tiba-tiba saja datang ketempat itu.

Sampai tengah hari, jukut salai pun telah matang sempurna. Ongo segera mencicipi seekor untuk membuktikan bahwa jukut salai sudah benar-benar matang.

Ketika sedang asyiknya makan, ia melihat Griyuk sedang berjalan menuju kearahnya. Tampaknya makhluk tinggi besar itu ingin mengambil air lagi.  Setibanya di depan Ongo, Griyuk pun menyapanya dengan ramah. Seolah tanpa rasa bersalah sama sekali. Akan tetapi, Ongo kali ini akan lebih waspada.

Walau pun demikian, Griyuk ternyata lumayan cerdas. Dia tahu Ongo suka bermain kelereng. Maka pada hari itu Griyuk sengaja membawa sekantong buah karet untuk nantinya diberikan pada Ongo.

“Kamu gak main kelereng lagi, Ngo?” sapa Griyuk.

“Oh, gak. Aku disuruh Ayus menunggu para-para ini saja.” Jawab Ongo.

“Bikin jukut salai lagi, ya! Sudah matang atau belum?”

“Sudah semua. Kalau mau makan disini nanti aku ambilkan seekor!”

“Oh, gak usah. Aku masih kenyang. Dirumah juga masih ada sedikit.” Kata Griyuk berpura-pura.

Setelah berbasa-basi dengan Ongo, Griyuk pun menuju ke sungai untuk mengisi bumbung bambunya dengan air. Sesudah itu ia kembali lagi menghampiri Ongo yang masih duduk di dekat para-para sambil makan ikan.

“Ongo, aku sudah lama gak ketemu kakakmu. Ayus mana?” tanya Griyuk.

“Ayus pergi “nenau” sejak tadi pagi. Sampai sekarang belum pulang!” jawab Ongo.

“Oh. Kok belum pulang. Inikan sudah tengah hari, Ngo! Jangan-jangan dia tersesat.”

“Gak mungkin lah! Ini masih siang. Ayus hapal semua tempat di sini. Mungkin sedang mencari ikan ketempat yang lebih jauh. Nanti juga pulang. Kalau mau ketemu, tunggu saja beberapa waktu lagi.”

“Ya, aku memang mau ketemu Ayus hari ini. Akan kutunggu disini bersamamu.” Kata Griyuk dengan tersenyum.

Sambil menunggu kedatangan Ayus, Griyuk segera menyandarkan bumbung bambunya yang berisi air pada sebatang pohon.  Ia lalu mengobrol dengan Ongo sambil sama-sama makan ikan. Setengah jam lamanya mereka menunggu, namun Ayus gak nampak juga batang hidungnya. Griyuk sebenarnya sudah ingin pulang. Akan tetapi ia teringat jika tadi sudah membawa buah karet untuk diberikan kepada Ongo. Muncullah niat jahat dipikirannya untuk “mengakali” Ongo lagi.

“Sambil menunggu Ayus, bagaimana kalau kita main kelereng saja, Ngo?” kata Griyuk seraya mengeluarkan sekantong buah karet dari lubang pada punggungnya.

Ongo yang melihat buah karet untuk kelereng sempat ingin bermain juga. Akan tetapi, teringat pesan Ayus Ongo pun membatalkannya.

“Kata Ayus, aku gak boleh main kelereng hari ini. Tugasku menjaga jukut salai sampai matang.” Jawab Ongo.

“Ikannya kan sudah matang semua, Ngo. Apalagi yang kau tunggu. Gak ada orang lain disini. Jadi gak akan ada yang mengambil juga. Ayo kita bermain saja!” kata Griyuk merayu Ongo.

Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Ongo pun setuju dengan ucapan Griyuk. Ia lalu mengajaknya pergi ke halaman depan. Mereka lalu bermain kelereng menggunakan buah karet yang dibawa Griyuk. Sekitar sejam lamanya Ongo dan Griyuk asyik bermain namun Ayus masih belum juga pulang.

‘**********

Hari sudah memasuki sore. Griyuk sudah berencana akan pulang.

“Nampaknya kakakmu itu bakal pulang malam. Aku sudah harus kembali sekarang supaya gak kemalaman di jalan. Ambillah semua kelereng ini untukmu. Bermainlah sendiri. Aku pulang dulu, ya!” Kata Griyuk sambil bangkit dan mengambil bumbung bambunya.

Bukan main senangnya Ongo diberi buah karet yang banyak oleh Griyuk. Selama ini belum pernah Griyuk memberinya sesuatu.

“Wah, banyak sekali buah karet ini.  Terima kasih, ya. Nanti kusampaikan sama Ayus kalau kau tadi menunggunya.

“Iya, ambil saja semua buah karet itu untukmu. Di tempatku juga masih banyak. Oh, ya boleh gak aku minta lagi jukut salai barang seekor buat makan di jalan?”

Ongo yang masih kegirangan diberi buah karet hampir lupa pesan Ayus. Namun ia malas untuk bangkit dan mengambilkan sendiri karena ingin melanjutkan bermain.

“Oh, boleh! Ambil saja sendiri disana. Tapi jangan ambil semuanya. Kata Ayus, sisakan buat kami, ya!”

“Iya. Aku tau. Cuma minta seekor saja!hehehe..

Setelah berkata demikian, Griyuk menuju kearah para-para yang berada di samping gubuk. Kesempatan kedua itu takkan dilewatkan begitu saja. Sambil membuka tutup para-para, diliriknya Ongo yang masih asyik bermain tanpa menoleh sama sekali kearahnya.

Griyuk kemudian memasukkan jukut salai satu persatu pada lubang dipunggungnya. Akan tetapi, kali ini sengaja disisakannya dua ekor jukut salai yang paling kecil untuk Ayus dan Ongo. Sesudah semuanya beres, Griyuk meninggalkan tempat itu dengan tersenyum senang. *makin gak ada ahlak*


Salam, TF 1