Rabu, 22 Januari 2020

Retha: hari-hari yang indah

Tanpa ragu-ragu, mungkin ibu Retha sudah menganggap aku bagian dari keluarganya. Mulailah dia bercerita kalau kehidupan anaknya itu sangat memperihatinkan. Jauh berbeda dengan saudaranya yang lain. Sejak kecil hingga menginjak Kelas 1 SMA ia masih anak baik. Penurut dengan orang tua. Namun ketika menginjak kelas 2, ia berteman dengan Devi. Sejak itulah pergaulannya berubah. Sering pulang larut malam. Pernah juga pulang pagi. Yang lebih parah kadang mengikuti Devi pergi kekampung orang lain bisa sampai 2 atau 3 hari tidak pulang. Itu semua dilakukannya tanpa memberitahu dan minta izin ibunya. Bila dinasehati, Retha selalu merajuk, lalu pergi kerumah Devi. Sampai ada yang menjemput barulah ia mau pulang. Sekolahnya juga tidak karuan. Lebih banyak malasnya. Desas-desus yang lain menyebutkan bahwa Retha dikampung G ini terkenal sebagai perebut suami orang. Wanita penggoda. Para pemuda dikampung lain juga banyak yang menyebut Retha sebagai Pelakor Sejati. Menurut ibunya, semua itu pernah mereka buktikan sendiri, dan memang benar adanya.

Pernah sampai 2 kali ada perempuan dari kampung lain mendatangi rumah mereka mencari Retha. Sayangnya Retha saat itu tidak ada dirumah. Entah berada dimana bersama Devi. Perempuan yang datang itu marah-marah mengatakan kalau suaminya selingkuh dengan Retha. Uang suaminya habis demi diberikan kepada Retha. Katanya gadis itu telah memeras suaminya. Mereka meminta ibu Retha untuk mengajar anaknya itu. Ibu Retha saat itu hanya bisa sedih mendapat info keburukan-keburukan anaknya. Ada lagi seorang perempuan lain yang sampai mengancam kalau orang tuanya tidak bisa mengendalikan Retha lagi, mereka yang akan melakukannya sendiri.

Sebenarnya apabila saat-saat Retha ada dirumah, tak kurang-kurang ibunya, saudaranya, bahkan keluarga lain juga menasehati. Namun Retha seperti tak mendengar, keras kepala. Kalau sudah bosan mendengar omelan, seperti biasa ia pergi dari rumah. Pada akhirnya pihak keluarga membiarkannya begitu saja. Terserah Retha memilih jalan hidup. Mereka sudah tidak perduli lagi. Seperti sebelumnya, aku yang mendengarkan cerita itu hanya bisa mengangguk-angguk tanpa berani komentar banyak. Tak banyak bicara, karena pikiranku semakin kacau.

Aku dan Eris yang mendengar cerita ibu Retha ketika itu hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Agak meragukan sebenarnya. Retha yang kukenal, prilakunya tidak seburuk itu. Ia perempuan baik-baik. Namun apa pun itu tetap saja cerita dari ibu Retha ini tentu benar adanya. Keluarganya pasti lebih tahu ketimbang aku karena mereka orang terdekat. Sedangkan aku, seperti kukatakan sebelumnya, tidak ada hubungan istimewa, selain hanya sebagai teman biasa saja

Ya… tuhan, belum hilang beban pikiran yang ada, malah bertambah beban baru dipikiranku. Aku benar-benar pusing bercampur sedih

Jam menunjukkan pukul 16.00 sore. Hujan sudah benar-benar berhenti. Aku dan Eris akhirnya pamit untuk pulang kekampung kami. Kusuruh Eris mengendarai motor, sedangkan aku duduk dibelakangnya.

Motor dipacu dengan kecepatan rendah. Kami ngobrol sepanjang jalan. Temanku ini orangnya sangat baik dan pengertian. Ia tahu kalau aku sangat pusing dengan semua keadaan sekarang. Ia menasehati dan memberi semangat kepadaku berulang-ulang. Sedikit banyak nasehat-nasehatnya masuk diakal dan sangat menolong sekali. Keadaanku agak lebih baik dari sebelumnya

Dari obrolan itu aku dan Eris mencoba mengumpulkan kepingan demi kepingan peristiwa yang menimpa Retha. “dimulai dari para pemuda yang malam itu menyebutnya Lont*, SMS yang membuat Retha sedih, Devi dan Retha pergi kesebuah Logpond, ada yang ingin membunuh Retha, saat aku bercerita kejadian yang menimpa Retha dipuskesmas mengapa keluarganya hanya menanggapi biasa saja, Devi yang seolah-olah menghilang, keluarga Retha yang tak ingin memperpanjang kasus itu, cerita ibu Retha tadi”.

Setelah dihubung-hubungkan, kami berdua pun akhirnya menemukan benang merahnya. Terjawab sudah semua pertanyaan yang selama ini membuat aku penasaran. Beruntung sekali aku memiliki seorang teman seperti Eris. Disaat-saat seperti ini aku memang butuh teman untuk berbagi. Tak dapat kubayangkan jika beban ini kupikul sendiri. Bisa-bisa gila.

“Sebenarnya tidak hanya dalam mimpi. Sahabatku Eris, memang ada didunia nyata. Persahabatan kami sama dengan yang tergambar dalam cerita. Ia teman terbaik yang kukenal. Satu diantara 7 admin di halaman FB ini. Orangnya cerdas dan paling cakep juga.😁😁

”Eris….jika kau baca kisah ini, 5 jempol kuangkat untukmu kawan..”😁😁

Akibat lambatnya motor yang kami kendarai bergerak, perjalanan yang seharusnya hanya ditempuh 30 menit menjadi lebih dari sejam baru nyampai dirumah. Saat kami tiba jam sudah menunjukkan pukul 17.30.

Sesudah mengantarkan Eris kerumahnya, aku pun langsung menuju rumahku. Sepeda motor langsung aku simpan dalam rumah. Belum ada parkiran soalnya. Ini menandakan bahwa aku tidak ingin keluar dari rumah lagi sore itu.

Aku masuk kekamarku dan langsung duduk dikursi kayu. Pintu kamar kubiarkan terbuka saja. Sebuah hape Samsung Galaxy J5 Pro warna putih dengan casing luar warna warni khas cewek tergeletak diatas meja. Ya, itu adalah hape Retha yang malam itu dititipkan padaku. Aku lupa mengembalikan pada keluarganya. Kuambil dan kubuka. Melihat baterainya yang sekarat, hape aku matikan dan kuletakkan kembali disana. Melihat hape Retha didepanku, kembali pikiranku menerawang kepadanya. Aku pun melamun mengingat masa-masa dimana aku bahagia bersama Retha.

Aku memang mengenal Retha cukup lama. Ada sekitar 2 tahun yang lalu. Kami sebelumnya memang jarang ketemu langsung karena terpisah oleh jarak kampung yang berbeda. Namun dalam sebulan pasti ada sekali, kalau tidak dia, akulah yang bertandang kerumahnya bersama Eris. Atau bisa juga kami ketemu dikampung lain bila ada semacam acara hiburan seperti Elektun pernikahan. Walaupun begitu, di zaman seperti sekarang untuk ketemu tak sulit. Cukup pakai hape dengan fitur sosmednya, dengan mudah bisa terhubung setiap waktu. Ya, dengan hape yang saat ini ada didepanku itulah Retha dan aku setiap hari bertemu didunia maya. Melalui hape juga kami saling bertanya kabar, saling merayu, saling ejek, marahan, memaki, bahkan saling menjahili

Aku ingat, Retha ini jahilnya lumayan. Kadang tengah malam kadang subuh disaat aku tidur dia nelpon hapeku berkali-kali. Setiap diangkat eh, malah ditutup. Ini terjadi berulang-ulang cuma miskol doang. Sampai hape kumatikan barulah ia tak bisa menghubungi lagi.

Aku sendiri tak kalah jahilnya. Bila kebetulan ada sms gratisan aku ‘bom’ hapenya dengan paling sedikit 100 sms kata ‘sayang’. Bila sudah marah biasanya dia akan ‘ngebom’ balik dengan sms kata ‘bangsat’. Anehnya saat itu aku bukannya tersinggung malah tertawa senang.😁😁

Ada lagi suatu ketika dia sms “sayang, beliin pulsa 10 ribu yak, disini hujan, gak bisa keluar, nanti kuganti, GPL”. Aku tahu dia bohong, karena kubuka WA dan FB dia sedang aktif didunia maya. Jadilah aku mengirim pesan lewat WA dengan kata-kata “untukmu gadis penipu” dilampiri karakter menjulurkan lidah.

Retha tidak membalas pesan itu. Kutunggu sampai sejam juga tidak ada balasan. Aku menyesal telah mengirim pesan itu khawatir dia marah beneran. Buru-buru kutelepon langsung untuk minta maaf. Hasilnya langsung di rejek. Kucoba berulang kali juga tetap ditolak. Sampai 2 hari berlangsung, telepon tak diangkat, pesan yang kukirim tak dibalasnya. Aku menebak saat itu dia sedang marah besar padaku.

Jadilah pada hari minggu aku berangkat kekampung Retha dengan motor seorang diri. Eris sengaja gak diajak karena aku malu kalau sampai peristiwa itu ketahuan olehnya. Aku akan minta maaf langsung kerumahnya. Sebelum berangkat kukirim sms kalau aku sedang diperjalanan menuju rumahnya supaya dia tidak kemana-mana. Sebelum kesana juga aku mampir disebuah toko baju. Kubelikan sebuah baju cewek warna biru motif bunga. Aku saat itu hanya menebak-nebak saja memperkirakan ukuran tubuhnya. Namun demikian, aku yakin ukuran itu pas, kalau kebesaran sedikit gak apa-apa lah. Baju itu sangat indah dipandang seandainya dikenakan Retha. Dia pasti senang, pikirku.

Dengan santai aku menuju kesana. Setibanya disana aku masuk kedalam rumah yang sudah terbuka itu. Sepi. Kulihat kamar Retha tertutup rapat. Sepertinya sedang dikunci dari dalam. Aku memanggilnya dari luar kamar. Tidak ada jawaban sama sekali. Pintu kamarnya juga masih tertutup. Ibunya yang sedang ada di dapur memasak rupanya tahu kedatanganku. Ibunya buru-buru menuju kearahku. Akupun menyapa dan menyalaminya.

Sekarang gantian ibu Retha yang memanggil dan mengetuk pintu kamar itu. Perlahan dari dalam terdengar langkah kaki menuju pintu. Pintupun segera dibuka. Nampaklah wajah seorang gadis yang kelihatannya belum mandi. Rambutnya masih kusut pakai baju tidur. Ibu Retha saat itu agak marah dengan kelakuan Retha yang tidak memperdulikan aku. Di omelinya Retha. Namun gadis itu hanya diam pura-pura tidak mendengar.

Kata ibunya, kalau hari minggu begini kan libur, Retha biasanya tidur lembur. Bangunnya sih pagi, habis makan atau mandi dia tidur lagi.

Aku yang saat itu ada disamping ibunya hanya senyum-senyum saja. Kupikir ini anak persis kayak temanku Eris. Tabiatnya sama-sama hoby tidur lembur, kalau dijodohkan cocok sekali. 😁😁
Ibu Retha kembali kedapur untuk melanjutkan memasak. Kini aku dan Retha berhadap-hadapan mematung seperti tidak saling mengenal. Wajahnya kelihatan sendu sekali

“Retha, aku minta maaf padamu”. Kataku sambil mengulurkan tangan.
“masuk saja”. Katanya sambil berpaling tanpa menyambut tanganku.

Saat itu pintu dibiarkan saja terbuka. Aku pun masuk mengikutinya dari belakang. Di suruhnya aku duduk dikursi tempat dia biasa berdandan. Retha sendiri kembali kekasurnya. Berbaring telungkup tanpa memperdulikan aku. Diambilnya hape. Saat ku lirik, sepertinya ia sedang melanjutkan sebuah permainan. Aku diam beberapa saat sambil memikirkan cara terbaik untuk menarik perhatiannya.

“Retha, kita ke pulau yuk”. Kataku. 😁😁

*Pulau* yang kumaksud adalah sebuah tempat (bukan pulau), tapi mirip-mirip danau yang ada diantara kampung KL dan KJ. Tempat itu indah. Ada dermaganya. Kalau bersama pasangan, romantis kayaknya.😁😁
Kami dulu pernah kesana rame-rame dengan teman yang lain. Orang tanah hulu pasti tahu.*😁😁
Retha hanya menatap kearahku dengan wajah masam sambil menggeleng berkali-kali. Trik pertama sepertinya gagal, pikirku.😥😥

“oke, batal.. tapi aku ada hadiah untukmu, mau gak? Tanyaku.😁😁
Retha menoleh kearahku. Tapi setelah melihat tidak ada apa-apa yang aku bawa ia kembali konsentrasi pada permainannya.

Aku pun keluar menuju motor yang terparkir, mengambil sebuah baju yang terbungkus dalam kantong kresek di bawah jok. Kuambil dan segera aku masuk kembali. Saat aku berada di depan kamarnya. Tetiba saja aku dikagetkan oleh Retha yang rupanya sudah menunggu disamping pintu. Tanpa ba-bi-bu, dirampasnya bungkusan itu dari tanganku. Ia membawa bungkusan itu kekasur dan membukanya. Retha kelihatan benar-benar senang mendapat hadiah dariku. Aku sendiri kembali duduk dikursi memperhatikan Retha dengan tertawa kecil. Berhasil, pikirku dalam hati.

Setelah dibukanya, aku kembali melihat wajahnya kegirangan tertawa bahagia. Sebuah baju wanita warna biru itupun dicoba-cobanya kebadan. Sepertinya pas, pikirku.
Beberapa saat kemudian Retha bangkit menuju cermin besar dari sebuah lemari disudut ruangan kamar.

Baju itupun langsung dipasang tanpa membuka baju tidurnya.
Dalam penglihatanku yang bukan ahli mode pakaian ini, baju itu cocok dan serasi dengan tubuh Retha. Namun tidak bagi Retha. Sesudah berputar-putar, menimbang-nimbang didepan cermin, sambil menyisir rambutnya yang kusut, kulihat wajahnya berubah merah menahan kesal. Sepertinya ingin menangis.😢😢

“gak cocok, kekecilan, mendingan gak usah pake baju saja”. Katanya jengkel sambil membuka dan melemparkan baju itu keatas kasur.😢😢

Hadeuuhh, aku hanya bisa menutup mataku dengan tangan karena merasa bersalah. 😢😢
Disaat-saat seperti ini aku jadi ingat, benar kata orang bahwa ‘cowok itu selalu salah dimata cewek’.😭😭
Buktinya sekarang langsung ada didepan mataku. 😢😢

Retha lalu kembali keatas kasur, telungkup seperti tadi, melanjutkan permainannya.
Suasana hening tanpa ada yang berbicara. Aku merenung memikirkan apa yang harus dilakukan lagi.
Sesudah menimbang-nimbang sedikit, akupun bangkit dari kursi menuju kearah Retha lalu duduk disamping kasurnya. Perlahan dengan ragu-ragu kuusap-usap rambutnya. Saat itu Retha seperti tak bergeming sama sekali. Ia tetap fokus dengan permainannya. Perlahan-lahan kemudian aku mencoba telungkup disampingnya mengikuti posisi Retha. Kuambil hape dari kantong. Kuketik *858*XXXXXXXXXXXX*50#call dihadapannya. Retha memperhatikan dengan bengong. Beberapa saat kemudian hapenya berdering kencang pertanda sms masuk. Setelah dibukanya, pulsa 50.000 telah terisi kenomor hapenya.

Bukan main girangnya Retha. Ia bangkit lalu melompat-lompat diatas kasur seperti anak kecil. Giliran aku yang bengong dibuatnya. Aku baru sadar kalau sebenarnya Retha sesaat yang lalu hanya mengerjaiku. Aku lalu bangkit berdiri didepan Retha dengan muka masam. Retha yang melihat aku berdiri didepannya segera meraih tanganku, disalaminya sambil mengucapkan terimakasih berulang kali.

“Retha,….masa cuma terimakasih doang, peluk dong?!” 😁😁 Kataku bercanda sambil membuka tangan.😁😁

Masih ketawa-ketawa Retha malah memukuli dadaku. Aku pun pura-pura kesakitan. Pada akhirnya Retha pun memeluk aku sebentar. Gak lama, paling 5 detik. Lumayanlah daripada gak dapat apa-apa.😁😁😍💏
Tapi tetap saja aku berhasil dikerjainya, sial memang.😢😢

Suasana akhirnya cair seperti biasa. Walapun tanpa diucapkan sekalipun, aku sudah tahu ia memaafkan kesalahanku. Masalah telah teratasi, lega sekali.😁😁

Beberapa saat kemudian, ibu Retha masuk kekamar itu menemui kami yang sedang bercakap-cakap. Makanan sudah dihidangkan, kami disuruhnya makan. Namun waktu makan itu pun terpaksa ditunda sebentar, karena Retha harus mandi dahulu.

Sembari menunggu Retha, aku dan ibunya mengobrol diruang tamu. Beberapa saat kemudian kulihat Retha sudah selesai mandi, ia melewati kami dan langsung masuk kekamarnya. Lumayan lama. Kemudian gadis itu keluar juga menemui aku dan ibunya

Aku sempat termangu dibuatnya. Rupanya Retha sudah berdandan rapi. Baju yang kuberikan tadi dipakainya saat itu. Cantik. Serasi dengan tubuh Retha. Bau parfum semerbak memenuhi ruangan.

“wah, baju baru ni…emang kamu mau keundangan?” kataku menggoda Retha.😁😁
“ ya..gak lah, tadi katanya kita mau ke pulau!! sahut Retha sambil tersenyum kearah ibunya.
“kalian mau ke pulau??” kata ibu Retha sambil memalingkan pandangan kearahku.
“benar ibuk, tapi kalau di izinkan…” jawabku malu-malu.😁😁
“boleh…tapi syaratnya harus makan dulu, kalau gak mau berarti gak boleh! balas ibu Retha sambil tersenyum.

Akhirnya kami bertiga pun menuju kedapur untuk makan. Setelah selesai, aku meminta izin sekali lagi pada ibu Retha untuk membawa Retha jalan-jalan ke pulau. Kami di izinkan, namun katanya harus hati-hati dan jangan sampai terlalu sore.

Jam saat itu sekitar pukul 10.00. matahari bersinar dengan cerah. Aku dan Retha segera keluar dari rumah menuju motorku yang sejak tadi terparkir didepan. Lagi-lagi ada masalah, Retha memaksa ingin mengendarai motorku. Daripada berdebat lama, akupun mengalah. Hari itu aku dibonceng Retha. Tak apalah, sekali-kali dibonceng cewek, pikirku.😁😁

Lamunanku tiba-tiba buyar. Sakit sekali jika mengingat-ingat kenangan itu. Cerita ibu Retha tentang perbuatan Retha beberapa saat lalu tidak begitu merisaukanku. Yang membuat aku sedih adalah membayangkan bagaimana aku menjalani hari-hari kedepan tanpa kehadiran Retha. Aku pastinya akan sangat kesepian kehilangan dirinya.😭😭😭

Kutundukkan kepalaku sampai mencapai lantai meja didepanku. Dari rumah tetangga, sayup-sayup terdengar alunan lagu “pembaringan terakhir” yang sangat menyayat hati. Tanpa kusadari beberapa butir air mataku berjatuhan kelantai.😭😭😭

Retha 4

Temanku Eris (bukan nama samaran), terus memacu sepeda motor yang kami kendarai. Aku memintanya agar memacu lebih cepat lagi, soalnya buru-buru mau ketempat kerja. Dengan kecepatan sekitar 60-80 km/jam tak terasa dari kecamatan KJ yang cukup jauh, dalam waktu sekitar 30 menit saja kami sudah sampai dikampung.

Sebelum pulang kerumah, kami pergi ketempat kakek wakar untuk mengambil motor Eris yang kami titipkan tadi malam. Di sana, kakek wakarnya tidak ada, mungkin sudah pulang kerumahnya. Setelah menemukan motor Eris, kami pun berpisah untuk pulang kerumah masing-masing. Aku yakin, setiba dirumah pagi itu Eris akan langsung tidur, mungkin bisa tidur sampai sore. Soalnya kami semalaman belum tidur. Kalau sudah kebiasaan, Siang jadi malam, Malam jadi siang. 😁😁

Dirumahku, aku langsung di sambut ibuku dengan banyak pertanyaan. Saking bingungnya aku hanya bisa menjawab “Retha baik-baik saja”. Tampaknya ibuku sudah cukup puas dengan jawabanku itu.
Ngantuk? Tidak, aku saat itu sama sekali tidak ngantuk, hanya badan agak lemas. Mungkin pengaruh terlalu banyak yang dipikirkan.

Kuambil handuk lalu turun kesungai untuk mandi pada sebuah “rakit”. Setelah selesai, lalu naik kerumah, berpakaian, sarapan sedikit, aku langsung berangkat ketempat kerja.
Ditempat kerjaku hari senin pagi itu, aku disuruh pimpinan untuk menghadiri sebuah pertemuan dikecamatan K mewakili rekan kerja yang lain. Ada semacam pelatihan teknis tentang keuangan. Dengan sedikit terpaksa aku mau saja mengikuti perintah pimpinan. Beliau itu perempuan, lumayan galak soalnya…😁😁

Berangkatlah aku ke kecamatan K. Di sana acara pelatihan teknis sudah berlangsung sejak beberapa saat lalu. Aku sepertinya telat sekitar 10 menit. Tanpa melalui proses aku langsung diperbolehkan masuk untuk mengikutinya.

Didalam ruangan itu ada banyak sekali peserta yang lain. Kami yang ada disana dibentuk dalam beberapa kelompok, lalu diberikan tumpukan kertas yang isinya entah apa. Pokoknya banyak sekali.
Astaga, pikirku…. bakal lama nih,..😁😁
Bukan hanya aku sebenarnya, anggota kelompok lain juga terdengar riuh, sama-sama agak pusing mungkin.

Saat itu hape aku matikan deringannya, cukup menghidupkan getarannya saja biar tidak mengganggu kegiatan yang sedang berlangsung. Sejujurnya saat itu aku agak takut menyentuh hape. Takut kalau-kalau hape ada yang tetiba menghubungi mengabarkan berita buruk.
Walaupun masih memikirkan keadaan Retha, sedapat mungkin pikiran aku alihkan bekerja maksimal bersama teman-teman lain untuk menyelesaikan tugas kami.

Sekitar pukul 09.00. hape yang ada didepanku bergetar-getar. Aku menatap layar hape dengan agak takut. Sebuah nama panggilan dari nomor Heni kakak Retha. Melihat nama Heni memanggil, aku mengangkatnya dengan cepat. Pasti ada hal penting, pikirku. Hape kubawa keluar ruangan.

“halo,, ***** kamu dimana??” suara dari seberang.
“di kecamatan K, ikut pelatihan. Ada apa ya?” balasku
“kamu yang sabar ya *****, Retha sudah pergi meninggalkan kita jam 08.00 tadi, kalau bisa secepatnya kamu kesini, rencananya akan dimakamkan hari ini juga”. Suara Heni terdengar sedikit terisak-isak.😢😢
“yaa…..”. jawabku singkat dengan suara bergetar.😢😢
Panggilan pun diakhiri.

Jlebb…aku tersentak mendengar kabar itu. Aku benar-benar sok mendengarnya. Sesuatu yang kutakutkan terjadi juga. Tubuhku menjadi panas dingin. Jantung serasa berhenti bekerja. Tanganku gemetar. Antara percaya dan tidak percaya. Kuyakinkan diriku kalau ini hanya mimpi, ternyata tidak. Aku saat ini dalam keadaan sadar. Padahal baru beberapa jam lalu aku bersama Retha. Keadaannya juga baik-baik saja. Tidak mungkin dia pergi secepat itu. Tapii… bukankah berita ini dari keluarganya?? Mana mungkin mereka berbohong. 😢😢

Pada akhirnya aku harus percaya juga bahwa Retha saat ini memang benar-benar telah berpulang. Hatiku benar-benar sakit seperti diiris-iris dengan pisau. Mau nangis? Tapi sekarang aku sedang mengikuti pelatihan, akhirnya sekuat-kuatnya kutahan perasaan itu. Syukurlah Tuhan yang maha pengasih masih memberikan sedikit kekuatan hingga aku masih dapat bertahan. Kalau tidak, mungkin aku sudah pingsan.😢😢

Aku berusaha menenangkan diriku. Kutarik napas dalam-dalam berulang kali. Sedikit berhasil dan aku sudah dapat menguasai diri.

Aku lalu melangkah masuk kembali kedalam ruangan dengan perasaan hampa. Duduk diantara teman-teman yang sedang sibuk-sibuk melanjutkan tugas kelompok kami. Namun kali ini aku duduk bengong saja, tanpa melakukan apa-apa. Seorang teman yang mengamatiku rupanya penasaran dan menanyakan keadaanku. Aku hanya bisa menjawab bahwa aku sedang kurang enak badan dan sakit kepala. Teman-teman menyarankan agar aku minta izin pulang saja. Namun aku menolak. Tugas pun terus kami lanjutkan bersama untuk diselesaikan.

Pukul 12.00, berkat kerjasama kelompok, tugas yang diberikan dapat kami selesaikan dengan baik. Waktunya istirahat. Ada kemungkinan nanti diberikan lagi tugas kedua untuk dikerjakan pada sore hari.

Aku benar-benar sudah tidak tahan ingin secepatnya kerumah Retha. Aku langsung pulang tanpa pamit dan meminta izin. Aku tidak perduli lagi dengan pelatihan itu. Kupacu motor dengan kecepatan tinggi menuju rumahku

Sesampainya dirumah, dengan sedih kuberitahu ibuku bahwa Retha sudah meninggal. Ibuku kelihatannya sangat sedih juga. Walaupun begitu, ibuku yang baik hati tetap masih bisa membesarkan hatiku. Beliau menasehati agar aku bersabar dan secepatnya kerumah Retha. Tak lupa saat itu aku juga menelepon Eris mengabarkan berita yang sama. Kuminta ia bersiap-siap menemani aku untuk kesana.
Dari suara yang kudengar, aku tahu temanku itu juga ikut bersedih. Namun seperti biasa ia tak pernah menolak diminta bantuan.

Setelah ganti baju, aku menuju rumah Eris dengan sepeda motor untuk menjemputnya. Kulihat ia sudah bersiap-siap menungguku dipinggir jalan.
Sempat terjadi perdebatan kecil diantara kami. Eris tidak setuju kalau aku yang mengendarai kendaraan.
Ia sepertinya khawatir keadaanku. Bisa-bisa berbahaya. Namun aku terus memaksa, kukatakan bahwa diriku baik-baik saja. Seperti biasa, Eris akhirnya setuju tanpa bisa membantah lagi.

Dan memang benar, saat itu, anehnya keadaanku terasa baik-baik saja. Aku yakin tuhanlah yang sedang menolongku. Rasa sedih yang kurasakan sebelumnya sudah jauh berkurang. Hanya Ada rasa lemas kurang tenaga. Belum makan memang. Sama sekali tidak ada selera.
Setelah Eris duduk dibelakangku, mulailah aku menghidupkan mesin motor. Kami berboncengan berdua bergerak perlahan menuju ke kampung G. Tempat dimana Retha saat itu kubayangkan telah terbujur kaku.

Di perjalanan kesana, kutarik tali gas motor cukup dalam. Motor Jupiter MX King 150 yang kami kendarai melaju dengan kencangnya. Aku tak sempat melihat kecepatannya di speedometer. Eris sampai beberapa kali menepuk pundakku agar mengurangi kecepatan namun aku seakan tak perduli, karena ingin secepatnya ada disana. Untunglah tikungan demi tikungan dapat kami lewati dengan baik. Sampailah kami didepan rumah Retha dengan selamat.

Di rumah Retha tidak begitu banyak ada orang. Hanya ada sebuah tenda terpasang dan beberapa tetangga sedang sibuk mengambil piring-piring kotor. Sepertinya kedatangan kami telat. Paman Retha menghampiri kami. Di suruhnya aku pergi ke tempat pemakaman. Jaraknya sekitar 500 meter dan berada di samping sebuah Mesjid Besar. Tak sulit menemukan pemakaman itu karena memang berada dipinggir jalan umum. Hanya beberapa menit kami sudah ada di gerbang pemakaman yang berpagar putih. Motor pun segera kami parkir disamping pagar.

Dengan langkah ringan aku dan Eris langsung masuk. Keadaan disana sepi. Orang-orang sudah pada pulang. Terlihat ditengah-tengah pemakaman itu ada ibu Retha dan Heni kakaknya. Kami pun langsung mendekati mereka. Semakin mendekat, ibu Retha pun menyambut kami. Ibu Retha menatap sendu kearahku. Astaga…tuhan, aku baru sadar wajah ibu Retha ternyata mirip sekali dengannya. Rupanya wajah Retha menurun dari pihak ibu. Memandangnya serasa memandang Retha. Sedangkan adik-adik dan kakaknya tidak ada kemiripan sama sekali, mungkin menurun dari pihak bapaknya. Aku belum pernah bertemu ayah mereka karena sudah meninggal 5 tahun lalu. Sampai ketika itu, perasaanku masih baik-baik saja. Aku masih bisa menguasai diri

Perempuan tua itu pun berdiri ketika aku dan Eris sudah ada disampingnya. Aku pun mengulurkan tangan bermaksud menyalaminya. Tetiba saja perempuan tua itu langsung menyerbu kearah dadaku. Beliau memeluk aku dengan erat sekali. Aku sempat kaget, namun pada akhirnya kubiarkan dia terisak-isak sambil menghapus punggungnya untuk menenangkan. Aku tahu beliau sangat terpukul dengan kepergian Retha. Aku merasa benar-benar seperti anaknya. Sungguh aku sangat terharu sekali karena baru kali ini berpelukan dengan ibu orang lain. Setelah melepaskan aku, temanku Eris pun dipeluknya. Kulihat Eris sama terharunya denganku. Sampai ketika itu, aku masih dapat menguasai diri.

Dengan suara serak, mungkin karena terlalu lama menangis, ibu Retha menyuruh kami duduk pada sebuah tikar yang ada disamping kuburan Retha. Tak lupa aku dan Eris menyalami kakak Retha yang kulihat juga masih dengan wajah sedih. Dari kakak Retha itulah aku baru tahu kalau Retha sekarang dimakamkan disamping makam ayahnya. Aku pun segera memilih duduk bersimpuh pada sudut barat tepat disamping papan nisan yang bertuliskan nama Retha. Sampai ketika itu, aku sudah tidak dapat menguasai diri lagi.

Aku yang mengaku pantang nangis didepan orang lain, kali ini luluh juga. Hatiku benar-benar terasa hancur. Aku menangis diatas makam Retha sejadi-jadinya. Air mata tumpah dengan sendirinya tanpa bisa kutahan. Dunia terasa benar-benar sempit. Dadaku sangat sesak sekali oleh beban yang sangat berat. Kuusap-usap papan nisan yang ada didepanku sembari melantunkan doa untuknya, namun sayangnya karena terlalu sedih doa-doa yang selama ini aku ingat pada lupa. Hanya surah alfatihah saja yang dapat aku selesaikan. Akhirnya aku hanya bisa memilih memejamkan mata sambil berdoa dalam bahasa sehari-hari dalam hati. Sekitar satu jam berada disana, bersamaan dengan mulai turunnya gerimis, aku, Eris, kakak dan ibu Retha pun berencana untuk pulang. Sebelum meninggalkan tempat itu aku pun sempat berbisik pada makam Retha. Satu hal yang bisa kujanjikan, pada hari-hari mendatang aku akan sering mengunjungi untuk mendoakannya.

Setelah keluar dari area pemakaman kusuruh Eris membawa sepeda motor berboncengan dengan Ibu Retha agar lebih cepat sampai dirumah. Kasian saja dengan beliau karena cuaca sepertinya akan segera hujan deras. Aku sendiri berjalan kaki dengan Heni kakak Retha menuju rumah. Sepanjang perjalanan pulang aku bercakap-cakap dengan Heni. Ia menceritakan kejadian pagi itu. Dari ceritanya aku tahu bahwa pagi itu sekira sejam kemudian setelah kepergian kami, kondisi Retha berubah semakin buruk. Matanya yang awalnya terbuka kembali tertutup. Ia sangat kesulitan bernapas walaupun alat bantu pernapasan masih menempel dihidungnya. Namun alat itu sama sekali tak membantu. Dokter pun saat itu sudah berusaha menolong sebisanya. Dari keterangan dokter juga diketahui kalau sebenarnya paru-paru Retha sudah kolaps, itu diketahui dari bukti salah satu tulang rusuknya yang patah. Kemungkinan karena diinjak-injak orang pada malam itu. Darah dari paru-paru itulah yang keluar menyumbat kerongkongan sehingga Retha kesulitan mengambil udara. Belum sempat dibuatkan rujukan, napas Retha benar-benar hilang. Jantungnya berhenti berdetak. Ia sudah menutup mata selama-lamanya. Saat dibawa kerumah sekitar jam 09.00 darah segar keluar dari hidung dan mulut Retha. Kejadian itu berlangsung hingga jam 11 siang. Maka atas keputusan bersama pemakaman dipercepat tanpa sempat menunggu kedatanganku dan Eris.

Aku yang saat itu berjalan disamping Heni hanya bisa mengangguk-angguk kecil tanpa banyak komentar. Sempat terbesit penyesalan dalam hatiku kala itu mengapa tidak cepat-cepat pulang dari tempat pelatihan. Pada akhirnya kusadari, semua telah terjadi tanpa bisa diulang kembali. Aku pun memilih pasrah pada keadaan.

Hanya beberapa menit dari pemakaman, kami sudah tiba dirumah. Kami langsung masuk. Disana telah ada Eris bersama ibu Retha yang telah sampai lebih dulu. Adik-adik Retha juga ada di sana. Makanan sudah dihidangkan dihadapan kami. Tanpa menunggu lama kami disuruh menyantapnya. Eris yang duduk disampingku tampaknya makan dengan lahapnya. Kasian juga melihat temanku itu, demi menemani aku sampai harus kelaparan. Aku sendiri masih diam dengan berbagai hal yang memenuhi pikiranku. Walaupun lapar, untuk makan rasanya sulit sekali. Namun demi menghormati tuan rumah akhirnya aku mencoba juga memasukkan makanan itu dengan sendok kemulut. Rasanya entah kenapa benar-benar tidak enak. Persis rasa pasir. Baru dua sendok kecil aku pun menyudahinya. Aku hanya minum air putih sampai tiga gelas karena hausnya. Ibu Retha pun sama sepertiku. Beliau juga hanya makan sedikit sekali. Aku tahu beliau pasti masih sedih memikirkan anaknya yang telah tiada.

Sekitar pukul 14.00 gerimis yang sejak tadi turun berganti hujan yang mengguyur bumi dengan derasnya. Aku dan Eris terpaksa harus menunggu hujan reda baru bisa pulang. Sambil menunggu itulah aku dan Eris ngobrol dengan keluarga Retha. Kami diberitahu jika kasus Retha ini tidak akan diperpanjang. Pihak keluarga sudah sepakat tidak akan melaporkan pada polisi. Mereka akan berusaha mengikhlaskan kepergian Retha. Aku sendiri ketika itu hanya mengangguk setuju saja tanpa banyak komentar. Kalau harus jujur memang aku tidak setuju. Mengingat posisiku hanya sebagai teman Retha, tentu tidak punya hak untuk memaksakan kehendak.

Giliran ibu Retha bercerita kepadaku tentang Retha. Sebuah cerita perjalanan kehidupan Retha yang selama ini belum aku ketahui. Cerita yang diwaktu kedepan akan mengubah keadaanku. Aku pun mendengarkannya dengan seksama. 😢😢😢😢😢😢

Retha 3

Setibanya dirumah, sore itu aku duduk seorang diri disebuah kursi dalam kamarku. Kutundukkan kepala sampai menyentuh lantai meja kayu yang ada didepanku sambil memejamkan mata. Aku benar-benar sedang dalam kegalauan yang tak bisa diungkapkan kata-kata. Sedih. Sakit sekali. Sejak siang tadi aku belum makan apa-apa, namun rasanya sama sekali tak lapar. Melangkah keluar, untuk mandi pun, kakiku tak kuasa, seakan lemas tak berdaya. Segala hal membuncah didalam dadaku membuat napas semakin sesak.

Sayup-sayup dari rumah tetangga, terdengar alunan lagu dangdut yang semakin menyayat hati. Entah kenapa seperti kebetulan lagu yang diputar adalah “pembaringan terakhir” dari Gebby Parera. Beberapa liriknya yang kuingat berbunyi:
………………………………..
‘serasa petir menyambar ditengah terik matahari’
‘disaat aku mendengar kau telah menutup mata selamanya’
‘serasa sesak napasku ini’
‘seakan bumi berhenti berputar’
…………………………………
‘kini pembaringanmu, jadi tanah yang merah’
‘dihiasi malam-malam dingin’
…………………………………
‘ingin rasanya diriku jadi selimut malammu’
‘agar malam dingin menjadi malam yang hangat’

………………………………….
Mendengar alunan lagu itu membuat mataku semakin hangat. Pada akhirnya, beberapa butiran bening seperti meluncur dari kedua mataku, berjatuhan kelantai tanpa bisa kutahan. Aku benar-benar sesenggukan. Hanya ada nama Retha yang memenuhi pikiranku….😭😭

*Up…up…up….ni cerita sekali lagi melenceng jauh sekali, alurnya gak nyambung dengan part II woyy’,😖😖
seseorang protes mengagetkanku…….😱😱

Sorry, sorry, santuy ya gaess, jadi gini…..hmm, cerita zaman now emang gitu, alurnya tak teratur. Sengaja dibuat ‘mundur maju, maju mundur, maju mundur……cantik’..😁😁😂
Dibuat begitu untuk memainkan emosi pembaca, biar mereka masuk kedalam cerita lalu kebingungan, hahaaaa* paham ya say…………….

Oke, kembali kukatakan, bahwa antara aku dan Retha tidak ada hubungan istimewa selain hanya sebagai teman biasa. Lagian ini terjadi dalam mimpi, jadi tak perlu diprotes dan dihayati…😁

Terus, part II sudah baca ‘kan?
Sip, kita lanjut………….😁

Sepeninggal Devi dan Retha, aku masih dalam keadaan berdiri mematung tanpa tahu harus berbuat apa. Aku terus menatap sorot lampu motor mereka yang semakin menjauh, sampai benar-benar menghilang.
Aku kembali duduk ditangga sekolah menunggu janji Retha akan kembali. Untuk mengisi waktu segera kubuka hape Retha, membuka pesan masuk, namun sayang tak ada satupun pesan yang tersisa, kosong. Semua sms telah dihapus. WA juga kosong. Sedangkan akun Fb tak bisa dibuka karena kelihatannya sudah rusak. Sekitar sejam aku menunggu Retha yang tak kunjung datang, akhirnya aku pun memutuskan untuk pulang kerumah saja dengan jalan kaki. Aku berharap jika saja Retha kembali lalu tak menemukan aku disana, ia pasti akan menyusul kerumah. Letak rumahku tak begitu jauh dari gedung sekolah itu. Mungkin ada sekitar 300 meter saja. Sesampainya dirumah aku langsung membaringkan diri diatas kasur dengan pikiran yang masih kalut. Jam saat itu menunjukkan hampir pukul 23.00. Suara elektun masih kedengaran jelas walaupun dari jarak yang cukup jauh. Sepertinya music DJ sedang dimainkan.

Biasanya kan begitu gaess, ditempat kita ini kalau tengah malam saatnya music DJ menguasai panggung. Lalu kita akan melihat artis-artis seksi dan penontonnya akan berjoget menggila..😁😍😍
Waktu masih remaja dulu, inilah saat-saat yang dinanti…..asyik-asyik-asyik… 😁😂

Kembali pikiranku teralih pada Retha. Aku sangat khawatir dengan keadaannya. Kalau-kalau saja ada hal buruk yang menimpanya. Apalagi ini sudah tengah malam. Kucoba memejamkan mata untuk tidur saja, namun sungguh tak bisa. Cukup lama hal itu berlangsung hingga jam menunjukkan hampir pukul 24.00. Aku sendiri masih dalam pikiran yang kalut. Lalu segera kubuka hapeku untuk menelepon nomor hape Retha demi mengetahui keadaannya. Tersambung, tapi……….ya tuhan, hape Retha berdering diatas mejaku. Baru ingat ternyata, tadi kan hapenya dititip padaku,..😢😢

Setelah berpikir sejenak, aku lalu menelepon seorang teman dekat. Namanya Er**. Aku tahu ia masih ditempat acara. Aku yakin saat itu ia sedang bergoyang santuy bersama teman-teman lain…bisa jadi juga sedang nyawer artis-artis seksi.

Kalau pun dia sudah pulang, jam segini, temanku itu biasanya belum tidur. Kalau tidak nge-game ya, sedang berselancar didunia maya. Kebiasaan itulah yang membuat ia tidur lembur, selalu bangun kesiangan. Tidurnya bisa sampai jam 10 siang, hebat’kan?😁😂

Walau pun begitu dia adalah teman sejati, selalu ada dalam suka dan duka. Pertolongan apapun diminta, ia tak pernah menolak memberi bantuan.

*maaf ya Er**, jika kau baca cerita ini janganlah marah. Namamu masuk dalam cerita lebay, ngawur dan tak manfaat ini sebagai pelengkap saja biar lebih greget..😂😂

Tak berapa lama, suara tuuuut…….tuuuut diseberang sana ada juga yang mengangkat. Rupanya temanku itu sedang istirahat diwarung minum es. Katanya kelelahan habis joget beberapa lagu. Untunglah, pikirku. Kalau sedang asyik joget gak bakal diangkat nih.

Aku meminta Er** untuk segera datang kerumahku secepatnya. Ada urusan yang sangat penting dan mendesak. Tanpa protes Er** menyanggupi permintaanku. Telepon pun kusudahi. Beberapa saat kemudian suara sepeda motor matic sudah berhenti didepan rumahku. Aku segera keluar menghampiri Er**. Kami basa-basi sesaat sambil aku menceritakan kejadian barusan.

Aku kembali meminta tolong agar Er** menemani aku menuju kesuatu tempat sebagaimana tertulis di sms pada hape Retha. Bukan berarti aku penakut ya. Soalnya kalau berangkat sendiri, lalu ada ‘hantu urang’ bagaimana??😁😂

Lagian kalau ada yang menemani, kan lumayan bisa diajak bertukar pikiran seandainya terjadi hal buruk.😁

Aku dan Er**sangat tahu tempat itu. Soalnya kami sering berburu menembak burung disana. Tempat itu berupa sebuah bekas logpond perusahaan. Di sana banyak terdapat rongsokan alat-alat berat yang sudah lama tak beroprasi. Tanpa protes dan membantah Er** pun siap untuk menemaniku kesana.
Aku kembali masuk rumah mengambil senter. Lalu buru-buru mengeluarkan sepeda motor sendiri dari dalam rumah. Dengan sepeda motor masing-masing, beriringan kami menuju ketempat itu. Di lokasi perusahaan, kami langsung memarkir motor tepat didepan pos “Wakar” (sekuriti). Aku dan Er** sudah lama kenal orang yang menjaga tempat itu. Seorang kakek tua. Pendengarannya sudah tidak sejelas dulu. Matanya juga rabun, maklum bawaan umur.

Saat kami tiba, pintu pos wakar sedang tertutup, namun didalamnya seperti ada seberkas cahaya lampu. Kami tahu si kakek tua itu masih ada disana. Dan sepertinya ketiduran.

Aku lalu cepat-cepat mengetuk pintu pos itu. Pintu terbuka. Kakek tua itu sepertinya kaget dengan kedatangan kami. Dia lalu bertanya ada keperluan apa. Aku pun menceritakan semua hal yang baru saja terjadi. Bahwa kami kehilangan teman, dan mungkin saja ada disekitar sini. Beliau sepertinya tidak terlalu mengerti dan tidak tahu apa-apa. Namun beliau mau saja menemani kami untuk berkeliling di area perusahaan demi mencari keberadaan Retha. Mulailah kami bertiga, dengan memakai senter memeriksa setiap sudut di area perusahaan yang luasnya sekitar 1 hektar itu. Kami berpencar memeriksa setiap bagian, mulai dari sela-sela rongsokan kendaraan, sampai dibawah alat-alat berat, namun keberadaan Retha tak juga ditemukan. Kami akhirnya berkumpul kembali di pos. Lalu atas saran Er** kami kembali mencari Retha kebagian tengah Area, pada sebuah kolam kecil bekas galian alat berat. Setahuku kolam itu airnya dangkal. Kali ini kami lakukan bertiga menuju kesatu arah

Sesampainya kami di kolam kecil itu aku pun menyorotkan senter kearah tengah. Dan Astaga……..tuhan, diujung cahaya senter itu terlihat sesosok tubuh manusia. Seorang wanita. Benar saja, dialah Retha. Tubuh Retha terbaring telungkup ditepi kolam dalam kondisi memprihatinkan. Pada bagian bawah tubuhnya masih berada didalam air, sebagian lagi berada ditanah kering.
Aku dan Er** segera menghampiri tubuh Retha. Kami berdua lalu mengeluarkannya dari kolam. Si kakek tua sengaja kami minta untuk menyorotkan senter saja. Setelah keluar dari kolam kami langsung membawanya ke Pos wakar. Di sana tubuh Retha yang basah kuyub kami baringkan pelan-pelan pada sebuah bantal.

Aku benar-benar bingung melihat keadaan Retha, tak tahu mau melakukan apa. Dibawah cahaya lampu terlihat wajah Retha berdarah-darah. Terutama pada bagian hidung dan telinganya. Seperti habis dipukuli dengan benda tumpul. Baju yang dikenakan juga kelihatan kotor dan robek disana sini. Begitu juga dengan roknya seakan baru saja dirobek orang. Dari perkiraan kami bertiga, Retha kemungkinan besar dipukuli orang, atau mungkin diinjak-injak, dicekik, pakaiannya dirobek, setelah tak sadarkan diri lalu diperkosa dan dilempar orang kedalam kolam. Mereka meninggalkannya begitu saja. Beberapa saat kemudian ada kemungkinan Retha sadar, lalu dengan sisa-sisa tenaganya ia berusaha keluar dari kolam itu. Namun dengan tubuh yang rapuh, ia hanya mampu sampai ditepi kolam, kemudian berteriak minta tolong, tetapi tak ada yang seorangpun yang mendengarnya. Termasuk kakek wakar, karena pendengaran beliau memang kurang baik. Pada akhirnya Retha pun terkapar ditempat itu. Siapakah yang sampai tega melakukan ini pada Retha?

Rasa sedih, kasian dan takut benar-benar merasuki pikiranku kala itu. Kulihat wajah Er** dan kakek tua pucat pasi. Mereka sepertinya juga ketakutan. Takutnya Retha sudah tak bernapas lagi. Ditengah kebingungan itu perlahan aku meraba detak nadi pada tangan dan leher Retha. Syukurlah, detak nadinya masih ada. Segera kubuka baju kaus yang kupakai untuk mengelap darah pada wajah Retha sambil mengguncang-guncang tubuhnya dengan pelan. Sekarang dapat kudengar suara napasnya naik turun. Gerak turun naik jantung pada dadanya juga mulai terlihat. Kami bertiga sedikit lega. Segera aku dan Er** pamit pada kakek wakar untuk membawanya pulang. Sepeda motor Er** kami tititpkan disana. Dengan menggunakan sepeda motorku kami berboncengan tiga menuju rumahku

Setiba dirumahku tubuh Retha segera kubawa masuk. Seisi rumah kaget dengan kejadian itu. Kulihat jam dinding sudah menunjukkan lewat pukul 01.00. Tubuh Retha yang lemah lunglai tak berdaya kami baringkan diatas kasur. Keadaannya tak berubah, sama seperti tadi, hanya ada detak jantung dan sesekali suara menarik dan menghembuskan nafas. Matanya seperti tertutup rapat.

Atas saran keluarga, aku dan Er** harus secepatnya membawa Retha pulang kerumah orang tuanya di kampung G. Sebelum berangkat, lewat telepon, aku pun mengabari kakak perempuan Retha tentang peristiwa yang menimpanya. Aku juga meminta agar ia memberitahu ibunya mereka dan bersiap menyambut kedatangan kami. Aku segera berganti baju. Tubuh Retha pun kami selimuti dengan kain. Perjalanan cukup jauh akan kami tempuh malam itu.

Setelah semuanya siap Retha pun sudah kami naikkan diatas motor. Posisi Retha kami taruh duduk ditengah antara aku dan Er**. Temanku itulah sebagai jokinya. Sepeda motor kami bergerak perlahan menembus malam yang pekat dan dingin. Kabut malam itu cukup tebal menghalangi pandangan. Jalanan benar-benar sunyi, tanpa ada satupun kami berpapasan dengan kendaraan lain. Sekitar 30 menit sampailah kami dirumah Retha.

Di sana telah ada ibu, paman, kakak, adik-adik serta beberapa tetangga dekat rumah Retha menyambut kami dengan muka yang kelihatan sedih. Apalagi ibunya, sepertinya sejak dari tadi beliau menangis.

Aku mengenal semua orang-orang itu karena sudah sering mampir kerumah Retha.
Tak lama kami berada disana, tanpa dibawa masuk, kami diarahkan untuk langsung membawa Retha ke puskesmas terdekat dikampung itu. Setibanya dipuskesmas tubuh Retha langsung ditangani dengan sigap oleh beberapa perawat yang tugas piket malam. Tidak ada dokter atau mantri. Kami semua disuruh menunggu diluar ruangan. Aku yang saat itu masih dalam kebingungan mengintip dari kaca ruangan. Kulihat perawat memasang infus, lalu membuka dan mengganti pakaian Retha dengan kain warna hijau. Persis seperti orang yang sudah mati.

Beberapa saat kemudian, seorang perawat keluar menemui kami. Dia berbicara dihadapan kami mengenai kondisi Retha. Katanya ada penyumbatan di tenggorokan, kemungkinan semacam gumpalan darah beku. Harus secepatnya diberi oksigen lalu gumpalan itu akan dikeluarkan. Kalau tidak akan membahayakan nyawa. Sayangnya di puskesmas itu tabung oksigen terpakai oleh pasien lain. Jadi kalau kami setuju, Retha akan diberikan Rujukan untuk dikirim ke Puskesmas yang lebih lengkap di kecamatan KJ.

Tanpa pikir panjang seluruh keluarga menyetujuinya. Beberapa saat kemudian sebuah ambulan telah meluncur menembus kegelapan membawa Retha dan keluarganya menuju kesana. Aku dan Er** mengikuti dari belakang dengan sepeda motor. Jarak dari kampung G ke Kecamatan KJ tidak begitu jauh. Jalanannya juga mulus. Hanya sekitar 20 menit kami telah sampai.

Di sana ada 2 orang perawat piket dan satu orang dokter umum yang langsung menanganinya. Retha langsung dibawa masuk dalam sebuah ruangan. Sedangkan kami semua kembali disuruh menunggu diluar.

Sekitar setengah jam menunggu akhirnya para perawat dan dokter keluar juga dari ruangan.
Dihadapan kami dokter berbicara mengenai kondisi Retha. Katanya kondisi Retha cukup berbahaya. Menurut perkiraan dokter, ada sumbatan berupa gumpalan darah beku dikerongkongan menghalangi aliran udara pernapasan. Dan gumpalan itu harus dikeluarkan. Walau pun sudah diberikan udara melalui tabung oksigen, itu hanya cukup menolong beberapa saat saja. Namun kembali dokter menyampaikan bahwa itu baru perkiraan awal. Mereka akan tetap mengontrol perkembangan obat-obat yang diberikan beberapa saat kedepan. Bila tidak ada perubahan juga, maka akan dirujuk kerumah sakit di kota yang fasilitasnya lebih lengkap.

Masih penasaran, aku pun memberanikan diri bertanya mengenai kondisi luka-luka yang ada ditubuh Retha kepada dokter. Menurut jawaban dokter luka-luka yang berada diwajah dan kepala Retha tidak terlalu berbahaya, hanya beberapa pukulan benda tumpul, bisa juga pukulan tangan, semacam tamparan keras. Yang cukup berbahaya ada pada bagian leher, kemungkinan bekas dicekik dengan keras, bisa juga diinjak-injak dengan kaki. Namun sekali lagi itu perkiraan awal. Lalu apakah diperkosa?? Kataku. Dokter menjawab tidak menemukan ada bekas kekerasan dan pemerkosaan. Aku mengucap syukur dalam hati, bahwa kondisi Retha tidak seperti yang kuperkirakan.

Akhirnya dokterpun pamit meninggalkan kami menuju keruangan lain. Kami semua diperbolehkan masuk untuk melihat dan menjaga Retha. Setelah berada dalam ruangan itu, kulihat jam sudah menunjukkan hampir pukul 04.00 pagi. Udara dalam ruangan itu cukup hangat. Hanya ada Retha seorang sebagai pasiennya. Kami semua berdiri mengelilngi sebuah ranjang pasien yang diatasnya terbaring Retha dalam kondisi mata masih terpejam tak sadarkan diri. Sebuah selang kecil dari sebuah tabung besar menempel dihidung Retha sebagai alat bantu pernapasan telah terpasang. Dengan bantuan alat itu pula, kami tahu sekarang Retha sudah dapat bernapas dengan teratur. Melihat kondisinya yang sudah ditangani dengan baik kami semua sedikit bisa ikut bernapas lega.

Di samping ranjang Retha ada 2 kursi plastik yang sepertinya memang disediakan untuk penunggu pasien. Posisi kursi itu berada dikanan dan kiri kepala pasien. Entah kenapa saat itu kakak Retha menyuruh aku dan ibunya untuk duduk pada kursi plastik itu. Sedangkan yang lain, semua duduk dilantai puskesmas yang terbuat dari keramik.

Sambil menunggu disamping Retha tak lupa aku berdoa kepada tuhan dalam hati agar nyawa Retha diselamatkan. Setiap aku menatap wajah Retha, rasa sesak memenuhi seluruh dadaku. Ingin rasanya aku menangis keras, namun kutahan sekuat tenaga. Sudah jadi prinsip cowok pantang nangis dihadapan cewek, apalagi dihadapan orang banyak. Tak boleh lembek, harus berdiri kokoh apapun keadaanya. Kalau tidak kokoh, bagaimana mungkin bisa menguatkan orang lain. Jadi rasa itu kutahan sekuat-kuatnya, dan untunglah berhasil.

Kualihkan pandangan pada ibu Retha, beliau perempuan paruh baya, umurnya mungkin sekitar 50-an, lebih muda dari ibuku. Aku biasa memanggilnya mamak Retha. Kesedihannya seperti agak berkurang. Hanya matanya saja yang masih sembab. Aku mengenal seluruh keluarga Retha. Karena sudah sering datang kerumahnya. Retha hanya punya Ibu, 2 adik laki-laki yang masih sekolah di SMP, dan satu kakak perempuan yang sudah bersuami dan punya anak dua. Mereka tinggal dalam satu rumah. Sedangkan Ayah Retha sudah meninggal sekitar 5 tahun lalu.

Perlahan dengan agak-agak takut aku menyapa ibu Retha didepanku sambil minta maaf karena tak mampu melindungi Retha. Asli saat itu aku takut dimarahi. Selain itu aku juga khawatir keluarganya menyalahkan aku, atau kemungkinan terburuk menganggap aku dan Er** adalah pelaku yang membuat kondisi Retha seperti ini.

Syukurlah, ibu Retha ternyata menanggapinya dengan baik. Mereka sama sekali tak menyalahkan apalagi menuduh kami pelakunya. Malahan mereka berterima kasih karena kami berdua telah mau mengantarkan Retha dalam kondisi itu kerumah. Orang lain, walaupun ketemu belum tentu mau menolong. Ibu Retha hanya meminta agar aku menceritakan peristiwa itu apa adanya.

Terimakasih tuhan, satu beban pikiran telah terlepas. Aku benar-benar bersyukur sekali.
Aku pun menceritakan kejadian itu dari awal hingga akhirnya kami menemukan Retha. Mendengar penuturanku, sepertinya ibu Retha tidak terkejut. Beliau hanya menanggapi biasa saja. Begitu juga kakak dan adik-adik Retha. Tidak ada respon berlebihan. Aku dan Er** cukup heran. Ada apa sebenarnya?

Jam mendekati pukul 05.00 pagi terdengar suara adzan dari masjid yang cukup dekat. Mengingat keadaan saat itu aku memilih tidak menunaikan shalat, namun lebih memilih menjaga Retha saja. Ibu Retha juga sepertinya tidak berniat untuk shalat subuh. Mungkin beliau juga berpikiran sama, masih khawatir keadaan Retha. Sampai akhirnya waktu shalat pun berlalu dengan sempurna.

Setengah jam kemudian dokter masuk keruangan untuk mengecek keadaan Retha. Hasilnya menurut dokter sudah lebih baik. Tekanan darah normal, kondisi napas juga baik-baik saja. Tampaknya tidak perlu dirujuk. Dan benar saja, beberapa saat setelah dokter pergi Retha sudah bisa membuka matanya. Tangannya bergerak-gerak seperti ingin menyentuh sesuatu. Ibu Retha benar-benar gembira melihat keadaan anaknya itu. Begitu juga saudaranya yang lain. Lebih-lebih diriku, anehnya aku malah ingin menangis bahagia saking gembiranya. Kusentuh tangan kirinya dengan hati-hati, karena disanalah jarum infus tertancap. Aku tak ingin Retha kesakitan. Kulihat matanya melirik kearahku walaupun masih dalam kondisi lemas sekali. Kulihat juga mulut Retha seperti bergerak-gerak ingin mengucapkan sesuatu. Walaupun aku dan ibu Retha sudah mendekatkan telinga kemulutnya tidak sedikitpun ada kata-kata yang terdengar selain suara hembusan angin. Sepertinya benar kata dokter, bahwa ada sesuatu yang menyumbat dikerongkongannya. Aku pun membuang jauh semua pikiran buruk, yang penting Retha baik-baik saja.

Jam menunjukkan pukul 06.00. Matahari telah mulai mengintip dari arah timur. Namun cahayanya masih terhalang dedaunan rimbun pepohonan. Pagi itu udara benar-benar sejuk. Seiring kondisi Retha yang semakin membaik, pagi ini benar-benar sempurna, pikirku

Aku dan Er** berencana ingin segera pulang. Senin pagi itu aku harus ada ditempat kerja pada pukul delapan. Kami berdua pamitan dengan keluarga Retha. Menyalami mereka satu persatu. Untuk Retha, aku juga menyalaminya. Retha merespon sentuhanku dengan baik. Namun saat aku membisikkan kata-kata penyemangat didekat telinganya, kulihat beberapa butir airmatanya meleleh keluar. Entah apa yang ada dipikirannya saat itu. Sebuah isyarat? Aku tak berani menebaknya.

Melihat keadaan Retha didepanku, ingin rasanya aku menciumnya sekedar memberi kekuatan seperti di film-film atau sinetron, tapi keadaan sangat tak memungkinkan. Akhirnya aku memilih untuk merapikan rambutnya yang terurai sambil tersenyum.

Setelah keluar dari tempat itu aku dan Er** memulai perjalanan kami untuk pulang kekampung halaman. Kembali Er** yang kusuruh mengendarai motor, sedangkan aku memilih duduk dibelakang. Entah kenapa perasaan tidak enak kembali menyeruak kedalam pikiranku. Aneh saja, padahal kondisi Retha sudah lebih baik. Seharusnya aku bahagia. Namun rasa khawatir benar-benar tak bisa kuhilangkan disepanjang perjalanan. Jika saja hari ini tidak bekerja ingin sekali aku terus berada disamping Retha. Belum lagi soal respon keluarganya yang terkesan biasa saja saat aku menceritakan peristiwa malam itu. Ada apa dalam keluarga Retha?

Retha 2

Siang itu langit sejak pagi tidak bersahabat. Mendung seakan melingkupi bumi. Butiran gerimis mulai turun membasahi sebuah gundukan tanah merah. Aku duduk bersimpuh di hadapan sebuah papan nama yang tertancap diujung gundukan tanah itu. Aroma bunga dan daun pandan semerbak tertiup angin kearahku perlahan. “RETHA, JANUARI 2020”. Benar, disanalah tubuh Retha terbaring dalam tidur panjangnya. 😢😢

Aku menghela napas berkali-kali. Dada terasa sesak oleh beban yang sangat berat. Kuusap nisan yang masih baru itu sambil melantunkan doa untuknya………………😭😭

Stop, stop…. Alur ceritanya melompat terlalu jauh ini,..
gak nyambung dengan cerita pertama.😁😁

Oke, maaf..maaf, soalnya penulis dalam suasana galau, harap dimaklumi..😢😢
Cerita kemarin sampai mana ya?? Ada yang ingat gak. Kalau gak ingat baca ulang saja.. heheee
Sebelum baca lanjutannya disarankan putar lagu “sebuah nama” dari Intan Ali.
 Mantap gaess.. 😁😁

Namanya Retha. Benar sekali. Si gadis yang kusebut imut-imut, kecil-kecil buah anggur itu. Kukatakan lagi pada kalian pembaca, antara aku dan Retha tidak ada hubungan yang istimewa kecuali sebagai teman biasa saja. Alis matanya yang tebal. Lesung pipit diwajahnya. Rambutnya hitam dan panjang terurai. Semerbak aroma sampo tercium tertiup angin saat kami duduk-duduk ditangga sekolah. Kala itu ia memakai baju atasan berupa dress warna agak kuning. Lalu dipadu dengan rok dibawah lutut warna hitam. Seandainya siang hari akan nampak sekali pesonanya. Aku mengagumi penampilan Retha malam itu. Jangankan aku, kalian laki-laki yang membaca cerita ini andai saat itu ada disana, walau sudah menikah, bakal berencana untuk poligami..🤣🤣

Suasana ketika itu yang sebelumnya mendung pekat, perlahan awan tebalnya mulai berkurang. Namun rembulan seakan masih malu-malu untuk menyorotkan sinar emasnya. Aku dan Retha masih dalam diam dengan pikiran masing-masing. Aku sejak tadi termangu memperhatikan wajah Retha yang kelihatan sedih itu akhirnya mulai mengajaknya ngobrol demi mencairkan suasana. Betapa senangnya melihat Retha sudah mulai kembali ceria lagi. Apalagi Retha sampai berkali-kali memukul pundakku dengan manjanya karena mendengar ejekanku. Oh..tuhan, rasanya aku ingin meledak..😂😂

Keadan berubah ketika kami dikagetkan bunyi dering hape Retha. Sebuah pesan singkat masuk ke hapenya. Segera dibukanya pesan itu. Bersamaan juga kulihat wajah Retha kini berubah pucat bermuram durja. Ia kembali kepada kesedihan yang tadi. Aku hanya bengong sesaat tak tahu apa yang terjadi. Dengan penasaran kuambil hape itu dari tangan Retha. Pesan itu berasal dari nomor tanpa nama

Dan isinya…😱😱…….sulit gaess, maksudku sulit untuk dibaca karena hape Retha memakai huruf dengan Font gaul hape zaman now.😁😁

Aku kesulitan membacanya apalagi dengan tulisan yang cukup panjang. Belum selesai aku membacanya Retha tetiba saja merebut hape itu dari tanganku dan langsung menghapus pesan tadi.
Walau pun demikian aku sudah dapat memahami inti dari pesan itu, isinya “seseorang atau mungkin banyak orang, ingin Retha menemui mereka secepatnya disuatu tempat yang aku sendiri tahu ada dimana. Harus datang sendiri.“ Itu saja yang dapat kuingat.😢😢

Aku yang saat itu penasaran setengah mati dengan apa yang terjadi masih dalam kebingungan harus berbuat apa. Setelah sedikit menenangkan diri. Aku pun bertanya perlahan kepada Retha ada masalah apa yang sebenarnya. Kulihat Retha hanya menggeleng. Masih belum puas, kucoba untuk bertanya lagi. Namun kali ini Retha menanggapinya dengan sedikit kasar membuat aku terdiam. Katanya “jangan ikut campur”. Aku pun mengalah, mengurungkan niat untuk bertanya. Kuamati wajah Retha sembari mendekat. Kasian sekali. Sungguh trenyuh hatiku melihat Retha sekarang sesenggukan menangis.😢😢

Berkali-kali ia mengusap air mata dengan tangannya sendiri. Astaga. Aku harus berbuat apa, tuhan. Ingin rasanya aku memeluk saja tubuh Retha yang mungil itu. Sekedar mungkin bisa berbagi sedikit kesedihan dan menenangkanya, Tapii………….setelah dipikir-pikir sungguh tidak pantas dan terkesan curi-curi kesempatan saja. Bukankah aku dan dia hanya sebatas teman? Akhirnya akupun memutuskan untuk pelan-pelan menyibak rambut panjangnya keatas telinga. Semakin nampaklah wajah yang sedih itu. Kuhapus pelan-pelan pundak kirinya. Retha pun kini memalingkan wajah kearahku. Syukurlah kulihat sedikit perubahan diwajahnya, lebih baik dari tadi. Sesenggukannya pun berhenti. Kucoba tersenyum kearahnya, namun Retha seperti tak merespon sama sekali.😢😢

Aku kini masih dalam suasana bingung. Segala hal berkecamuk dalam pikiranku yang penuh tanda tanya tentang Retha. Kembali kulihat Retha membuka hapenya lalu menelepon temannya minta dijemput dan diantar kesuatu tempat seperti di dalam pesan tadi. Ia juga memberitahukan posisi kami. Tak berapa lama sebuah sepeda motor matic berhenti dihadapan kami. Dia adalah teman Retha, seorang cewek, namanya Devi. Aku juga sudah mengenalnya. Rasa penasaran membuat aku bangkit dari tempat duduk menghampiri Devi. Aku menyongsong Devi dengan banyak pertanyaan tentang apa yang terjadi. Namun perempuan itu seperti tidak perduli. Entah pura-pura tidak mendengar atau mungkin memang tidak mendengar karena saat itu mesin motornya masih hidup.

Retha pun mulai bangkit dari duduknya menuju kearah Devi yang masih menunggu diatas motornya. Saat Retha akan menaiki motor itu dari arah belakang, refleks saja aku memegang tangannya, bermaksud untuk menghentikannya. Masih kuingat tangan itu betapa lembut. Hanya satu kata yang sempat keluar dari mulutku “Retha…….,”. Kata itu berhenti begitu saja, tanpa tahu harus dilanjutkan dengan kalimat apalagi karena tenggorokanku kini seakan tercekat. Retha pun seperti mengerti kekhawatiranku sembari membalas menggenggam tanganku dengan erat sambil berbisik agar aku tak usah mengikuti mereka. Ia berjanji akan kembali. Sebagai bukti janjinya akan kembali, hape Samsung Galaxy miliknya dititipkannya padaku. Perlahan kulepaskan genggaman lembut tangan Retha sembari menerima hape itu.😢😢

Kini motor matic yang membawa mereka perlahan bergerak kearah barat meninggalkan aku yang masih berdiri mematung seorang diri dengan perasaan tak menentu. Aku terus menatap kepergian Retha sampai sorot lampu motor mereka hilang dikejauhan. Dinginnya desiran angin malam berhembus perlahan kearahku yang masih kebingungan dengan sejuta tanya yang belum terjawab hingga tulisan ini dibuat. 😢😢

*santai gaess, belum selesai, kita masih akan menemukan cerita tentang Retha. Tetapi kapan? Dan di mana?* 😭😭

Retha

Namanya Retha. Sedikit gambaran yang kuingat tentangnya. Seorang gadis manis, rambutnya panjang, sorot matanya tajam. Bentuk tubuhnya biasa saja. Malahan pendek. Kalau berdiri didekatku ukuran tingginya gak sampai sebahuku.😊

Yah begitulah, soalnya badanku memang lumayan tinggi, sekitar 170 cm. Dengan berat 63 kg.😁
Bawaan lahir, gak bisa dirubah walaupun aku sebenarnya pengen badan yang lebih pendek. 😁
Ganteng?? Gak juga.. pas-pasan, pokoknya cukup untuk menikmati indah dunia. 😁
Oke, kembali ke si gadis bernama Retha.
Cantik?? Gak terlalu sih, biasa saja. Imut-imut gitulah, 😁😁 boleh dibilang kecil-kecil buah anggur. 😁

Tapi ada keistimewaanya yang jarang kutemukan diantara teman2 perempuan yang pernah ku kenal. Apakah itu?
Bahasanya. Yup, gaya berbicaranya, asli lemah lembut dan pelan sekali. Lagipula kalau tersenyum aduuuhh..lesung pipitnya.. 😍😍

Sebenarnya gak ada hubungan apa2 antara aku dan dia, hanya gadis didalam mimpiku semalam.. 😁😁😂😂

Retha, yup, ia hanya seorang gadis didalam mimpiku semalam. 😁
Kemarin malam, ada acara elektun di tempat acara pernikahan. Kebetulan sejak sore, badanku meriang. Rasa-rasanya bakal kena filek. Maka aku pun minum obat INZ* langsung 2 biji. sudah kebiasaan. Kalau cuma sebiji gak berasa efeknya. Aku lalu mutar film di laptop. Kebetulan baru download film terbaru. *Maleficent (2019)*. Seru memang. Sambil nungguin si ngantuk datang eh, malah ketiduran.

Di sanalah Retha tetiba aja hadir. Aku saat itu merasa sedang ada dikeramaian acara elektun. Lalu tetiba juga aku lagi asyik nonton elektun berdiri berdua sama Retha. Tak tahu bermula darimana, kenalan juga gak, aku langsung tahu namanya Retha. Ia juga langsung tahu namaku. Kan cuma mimpi, gak usah bingunglah.. 😁😁

Ada sekitar sejam kami berdiri disana. Akhirnya Retha mengajak aku jalan2 ketempat yang lebih tenang. Cuma jalan kaki sekitar 200 meter jauhnya dari tempat acara. Lalu mampirlah kami di warung. Tempat itu sepi. Hanya ada ibu penunggu warung dan anaknya yang masih kecil. Retha lalu memesan bakso, katanya perutnya lapar sekali. Maklum rumahnya jauh. Ia berasal dari kampung G. Tadi gak sempat makan, buru2 sekali karena cuma ikut temannya. Aku sendiri cuma memesan teh es. Biarpun malam, haus banget habis desak-desakan ditempat hiburan tadi. 😁

Disela-sela Retha makan bakso, kami ngobrol. Cerita hal2 lucu. Yang membuat kami berdua kadang ketawa terbahak-bahak. Pokoknya asyik aja.😁
Perlu kalian tahu aku dan Retha ini tidak pacaran, tidak ada hubungan selain teman seperti yang kuceritakan tadi.

Selesai makan bakso, kami pun meninggalkan warung tersebut. Namun Retha tidak mau kembali ketempat acara. Ia malah mengajak aku jalan2 lebih jauh lagi dari tempat itu. Sepanjang jalan tangan Retha malah bergelayut menggandeng tanganku. Astaga.. jantungku berdebar tak karuan. Debarannya seakan masih ada hingga kini. 😍

Aku berusaha menenangkan diri. Sepanjang jalan juga kami tidak bicara apa2. Aku memperhatikan wajah Retha. Alangkah indahnya kau ciptaan tuhan. Apakah aku mulai jatuh cinta padanya??
Rasanya belum, suka,, mungkin iya. Kalau begitu apa bedanya?? 😂😂

Sepanjang perjalanan kami bertemu dengan kumpulan pemuda2 yang nongkrong pinggir jalan. Setiap bertemu mereka, ada saja yang berteriak menyebut nama Retha. Rupanya Retha banyak punya kenalan. Ia hanya menanggapi panggilan itu dengan tersenyum. Yang menyedihkan diantara suara2 panggilan itu ada yang memanggil dengan sebutan "LONT*". Aku kaget bercampur sedih. Masa iya Retha adalah Lont*? Begitu pikirku.
Tidak, tidak, Retha adalah gadis baik2, aku sudah lama mengenalnya. Aku berusaha menenangkan diri.

Kami pun sudah sangat jauh meninggalkan tempat acara. Lalu kuajak ia berhenti disebuah tempat sepi, yaitu sebuah gedung sekolah. Kami pun duduk2 ditangga sekolah itu. Kuamati wajah Retha. Sekarang yang kulihat wajah Retha tidak seceria beberapa saat yang lalu. Ia kelihatan murung, seperti orang yang sedang punya segudang masalah. Namun demikian tetap saja kesan ayu tampak diwajah yang sedih itu.😥😥

Hening...aku dan dia tidak ada yang bicara. Kami seperti sedang menyimpan tanya dalam hati. Aku pun menghela napas panjang, lalu mulai berbicara. Kutanya tentang sekolahnya. Aku sudah tahu Retha masih sekolah, tepatnya SMA kelas 2 di desa Kecamatan KJ. Sengaja bertanya demikian untuk mengalihkan pikiran Retha. Dan berhasil. Retha pun langsung meresponnya. Wajahnya sudah mulai ceria lagi. Ia bercerita tentang lomba yang diadakan disekolah. Lomba kebersihan kelas dan mereka sangat senang dapat juara 3 padahal hanya diikuti oleh tiga kelas. Lumayanlah katanya daripada gak dapat apa2. Aku merespon dengan ketawa terbahak2.. soalnya lucu aja, kan pesertanya cuma 3, juara 3 apanya yang istimewa. 😁😁

Retha pun kelihatannya hanya senyum2 menerima ejekanku, sambil memukul2 pundakku.
Ditengah2 candaan itu tetiba hape Retha berdering. Nada deringnya lagu *kau tercipta bukan untukku*. Kebetulan aku sendiri sangat menyukai lagu itu. Rupanya ada sms masuk dari temannya. Sekilas kulihat wajah Retha berubah menjadi murung bersedih. Karena penasaran kurebut hape itu dari tangannya untuk membaca pesan itu.