Minggu, 05 Juli 2020

Tinggal di dusun II


Tinggal di dusun II


Jika kita menyusuri Sungai Belayan ke arah hilir maka akan berujung di Muara Belayan Desa Liang, kecamatan Kota Bangun. Di sanalah perbatasan antara sungai belayan dan sungai mahakam. Dulu, sungai belayan merupakan satu-satunya jalur yang bisa di lewati oleh warga Tuana Tuha apabila ingin pergi ke Kota Bangun atau Samarinda. Sarana transfortasinya menggunakan Perahu Ketinting dan Kapal Motor. Saat itu belum ada jalan darat sebagai penghubung antar kecamatan.

Jaraknya antara Tuana Tuha-Kota Bangun melalui sungai sekitar 100 km. Sebelum sampai ke Kota Bangun kita akan melewati Desa Pendamaran, Desa Teluk Muda, Desa Sebelimbingan, Desa Muhuran dan Desa Liang.

Bagi orang yang melewati sungai belayan, baik dengan perahu atau kapal akan dapat menyaksikan gubuk-gubuk warga yang berdiri di pinggir sungai jauh dari perkampungan. Jarak antar gubuk tersebut biasanya saling berjauhan. Sampai saat ini pun masih ada saja warga tinggal di dusun sepanjang sungai belayan. Akan tetapi,  jumlahnya tak sebanyak dulu. Lebih sering kita melihat gubuk yang sudah rapuh tak terawat karena di tinggal penghuninya.

Untuk kelanjutan cerita “suami – istri yang tinggal di dusun” kemarin malam, penulis di sini akan memposisikan diri sebagai orang keempat (diriku sendiri). Tentu tetap berdasarkan sumbernya, ibuku. Untuk apa?..... ya, biar beda aja dari penulis yang lain.  Kiranya tak masalah siapapun yang bercerita selama pembaca bisa paham jalan ceritanya.

Perlu di ketahui,  suami istri yang dimaksud pada tulisan sebelumnya akan kami perjelas. Sang suami bernama Am**, dan Istrinya bernama Jum**. Sebagai orang yang lebih muda, alangkah baiknya kita memanggil dengan sebutan “anek/nek” (nenek). Sudah menjadi kebiasaan bagi warga desa untuk orang yang sudah tua (sepuh) laki-laki atau perempuan di panggil sebagai “anek/nek” (nenek) diawal namanya sebagai bentuk penghormatan walaupun tak ada hubungan kerabat.

Oke gaess, cukuplah basa-basi kali ini. Saatnya kita memasuki lanjutan ceritanya.
Siapkan dirimu, fokuslah dengan menajamkan pikiran, penglihatan dan pendengaran. Bukankah dapat mendengar atau melihat makhluk ghaib merupakan impian semua orang?

‘**********

Suara orang-orang yang berzikir “laa illa haa illallah” itu terdengar berputar beberapa kali mengelilingi gubuk. Anehnya, suara ini diselingi dengan tawa cekikikan sambil sesekali menepuk dinding gubuk. Ada kalanya terdengar suara minta dibukakan pintu. Bukan main takutnya nek Jum. Tubuhnya sampai gemetar. Saking takutnya, ia malah menjadi berani dan nekat. Parang panjang yang sudah ada ditangan ia siapkan untuk menebas makhluk apa saja bila sampai memasuki gubuknya.

Dengan rasa penasaran, Nek Jum lalu mencoba mengintip dari celah dinding gubuk. Sungguh aneh. Tidak ada penampakan manusia bergerak selain hanya beberapa kelebat kain putih terbang saja. Hampir sejam lamanya peristiwa itu berlangsung. Hingga akhirnya suara orang-orang berzikir itu berhenti persis di depan tangga gubuk. Suasana mendadak hening sekali tanpa ada suara serangga malam apa pun.

Di tengah keheningan yang mencekam, terdengar langkah seseorang menaiki tangga gubuk lalu mengetuk pintu dengan pelan sekali. Nek Jum berusaha menenangkan diri. Ia mencoba menganggap bahwa kejadian saat itu hanya ilusi dipikrannya yang sedang kacau saja. Akan tetapi semakin diperhatikan, suara ketukan itu benar-benar nyata adanya. Bahkan semakin keras terdengar. Makhluk apakah yang sedang mengetuk pintu? Yang pasti bukan manusia.

Nek Jum kebingungan antara mau membuka pintu atau dibiarkan saja. Jika dibiarkan, gangguan itu takkan berakhir. Cepat atau lambat nantinya mereka yang berada diluar akan masuk juga. Maka pilihan terakhir nek Jum adalah nekat menghadapinya. Apa pun yang terjadi ia sudah siap melawan semampunya.

Dengan parang panjang  tergenggam ditangan, nek Jum bangkit dari duduknya untuk membuka pintu. Belum sempat ia melangkah, tiba-tiba satu-satunya pelita yang sedang menyala disamping jasad suaminya terpadam seperti ditiup orang. Ditengah kegelapan Nek Jum buru-buru mengambil korek disamping pelita untuk menyalakannya kembali.

Sebelum nek Jum benar-benar menyalakan pelita alangkah kagetnya ia karena tiba-tiba juga terdengar sayup suara orang terbatuk-batuk dihadapannya. Bersamaan dengan suara batuk itu pula suara ketukan dipintu menghilang seketika. Kini ketakutan nek Jum sudah mencapai puncaknya. Ia khawatir jangan-jangan jasad suaminya sekarang di rasuki hantu. Dalam keadaan gelap nek Jum mencoba berbicara dengan suara batuk dihadapannya.

“Kak, kau ni hidup lagi benehan  atau hanek nakuti aku maha. Ne mungkin kiranya urang mati hidup pulang. Mun kau ni hantu, nade jelan lain, ku timpas kau kan parang ni” uje nek Jum.
(kak, kau hidup lagi atau cuma menakuti aku saja. Tak mungkin orang mati hidup kembali. Kalau kau ini hantu, tak ada jalan lain, aku akan menebasmu dengan parang ini) kata nek Jum.

Suasana sepi beberapa saat. Di tengah kegelapan, nek Jum masih menunggu jawaban sebelum benar-benar mengayunkan parangnya. Lalu kemudian, pelan sekali terdengar suara balasan orang berbicara.

“Dek, aku ni benehan lakimu. Lain hantu. Aku belik pulang karna sihan, kau sorangan. Kau jengan takut. Hidupi hak plita ye pajeh ngia. Jengan hak takut. “
(dek, aku benar-benar suamimu. Bukan hantu. Aku hidup lagi karena kasihan, kau kan sendirian. Jangan takut. Nyalakan pelita. Janganlah takut).

Mendengar suara jawaban itu Nek jum sedikit lega. Parang ditangan kini sudah ditaruhnya ketempat semula. Dengan perasaan masih ketakutan, nek Jum segera menyalakan korek untuk menghidupkan pelita di hadapannya. Keadaan didalam gubuk menjadi terang temaram. Ia kemudian duduk kembali disamping jasad suaminya yang masih tertutup kain batik. Saat itu terdengar olehnya suara napas orang kelelahan. Mungkinkah suaminya hidup kembali?

Perlahan dengan perasaan ragu-ragu Nek Jum lalu membuka “ruhup” (kain penutup mayat) suaminya itu. Benar saja, mata suaminya sekarang sedang terbuka. Suara napasnya pun normal seperti biasanya. Seperti orang baru bangun tidur. Hanya saja tampak lemas sekali. Tak ada kesan kalau nek Am** (suaminya) sebenarnya bangkit dari kematiannya. Suatu kejadian yang tidak masuk akal, sulit dipercaya dan di luar nalar. Akan tetapi, demikianlah keyataannya. Percaya atau tidak sang suami hidup kembali atas izin tuhan.

Untuk lebih meyakinkan lagi, nek Jum meraba tangan suaminya. Tangan itu ternyata hangat seperti suhu tubuh orang hidup. Tahulah ia sekarang bahwa sang suami telah hidup kembali sebagai manusia. Tak henti-hentinya ia mengucap syukur. Rasa senang dan haru bercampur jadi satu. Nek Jum hanya bisa sesenggukan dengan kenyataan yang sedang dialaminya. Diangkatnya kepala suaminya itu lalu ditaruh pada pangkuannya. Diusapnya pelan-pelan rambut suaminya yang sudah memutih sambil menangis. Sang suami pun ikut terharu dalam suasana itu. Ia pun ikut menangis.

Cukup lama suami istri itu hanyut dalam susana yang haru. Jam diperkirakan sekitar pukul tiga subuh. Cahaya bulan sabit sedang tepat berada diatas kepala. Suara-suara aneh dan burung hantu kembali terdengar agak jauh dari gubuk. Nek Jum seolah pura-pura tidak memperdulikan lagi gangguan-gangguan itu. Ia sudah cukup lega dengan adanya sang suami yang menemani.

Beberapa saat kemudian, suaminya minta di dudukkan dan bersandar pada dinding.  Dengan bantuan Nek Jum tubuh suaminya yang masih lemas itu dapat duduk dengan tegak. Ia merasa sangat kehausan. Nek Jum buru-buru mengambilkan segelas air. Sayangnya air digelas hanya mampu dihabiskan setengahnya saja. Sempat juga Nek Jum menawarkan untuk makan, namun suaminya hanya menggeleng. Ia malah meminta Nek Jum segera menghidupkan api kembali.

“Dek, hidupi ge api di hige pondok etam. Ne kau lagi genggui suara-suara aneh. Makanya aku belik. Sihan kan kau. Aku tadi tahu kau benyak takuti suara macam-macam. Genguan macam mia bejeuh bile nelek cahaya api.” Uje lakinya.
(dek, nyalakan kembali api disamping gubuk. supaya tidak ada lagi suara-suara aneh. makanya aku kembali. kasihan dengan dirimu. aku tahu kau tadi diganggu berbagai macam suara. gangguan seperti itu akan menjauh bila ada cahaya api). Kata suaminya.

“ Kak, bukannya aku ne mau. Tapi aku copa takut keluar pondok.” Uje nek Jum.
(kak, bukannya tak mau. tapi aku terlalu takut keluar dari gubuk ini). Kata nek Jum.

“Mun mia, kala hak ku nengani kau. Mun jelan kan turun maha aku ne depat. Kala ku ngawasi kau tumat luaran. Bentu aku bekesor kluar. Ntik kau takut. “Uje lakinya.
(kalau begitu , nanti aku temani. untuk berjalan dan turun aku tak bisa. nanti aku akan mengawasimu dari luaran(teras gubuk). bantu aku “ngesot” keluar. Jangan takut). Balas suaminya.

Nek Jum hanya mengangguk kearah suaminya. Pintu lalu dibuka. Obor besar ia nyalakan sebagai penerangan. Dengan susah payah, nek Jum membantu suaminya untuk berjalan “ngesot” keluar dan duduk diteras gubuk. Di temani suaminya nek Jum sama sekali tidak lagi merasa takut. Secepatnya ia menghidupkan api di tanah. Api berkobar membakar timbunan kayu kering. Suasana disekitar gubuk berubah menjadi terang benderang. Asap api mengepul keudara membuat nyamuk-nyamuk terusir ketempat lain.

Bulan sabit semakin condong kearah barat. Perlahan suara-suara aneh makin menjauh sampai akhirnya benar-benar hilang ditelan malam . Suasana pun kembali seperti malam-malam sebelumnya. Nek Jum cukup merasa lega dengan keadaan itu.

Dari arah seberang sungai, terdengar  suara burung pungguk bersahut-sahutan mengusik keheningan. Bukan hal yang menakutkan bagi nek Jum. Sejak dulu burung pungguk memang menghuni tempat tersebut. Kata orang zaman dulu, saat bulan bersinar burung pungguk akan mengeluarkan suara nyanyiannya sebagai bentuk kerinduannya pada bulan (kekasihnya).

Next.


Salam, TF 1

Kamis, 02 Juli 2020

Ayus dan Ongo: Griyuk II


Ayus dan Ongo: Griyuk II

Kita kembali mendongeng melanjutkan cerita beberapa hari lalu yang belum selesai. Malam jumat terlalu menyeramkan bagi penulis jika harus membuat tulisan hororr. Efeknya kayak tempo hari sampai susah tidur sendirian.

**********

Alkisah persahabatan Ayus, Ongo dan Griyuk sebenarnya memang sudah terjalin lama. Hal yang paling membuat Ayus dan Ongo jengkel yaitu bahwa Griyuk terlalu pelit berbagi namun suka meminta pada orang lain. Seperti pepatah orang zaman dulu “Ulur tangga urang, sintak tangga nyawa”. Bukan hanya Griyuk, manusia zaman now banyak juga yang kayak gitu, kan?

Siang itu Ayus gak menduga jika Griyuk ternyata selain pelit, juga serakah. Akan tetapi, semuanya telah terjadi. Untuk yang akan datang, mereka akan lebih teliti lagi supaya gak dirugikan Griyuk.
Kembali sore itu Ayus dan Ongo menyiapkan segala sesuatunya untuk membuat jukut salai lagi. Proses pembuatan yang rumit, dan perlu kesabaran untuk menunggu sampai ikannya matang.
Sama seperti pembuatan jukut salai kemarin, Ayus dan Ongo harus menunggui dan mengontrol bara api dibawah para-para sampai tengah malam. Ketika jukut salai setengah matang barulah bisa ditinggal untuk tidur.

**********

Keesokan harinya matahari kembali bersinar dengan cerah. Angin timur berhembus perlahan. Musim kemarau tahun itu kelihatannya akan berlangsung lama. Gak ada tanda-tanda akan turunnya hujan. Meski “mendung pun tak berarti hujan”  kata lagu.
Namanya juga musim kemarau.

Hari itu Ayus kembali meninggalkan gubuk untuk “nenau” karena merasa ikan yang didapat kemarin terlalu sedikit. Ongo lah yang diberi tugas untuk menunggu dan mengontrol bara api pada para-para hingga ikannya matang. Sebelum pergi Ayus berpesan kepada Ongo supaya kejadian kemarin jangan terulang lagi.

“Ngo, kalau nanti Griyuk datang kemari dan meminta jukut salai, jangan kau beri!” kata Ayus.

“Memangnya kenapa, Yus? Nanti kita disebutnya pelit.” Kata Ongo.

“Ya, sudah, boleh saja kau beri. Tapi jangan sampai dia mengambil sendiri. Cukup beri beberapa ekor saja. Kau paham?” kata Ayus setelah berpikir beberapa saat.

“Iya, aku paham, Yus! Kalau dibiarkan mengambil bisa habis kayak kemarin, hehehe”

“Baguslah kalau kau sudah mengerti! Tugasmu, kontrol baik-baik api pada para-para itu.  Jangan bermain kelereng hari ini.”

“Iya, kau tenang saja. Akan kujaga dengan baik. Sebelum kau pulang ikannya pasti sudah matang.” Jawab Ongo kemudian.

Ayus segera berangkat menuju ke rawa-rawa tempat ia kemarin menangkap ikan. Hari masih pagi ketika Ayus tiba ditempat itu. Dengan mudahnya ia menangkap ikan-ikan yang sudah hampir kekeringan dan hanya bersembunyi di bawah lumpur. Akan tetapi tangkapan kali ini jauh berbeda karena kebanyakan hanya ikan yang kecil-kecil berupa “sepat siam”. Ikan gabus yang besar-besar sepertinya habis karena sudah diambilnya selama dua hari berturut-turut. Untuk mendapatkan ikan yang lebih besar, Ayus terpaksa mencari ketempat lain yang lebih jauh lagi. Walau pun dapat ikan yang besar-besar, perjalananya memakan waktu lebih lama. Hingga Ayus baru bisa pulang ketika hari sudah sore.


**********

Sepeningal Ayus, Ongo yang sudah diberi tugas menjaga para-para melakukan perintah kakaknya dengan baik. Pesan-pesan dari Ayus pun masih terngiang dalam ingatannya. Soal Griyuk, ia pun tak ingin “diakali” dua kali. Makanya untuk sekarang, Ongo sengaja gak bermain kelereng. Biar lebih waspada jika Griyuk tiba-tiba saja datang ketempat itu.

Sampai tengah hari, jukut salai pun telah matang sempurna. Ongo segera mencicipi seekor untuk membuktikan bahwa jukut salai sudah benar-benar matang.

Ketika sedang asyiknya makan, ia melihat Griyuk sedang berjalan menuju kearahnya. Tampaknya makhluk tinggi besar itu ingin mengambil air lagi.  Setibanya di depan Ongo, Griyuk pun menyapanya dengan ramah. Seolah tanpa rasa bersalah sama sekali. Akan tetapi, Ongo kali ini akan lebih waspada.

Walau pun demikian, Griyuk ternyata lumayan cerdas. Dia tahu Ongo suka bermain kelereng. Maka pada hari itu Griyuk sengaja membawa sekantong buah karet untuk nantinya diberikan pada Ongo.

“Kamu gak main kelereng lagi, Ngo?” sapa Griyuk.

“Oh, gak. Aku disuruh Ayus menunggu para-para ini saja.” Jawab Ongo.

“Bikin jukut salai lagi, ya! Sudah matang atau belum?”

“Sudah semua. Kalau mau makan disini nanti aku ambilkan seekor!”

“Oh, gak usah. Aku masih kenyang. Dirumah juga masih ada sedikit.” Kata Griyuk berpura-pura.

Setelah berbasa-basi dengan Ongo, Griyuk pun menuju ke sungai untuk mengisi bumbung bambunya dengan air. Sesudah itu ia kembali lagi menghampiri Ongo yang masih duduk di dekat para-para sambil makan ikan.

“Ongo, aku sudah lama gak ketemu kakakmu. Ayus mana?” tanya Griyuk.

“Ayus pergi “nenau” sejak tadi pagi. Sampai sekarang belum pulang!” jawab Ongo.

“Oh. Kok belum pulang. Inikan sudah tengah hari, Ngo! Jangan-jangan dia tersesat.”

“Gak mungkin lah! Ini masih siang. Ayus hapal semua tempat di sini. Mungkin sedang mencari ikan ketempat yang lebih jauh. Nanti juga pulang. Kalau mau ketemu, tunggu saja beberapa waktu lagi.”

“Ya, aku memang mau ketemu Ayus hari ini. Akan kutunggu disini bersamamu.” Kata Griyuk dengan tersenyum.

Sambil menunggu kedatangan Ayus, Griyuk segera menyandarkan bumbung bambunya yang berisi air pada sebatang pohon.  Ia lalu mengobrol dengan Ongo sambil sama-sama makan ikan. Setengah jam lamanya mereka menunggu, namun Ayus gak nampak juga batang hidungnya. Griyuk sebenarnya sudah ingin pulang. Akan tetapi ia teringat jika tadi sudah membawa buah karet untuk diberikan kepada Ongo. Muncullah niat jahat dipikirannya untuk “mengakali” Ongo lagi.

“Sambil menunggu Ayus, bagaimana kalau kita main kelereng saja, Ngo?” kata Griyuk seraya mengeluarkan sekantong buah karet dari lubang pada punggungnya.

Ongo yang melihat buah karet untuk kelereng sempat ingin bermain juga. Akan tetapi, teringat pesan Ayus Ongo pun membatalkannya.

“Kata Ayus, aku gak boleh main kelereng hari ini. Tugasku menjaga jukut salai sampai matang.” Jawab Ongo.

“Ikannya kan sudah matang semua, Ngo. Apalagi yang kau tunggu. Gak ada orang lain disini. Jadi gak akan ada yang mengambil juga. Ayo kita bermain saja!” kata Griyuk merayu Ongo.

Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Ongo pun setuju dengan ucapan Griyuk. Ia lalu mengajaknya pergi ke halaman depan. Mereka lalu bermain kelereng menggunakan buah karet yang dibawa Griyuk. Sekitar sejam lamanya Ongo dan Griyuk asyik bermain namun Ayus masih belum juga pulang.

‘**********

Hari sudah memasuki sore. Griyuk sudah berencana akan pulang.

“Nampaknya kakakmu itu bakal pulang malam. Aku sudah harus kembali sekarang supaya gak kemalaman di jalan. Ambillah semua kelereng ini untukmu. Bermainlah sendiri. Aku pulang dulu, ya!” Kata Griyuk sambil bangkit dan mengambil bumbung bambunya.

Bukan main senangnya Ongo diberi buah karet yang banyak oleh Griyuk. Selama ini belum pernah Griyuk memberinya sesuatu.

“Wah, banyak sekali buah karet ini.  Terima kasih, ya. Nanti kusampaikan sama Ayus kalau kau tadi menunggunya.

“Iya, ambil saja semua buah karet itu untukmu. Di tempatku juga masih banyak. Oh, ya boleh gak aku minta lagi jukut salai barang seekor buat makan di jalan?”

Ongo yang masih kegirangan diberi buah karet hampir lupa pesan Ayus. Namun ia malas untuk bangkit dan mengambilkan sendiri karena ingin melanjutkan bermain.

“Oh, boleh! Ambil saja sendiri disana. Tapi jangan ambil semuanya. Kata Ayus, sisakan buat kami, ya!”

“Iya. Aku tau. Cuma minta seekor saja!hehehe..

Setelah berkata demikian, Griyuk menuju kearah para-para yang berada di samping gubuk. Kesempatan kedua itu takkan dilewatkan begitu saja. Sambil membuka tutup para-para, diliriknya Ongo yang masih asyik bermain tanpa menoleh sama sekali kearahnya.

Griyuk kemudian memasukkan jukut salai satu persatu pada lubang dipunggungnya. Akan tetapi, kali ini sengaja disisakannya dua ekor jukut salai yang paling kecil untuk Ayus dan Ongo. Sesudah semuanya beres, Griyuk meninggalkan tempat itu dengan tersenyum senang. *makin gak ada ahlak*


Salam, TF 1

Jumat, 10 April 2020

AYUS DAN ONGO : RAPAH KUNING (PART I)

Kalau zaman dulu cerita Ayus dan Ongo ini sangat populer. Lebih populer dari cerita hantu. Anak-anak gak suka cerita-cerita serem. Bila diceritakan malah jadi gak bisa tidur. Nanti merepotkan orang tua yang ingin “anu”.😁😁

Bagi anak-anak kampung yang lahir tahun 80-an kebawah, cerita Ayus dan Ongo adalah cerita wajib yang harus diceritakan orang tua kalau udah malam. Semacam dongeng sebelum tidur. Gak ada hiburan lain, makanya hiburannya ya, mendengarkan dongeng.😁😁

Ada juga yang mikir sebenarnya orang tua menceritakan dongeng itu selain biar anak-anaknya terhibur, juga biar cepat-cepat bobok sehingga orang tua lebih leluasa untuk melakukan “anu”.😂😂

Oke kita mulai masuk pada cerita.

Pada suatu masa dimana hari, tanggal, bulan dan tahun yang tak diketahui. Di suatu tempat yang belum dipetakan dalam Google Map dan Google Earth hiduplah satu keluarga, keluarga yang lain dan makhluk-makhluk lain.😁😁

Biar jelas kita bahas satu persatu dulu yang merupakan tokoh inti dalam cerita ini.

Pertama, Ayus dan Ongo.
Ayus dan Ongo adalah manusia laki-laki, kakak beradik, yang mana Ayus menempati posisi sebagai kakak dan Ongo adalah adiknya. Ongo dan Ayus bertubuh Raksasa. Saking besarnya celana dalam mereka saja kalau dijemur, mampu melingkupi satu gunung ukuran sedang. Bayangkan saja betapa besarnya, bukan?😁😁

Ayus memiliki otak yang cerdas, pandai, tubuh yang kuat dan bijaksana. Namun ia memiliki kelemahan, yaitu tidak punya kesaktian apa-apa.
Ongo, sedikit agak bodoh namun memiliki kekuatan dan kesaktian yang luar biasa. Entah karena alasan apa kedua orang ini hidup menjomlo selama hidupnya.😁😁
Saat itu mereka bertani dan tinggal disebuah gunung yang disebut Gunung Sunyi (mirip gunung dalam film “The Hobbit”).😁😁

Ayus dan Ongo sebenarnya masih memiliki orang tua, yaitu seorang ibu tua yang tinggal bersama saudari perempuan mereka yang kakak tertua bernama Siluk.
Siluk dan ibunya tinggal jauh disebuah pegunungan yang dinamakan Gunung Berkabut (gunung ini ada dalam film “the lord of the rings”).😁😁

Pada saat-saat tertentu ongo dan ayus kadang mengunjungi dan tinggal bersama orang tua mereka. Terutama pada saat-saat akhir masa panen.

Kedua, Rapah Kuning.
Rapah Kuning merupakan satu keluarga makhluk sejenis hantu hutan, dipimpin oleh seorang Raja yang bergelar Lord Kapus. Mereka tinggal dalam beberapa rumah yang terdiri dari sekitar puluhan orang laki-laki dewasa dan puluhan orang perempuan, 2 anak laki-laki dan satu anak perempuan remaja.

Selain makan nasi seperti manusia, mereka sebenarnya memangsa manusia dan binatang hutan. Namun Rapah kuning dalam kesehariannya tidak menyukai daging mentah. Jadi kalau dapat buruan, harus dimasak dulu baru dimakan bersama keluarganya. Kayaknya memang ada kemiripan dengan manusia juga.

Wujud Rapah Kuning seperti halnya ongo dan ayus, mereka bertubuh raksasa. Bedanya Rapah Kuning berbulu lebat warna kuning.
Rapah kuning ini tinggal disebuah pegunungan yang dinamakan Gunung Fuji (ada dijepang).😁😁
Adapun Gunung Fuji, letaknya berjauhan dengan dengan Gunung Sunyi tempat Ongo dan Ayus berada.

Rapah Kuning memiliki kelebihan yaitu dapat terbang karena memiliki sayap seperti burung. Tubuhnya anti bacok, maksudnya kebal senjata apapun.😁😁

Namun ada juga kekurangannya, yaitu rada-rada bodoh dan anti air, maksudnya gak bisa berenang. Selain itu mereka juga memiliki “lontong napas” (paru-paru) diluar tubuh. Lontong napas ini tidak melekat pada tubuhnya, tapi disimpan dalam rumah dengan digantung begitu saja. Gara-gara lontong napas inilah, sebenarnya rapah kuning sangat rentan. Bayangkan saja bila ada yang mengambil lalu membuangnya keair, rapah kuning bisa mati seketika. Ini akan terjadi dikemudian hari.

Sejak dahulu kala, keluarga ongo dan ayus dan Rapah Kuning, sudah saling mengenal dan menjalin persahabatan bak keluarga. Sudah ada perjanjian turun-temurun, tidak boleh saling mengganggu. Batas-batas wilayah perburuan pun telah disepakati bersama dengan baik

Dalam keseharian mereka juga saling tolong menolong dan saling mengenal dengan baik.
Misalnya ketika ongo dan ayus kesulitan membuka hutan untuk bertani, mereka meminta tolong kepada keluarga rapah kuning. Pekerjaan yang awalnya sulit jadi cepat selesai.
Begitu juga sebaliknya, ketika suatu ketika rapah kuning mendirikan rumah besar, ongo dan ayus pun datang membantu. Pekerjaan jadinya cepat selesai dengan baik.

Begitu pun apabila mengadakan semacam acara selamatan setelah musim panen, rapah kuning sering mengundang ongo dan ayus untuk sekedar makan-makan dirumah mereka. Pun sebaliknya, apabila ongo dan ayus mengadakan syukuran mereka juga mengundang seluruh keluarga rapah kuning untuk makan-makan gratis dirumah mereka.
Jadi kesimpulannya ongo dan ayus tahu seluk-beluk, situasi dan kondisi dirumah rapah kuning. Ini akan menguntungkan mereka dikemudian hari.

Pada suatu ketika, ayus kakaknya ongo pergi berburu Rusa seorang diri kedalam hutan. Ongo ketika itu sedang sibuk membuat jerat-jerat binatang. Ayus berburu menggunakan panah. Kalau senapan memang gak mungkin, karena belum zamannya. 🤣🤣

Jadi Ayus hari itu berburu dengan panah yang anak panahnya diolesi dengan semacam racun pelumpuh. Apabila ada binatang buruan terkena panah ini, akan langsung lumpuh ditempat.
Entah apa sebabnya hari itu binatang Rusa sulit sekali ditemui. Ia terus mencari buruannya sampai benar-benar jauh masuk kedalam hutan. Tanpa disadarinya rupanya dirinya telah memasuki wilayah kekuasaan Rapah Kuning. Padahal dalam perjanjian tentu saja itu dilarang.

Pada akhirnya, walaupun sudah mengetahui, ayus memilih tetap melanjutkan perburuannya karena ia tidak mau pulang dengan tangan hampa.
Lagi pula diwilayah itu ternyata binatang buruan masih banyak. Ayus sudah berhasil memanah 2 ekor Rusa besar.

Ketika hari sudah semakin sore ayus pun sudah berencana ingin pulang.
Sayup-sayup ia mendengar suara rombongan orang bercakap-cakap berjalan tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri. Diam-diam ayus pun mengintip dari sela-sela pepohonan. Nampaklah olehnya 3 orang Rapah Kuning sedang berjalan membawa sebuah “Bubu” dari bambu yang sangat besar. Karena penasaran ayus lalu mengikuti dari jarak yang tidak diketahui oleh Rapah Kuning.
Bubu besar itu ternyata dibawa kepuncak Gunung Fuji. Ayus terus mengamati dari jarak yang aman. Ayus sebenarnya keheranan, karena biasanya bubu itu kan dipasangnya disungai untuk menangkap ikan. Ini malah dipuncak gunung, untuk apa ya? 🤔😁

Pada suatu tempat yang cukup luas, mulailah ketiga Rapah Kuning meletakkan bubu besar tadi lalu mengisinya dengan banyak sekali buah-buahan segar yang telah masak sebagai umpan. Ada buah nangka,buah naga, pisang, durian, apel, anggur sampai kelengkeng. 😁😁

Setelah berpikir-pikir sejenak, ayus baru paham bahwa ternyata bubu itu bukan untuk menangkap ikan. Tapi fungsinya sebagai perangkap binatang hutan. Kalau dipasang sore, harapannya ketika diperiksa esok pagi dapat banyak hewan terperangkap.

Mulailah sifat jahil ayus muncul. Setelah ketiga rapah kuning itu pergi ayus segera mendekati dan memasuki perangkap itu. Ia bermaksud mengambil buah-buahan yang ada didalamnya untuk dimakan, sebagian lagi dibawanya pulang untuk dimakan bersama adiknya ongo.

Masuklah ayus kedalam bubu besar itu walaupun dengan kesulitan karena harus melewati celah kecil yang disebut ‘hinjap”. Setelah berada didalam ia lalu memakan beberapa buah durian. Buah-buah yang lain dimasukkan kedalam karung untuk segera dibawa pulang karena hari sudah semakin sore.
Namun saat ayus mencoba untuk keluar, ia terperangkap. Terhalang oleh “hinjap” bubu. Bubu itu rupanya dibuat dengan cukup canggih sehingga apa pun yang sudah masuk kedalamnya tak ada jalan untuk keluar.

Ayus yang cukup cerdas segera berpikir cepat. Ia akhirnya menemukan cara keluar yang lain. Segera ayus makan pisang sebanyak-banyaknya agar bisa kentut. Dan ketika sudah makan pisang cukup banyak, Ayus pun kentut dengan sangat keras. Suaranya menggelegar mengagetkan seisi hutan dan bubu besar itu hancur berkeping-keping.😁😁

Ayus pun segera pulang kerumahnya sore itu dengan gembira. Sudahnya dapat 2 ekor Rusa, banyak pula membawa buah-buahan.

Dirumah, malam itu ongo dan ayus dapat makan dengan sepuas-puasnya.
Ketika mereka sedang makan, ongo yang penasaran bertanya kepada ayus.
“yus, buahan-buahan ini kau dapat dimana?
diwilayah kita tidak ada pohon-pohon buah seperti ini?” kata ongo heran.
“gak usah repot nanya, lagian kalau aku kasih tau tempatnya, bisa rusak semuanya, hehee, pokoknya makan aja sudah” kata ayus tertawa-tawa.😁😁

Ongo akhirnya diam. Namun diam-diam sebenarnya ia berencana akan mengikuti ayus bila esok ayus pergi berburu lagi. Tapi tentunya secara rahasia.

Ditempat lain ketika hari sudah pagi, ketiga Rapah Kuning yang kemarin sore memasang bubu segera buru-buru memeriksa perangkap yang telah dipasang. Namun pagi itu mereka kecewa sekali mendapati perangkap yang terpasang telah rusak dan hancur. Umpannya pun habis tak bersisa.
Mereka memperkirakan bubu itu telah dimasuki hewan besar makanya hancur. Hari ini mereka akan memasang perangkap lagi disana dan akan lebih diperkuat, supaya tidak rusak tentunya.
Pada sore harinya kembali ketiga Rapah Kuning memasang bubu besar ditempat yang kemarin. Kali ini bubu yang dipasang, telah diperkuat dengan bilah-bilah bambu yang lebih besar agar hewan yang masuk tak bisa keluar lagi. Umpan kali ini juga diisi lebih banyak.

Ayus, sepertinya sudah ketagihan. Sukses kemarin membuat ia ingin melakukannya lagi sore itu. Ia sudah sejak tadi mengintip ketiga Rapah kuning yang sedang memasang perangkap tersebut.
Setelah mereka pergi, ayus lalu memasuki bubu itu seperti kemarin sore. Setelah makan pisang yang banyak ayus pun lalu kentut dengan keras. Sayangnya kali ini bubu itu tak bisa hancur.

Ayus sebenarnya sudah mulai khawatir. Mukanya pucat pasi. Untunglah, pada kentut yang ke 15 kali bubu itu akhirnya hancur berkeping-keping juga.😁😁
Ayus gembira sekali dapat keluar dari bubu besar itu. Diambilnya buah-buahan yang ada untuk dibawa pulang.

Tak jauh dari tempat itu sebenarnya ongo sejak tadi bersembunyi dipadang rumput mengintip ayus. Dari mulai ayus memasuki bubu sampai cara keluar yang aneh itu tak lepas dari pengamatannya.
Sebelum ayus beranjak pulang, ongo telah tiba dirumah lebih dulu. Ia tidak mau ketahuan dan dimarahi kakaknya itu. Oleh karena itu ketika tiba dirumah, ongo langsung pura-pura tidur.

Malam itu Ayus dan ongo kembali berpesta makan buah-buahan sampai kenyang. Tak ada komentar apa-apa dari ongo malam itu.
Padahal didalam hati sebenarnya Ongo telah berencana besok ia akan mendatangi tempat perangkap tadi seorang diri tanpa diketahui Ayus.

Ketika bangun pagi itu Ayus tiba-tiba saja mengalami mencret-mencret. Mungkin pengaruh terlalu banyak makan buah-buahan tadi malam. Jadi seharian itu ayus tak bisa kemana-mana karena badannya terasa sangat lemas sekali. Ia tak bisa beraktivitas apa-apa selain hanya berbaring dirumah. Kesempatan nih pikir Ongo.😁😁

Ditempat lain, puncak Gunung Fuji. Ketiga rapah kuning yang sedang memeriksa perangkap terpasang kemarin, benar-benar kecewa. Perangkap itu hancur berkeping-keping sama seperti perangkap kemarin. Mereka tak habis pikir, padahal perangkap itu telah diperkuat. Hewan sekuat apa gerangan yang telah menghancurkan perangkap sekuat ini??

Karena merasa aneh, bubu yang rusak itu dibawa pulang sebagai bukti dan untuk diperbaiki. Setiba dirumah, peristiwa itu pun dilaporkan pada raja mereka, Lord Kapus. Segeralah mereka berkumpul ditempat itu untuk bermusyawarah menentukan langkah-langkah selanjutnya.
Para Rapah Kuning yang hadir ditempat itu keheranan mengetahui bubu besar yang telah diperkuat masih juga hancur. Menjadi teka-teki hewan apa yang sekuat ini bisa merusak bubu perangkap yang telah diperkuat?

Ada yang menebak itu ulah gajah, ada juga menebak ulah beruang atau mungkin ulah badak. Tidak ada satupun yang menebak itu ulah Ayus atau Ongo.😁😁

Atas saran dari berbagai pihak, pada akhirnya disepakati akan dibuat bubu baru yang lebih kuat dan lebih modern. Semacam diupgrade lah. 😁😁

Bubu besar kali ini akan dibuat dengan fitur terbaru yang lebih canggih yaitu dengan bahan dari kawat baja stainless steel.😁😁

Entahlah mereka dapat darimana bahan-bahan itu, sebab mereka tak memberitahu penulis.😂😂
Dengan tingkat kesulitan yang luar biasa, pada tengah hari selesailah bubu besar dari kawat baja itu dibuat.😁😁

Seperti halnya kemarin sore, bubu besar dari kawat baja segera dipasang ditempat dimana bubu sebelumnya hancur. Setelah dipasang, diberi umpan, lalu ditinggal begitu saja. Mereka berharap ketika diperiksa esok hari akan ada hewan yang tertangkap. Mudah-mudahan hewan itulah yang selama ini merusak perangkap mereka.

Ditempat lain, dirumah ayus dan ongo. Sore itu Ongo meminta izin kepada ayus untuk pergi kehutan guna memasang jerat-jerat binatang yang telah dibuatnya.
Ayus yang sedang mengalami mencret-mencret, hanya bisa mengizinkan ongo berangkat seorang diri. Maka berangkatlah ongo masuk kedalam hutan.

Tanpa sepengetahuan Ayus, Ongo bukannya memasang jerat. Ongo sore itu langsung menuju ketempat dimana ia kemarin mengintip ayus yang sedang mengambil buah dalam perangkap.
Benar saja, saat ongo tiba di puncak Gunung Fuji, di sana telah ada terpasang sebuah bubu besar dengan banyak sekali buah-buahan didalamnya. Tidak ada siapapun ditempat itu. Diletakkan jerat-jerat yang dibawanya tadi begitu saja.

Segera ongo memasuki bubu besar itu sama seperti yang dilakukan oleh ayus. Ketika sudah ada didalam, mulailah ongo memakan buah-buahan yang ada, lalu memasukkan sisanya kedalam karung untuk dibawa pulang. Ayus pasti akan senang, pikirnya.
Nah, ketika ingin keluar inilah terjadi masalah. Ongo kentut dengan sekeras-kerasnya seperti yang dilakukan Ayus. Namun bubu itu tak juga hancur atau rusak. Dicobanya lagi, tetap juga tak berdampak apa-apa.

Sudah ratusan kali Ongo kentut, namun bubu besar itu sama sekali tidak rusak.😁😁
Walaupun ongo telah memakan semua buah-buahan yang rencananya mau dibawa pulang tadi. Lalu kentut keras, namun bubu besar tak juga rusak, akhirnya ongo pun kelelahan dan menyerah.
Hari sudah mulai malam. Ongo yang masih dalam kebingungan terperangkap, hanya bisa menangis sambil berteriak keras-keras memanggil kakaknya Ayus.

Ia berharap kakaknya bisa mendengar dan menolongnya. Namun nampaknya sia-sia saja karena jarak yang sangat jauh, Ayus tak mendengar sama sekali suara panggilan adiknya itu.😭😭